REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi banyak ibu baru, momen keramas atau sekadar menyisir rambut bisa menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Pemandangan segenggam rambut yang terlepas di sela-sela jari bukan lagi hal asing.
Fenomena ini nyata, dan jika Anda mengalaminya, Anda tidak sendirian. Menurut data dari National Institutes of Health (NIH), lebih dari 90 persen wanita mengalami rambut rontok pascapersalinan. Meski terlihat mengkhawatirkan, para ahli menekankan bahwa kondisi ini sangat normal dan bersifat sementara.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Menengok 2025: Jumbo Cetak Sejarah, Agak Laen Patahkan ‘Kutukan’, dan Dominasi Simfoni Timur
- Kanker Paru Kini Incar Perempuan Muda di Bawah Usia 50 Tahun
- BTS Umumkan Tanggal Comeback 20 Maret 2026
Dokter spesialis kulit bersertifikat di Greenwich, CT, Kim Nichols, MD, FAAD, mengatakan kerontokan ini sebenarnya adalah proses alami tubuh. “Kerontokan pascapersalinan adalah penyetelan ulang alami dari siklus rambut. Ini bukan tanda kerusakan permanen, melainkan cara tubuh Anda menyesuaikan diri kembali setelah masa kehamilan,” ujar dr Nichols dikutip dari Women's Health pada Kamis (1/1/2026).
Selama hamil, banyak wanita merasakan rambut mereka menjadi lebih tebal dan berkilau. Hal ini terjadi karena kadar estrogen yang melonjak tinggi menjaga rambut tetap berada dalam fase pertumbuhan lebih lama dari biasanya. Estrogen, kata dia, bertindak seperti payung pelindung di atas siklus rambut selama sembilan bulan.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Begitu bayi lahir, kadar estrogen turun drastis. Akibatnya, rambut-rambut yang sebelumnya "tertahan" di fase pertumbuhan secara bersamaan masuk ke fase kerontokan. “Begitu efek perlindungan itu berakhir, helai rambut yang tertahan akan dilepaskan secara bersamaan, mengakibatkan lonjakan kerontokan yang biasanya mencapai puncaknya sekitar tiga hingga empat bulan setelah melahirkan,” ujar dr Nichols.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/3380435/original/060063000_1613636027-20210218-Langit-mendung-Jakarta-IMAM-2.jpg)
