AIxiety: Kecemasan Generasi Z Menghadapi Masa Depan Kerja

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) terasa semakin dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bagi Generasi Z (Gen Z)—terutama pelajar dan mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja—kemajuan teknologi ini tidak selalu datang dengan rasa optimistis.

Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, muncul kegelisahan tentang masa depan: Apakah pendidikan yang sedang kita tempuh masih relevan dan apakah pekerjaan yang kita impikan masih tersedia dalam beberapa tahun ke depan? Kecemasan inilah yang kini dikenal sebagai AIxiety.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, kita terbiasa hidup dengan internet, media sosial, dan berbagai inovasi berbasis AI. Namun, kedekatan tersebut tidak otomatis membuat kita siap menghadapi dampaknya. Justru karena kita melihat secara langsung bagaimana AI mampu menulis, mendesain, menganalisis data, bahkan mengambil keputusan, kekhawatiran akan tergesernya peran manusia menjadi semakin nyata. Profesi yang dulu dianggap aman kini mulai dipertanyakan keberlangsungannya.

Kegelisahan ini sering kali terasa lebih kuat di lingkungan pendidikan. Banyak pelajar dan mahasiswa mulai mempertanyakan pilihan jurusan dan arah karier sejak dini. Tidak sedikit yang merasa takut salah langkah, takut tertinggal, atau takut tidak mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.

Tekanan tersebut semakin diperparah oleh media sosial yang kerap menampilkan kisah kesuksesan anak muda di usia yang sangat muda, seolah kegagalan dan proses panjang tidak memiliki tempat.

Dalam situasi seperti ini, AIxiety bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan juga persoalan mental dan emosional. Kita mulai mempertanyakan nilai diri sendiri: Apakah belajar masih penting jika mesin bisa melakukan banyak hal lebih cepat? Apakah manusia masih dibutuhkan di masa depan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul, terutama ketika masa depan terasa semakin tidak pasti.

Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman bukanlah cara pandang yang sepenuhnya tepat. AI tetap bekerja berdasarkan data dan perintah manusia. Ia tidak memiliki empati, nilai moral, maupun kepekaan sosial.

Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan masih menjadi kekuatan manusia yang sulit digantikan. Sayangnya, aspek-aspek ini sering kali kurang mendapat perhatian dalam sistem pendidikan yang masih menitikberatkan pada capaian akademik dan keterampilan teknis semata.

Sebagai pelajar dan mahasiswa, kita sering dituntut untuk cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi jarang diberi ruang untuk membicarakan ketakutan yang menyertainya. Padahal, kesiapan menghadapi masa depan tidak hanya soal menguasai teknologi, tetapi juga tentang ketahanan mental dan pemahaman nilai kemanusiaan. Tanpa hal tersebut, adaptasi justru bisa berubah menjadi tekanan yang melelahkan.

Di tengah kondisi ini, sebagian dari kita mulai mencoba mengubah cara pandang. AI tidak lagi dilihat sebagai pesaing, melainkan sebagai alat bantu. Teknologi dimanfaatkan untuk belajar lebih efektif, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang baru. Pendekatan ini menunjukkan bahwa masa depan tidak harus menjadi pertarungan antara manusia dan mesin, tetapi menjadi kerja sama yang saling melengkapi.

Meski demikian, upaya tersebut tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Dunia pendidikan, lingkungan sosial, dan pembuat kebijakan perlu menghadirkan narasi yang lebih manusiawi tentang masa depan kerja. Diskusi tentang AI seharusnya tidak hanya berbicara soal efisiensi dan keuntungan, tetapi juga tentang dampaknya terhadap kesehatan mental dan arah hidup generasi muda.

AIxiety seharusnya dipandang sebagai alarm, bukan tanda kelemahan. Alarm bahwa dunia sedang berubah dan kita perlu mempersiapkan diri secara lebih utuh. Gen Z—termasuk pelajar dan mahasiswa hari ini—bukanlah generasi yang rapuh, melainkan generasi yang hidup di masa transisi paling kompleks.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo ke Pengungsi di Tapsel: Presidenmu Tak Pernah Meninggalkan Kalian
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Sebulan Pascabanjir, Bea Cukai Menyalurkan Bantuan ke Pantee Lhong dan Blang Panjoe
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
PNM perkuat program pemberdayaan selama 2025
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Zohran Mamdani Resmi Dilantik Secara Simbolis Jadi Wali Kota New York City
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG 1 Januari 2026: Waspada Hujan Petir di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi
• 12 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.