VIVA – Media Vietnam menilai tahun 2025 sebagai periode penuh kegagalan bagi Timnas Indonesia, baik di level senior maupun kelompok umur.
Selain kegagalan di lapangan, mereka juga menyorot pergantian pelatih, dinamika internal federasi, hingga hasil kompetisi usia muda yang dinilai memperlihatkan krisis di tubuh sepak bola Indonesia sepanjang 2025.
Kegagalan di berbagai ajang Asia Tenggara hingga level yang lebih luas disebut sebagai biang kerok, ditambah lagi sederet permasalahan lain baik di dalam maupun di luar lapangan.
- VIVA.co.id/Andrew Tito
Media Vietnam, TheThao247.vn juga menyorot perubahan di kursi pelatih tim nasional senior. Pemecatan Shin Tae-yong dan penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih baru dinilai sebagai titik balik yang justru memperdalam masalah. Dampak pergantian tersebut, menurut mereka, turut merembet ke kelompok umur di bawahnya.
Timnas U-23 menjadi contoh. Di bawah asuhan Gerald Vanenburg, Indonesia dinilai gagal memenuhi ekspektasi. Alih-alih meraih prestasi, Indonesia harus menerima dua hasil mengecewakan dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Kegagalan pertama terjadi di Piala AFF U-23 2025, saat Indonesia berstatus sebagai tuan rumah namun gagal meraih gelar juara. Tak lama berselang, kegagalan berikutnya datang ketika timnas U-23 tidak mampu lolos ke Piala Asia U-23 2026.
Dari titik inilah, Indonesia dicap mengalami kekalahan memalukan, bahkan disebut telah menghancurkan mimpi tampil di Piala Dunia 2026.
“2025 menjadi kenangan pahit bagi sepak bola Indonesia, baik di level senior maupun U-23, mimpi Piala Dunia mereka hancur, dan kualifikasi ke kompetisi Eropa pupus” tulis mereka.
Menurut media tersebut, luka yang dialami sepak bola Indonesia sepanjang 2025 tidak sebanding dengan prestasi yang bisa dibanggakan. Tahun itu disebut lebih dikenang karena keruntuhan tim nasional dari level senior hingga junior, bukan karena capaian di lapangan.
Sorotan tajam tak berhenti pada hasil pertandingan. Media Vietnam menilai drama internal federasi justru menjadi puncak masalah. Keputusan PSSI memecat Shin Tae-yong dan menggantinya dengan Patrick Kluivert disebut sebagai kebijakan yang membuat Indonesia kehilangan identitas permainan.





