Refleksi Kehidupan Madani: Adab Publik, Kejernihan Niat, dan Kompas Al-Quran

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita
Persatuan Itu Modal, Bukan Slogan

Indonesia tidak dilahirkan dari satu warna. Tumbuh dari perjumpaan banyak rupa: bahasa, suku, adat, keyakinan, dan pengalaman sejarah yang berlapis. Sejak awal, kebangsaan ini belajar berdiri bukan dengan meniadakan perbedaan, melainkan dengan merangkainya. Persatuan menjadi simpul yang menyatukan yang beragam, bukan untuk menyeragamkan, tetapi untuk memberi arah bersama. Dari simpul itulah sebuah bangsa menemukan keberaniannya.

Zaman bergerak cepat. Layar-layar menyala, jarak seolah menghilang, percakapan melintas tanpa jeda. Namun kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kejernihan. Teknologi menyatukan pandangan mata, tetapi sering kali mengaburkan pandangan kalbu. Ruang publik dipenuhi suara, tetapi tidak selalu dipenuhi makna. Bangsa ini memiliki ribuan bahasa daerah; ironisnya, belakangan terdengar satu bahasa yang makin fasih dipakai: bahasa saling curiga. Bahasa ini tidak lahir dari pencarian kebenaran, melainkan dari kegelisahan yang dipelihara.

Di titik inilah persatuan kerap disalahpahami. Dikira keseragaman sikap, padahal sejatinya adalah kesanggupan untuk tetap bersama di tengah perbedaan. Persatuan tidak menuntut kesamaan pikiran, melainkan kematangan adab. Juga tidak meminta semua orang sepakat, tetapi mengajarkan bagaimana berbeda tanpa saling melukai. Persatuan adalah kesediaan menahan diri ketika emosi menguasai ruang, serta keberanian menjaga kepentingan bersama ketika godaan kepentingan pribadi terasa lebih menggoda.

Al-Qur’an memberi isyarat yang hening namun tegas: manusia pernah berada dalam satu kesatuan, lalu perselisihan muncul ketika dorongan-dorongan batin mengambil alih kompas nilai. Pelajaran ini bukan celaan atas perbedaan, melainkan peringatan agar perbedaan tidak kehilangan penuntunnya. Kehidupan madani tidak dibangun oleh kerasnya klaim kebenaran, melainkan oleh adab publik yang terjaga, niat yang jernih, dan kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran yang melampaui kepentingan sesaat.

Persatuan, pada akhirnya, adalah amanah yang rapuh. Tidak runtuh karena perbedaan, tetapi karena kecurigaan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Bangsa yang arif tidak mengorbankan persatuan demi kemenangan sesaat. Justru merawatnya perlahan, dengan kesabaran, dengan adab, dan dengan kompas nilai yang tidak goyah—agar keberagaman tetap menjadi rahmat, bukan alasan untuk saling menjauh.

Kilas Sejarah: Dari Fragmentasi, Penjajahan, hingga Sumpah Pemuda

Sebelum nama “Indonesia” menjadi rumah bersama, tanah air ini adalah gugusan ruang yang berjalan dengan iramanya sendiri. Kerajaan-kerajaan berdiri sebagai pusat kuasa, suku-suku tumbuh dengan adatnya, bahasa-bahasa hidup seperti sungai kecil yang mengalir ke laut yang sama, tetapi belum merasa perlu menyebut dirinya “kita”. Nusantara kala itu bukan kosong dari peradaban dan kaya. Justru karena kaya, akibatnya menjadi rebutan. Kekayaan alam, jalur dagang, dan letak strategis membuat bangsa-bangsa asing datang dengan wajah yang berganti: mula-mula sebagai tamu, lalu pedagang, kemudian penguasa.

Penjajahan memahami satu hal yang sederhana : bangsa yang terpecah lebih mudah dikendalikan. Politik adu domba tidak selalu berupa senjata; sering kali berupa bisik-bisik, perjanjian yang timpang, pemihakan yang dibuat-buat, serta rasa curiga yang ditanam perlahan. Waktu itu, bangsa asing tidak perlu menaklukkan semua orang sekaligus. Cukup membuat satu pihak merasa lebih berhak daripada pihak lain, cukup membuat yang berbeda merasa tidak mungkin hidup bersama. Ketika curiga menjadi kebiasaan, persatuan menjadi barang mahal.

Kesadaran kebangsaan lalu tumbuh bukan seperti ledakan, melainkan seperti fajar. Tahun 1908 sering disebut sebagai salah satu penanda penting: Boedi Oetomo hadir sebagai isyarat bahwa ada semangat baru yang sedang disusun—semangat untuk melihat diri sebagai bagian dari bangunan yang lebih besar. Perjalanan itu menemukan momentum yang makin tegas ketika para pemuda, dari latar yang beragam, menyadari bahwa jalan menuju kemerdekaan tidak mungkin ditempuh dengan langkah yang saling menyilang.

Sumpah Pemuda 1928 adalah puncak kejernihan itu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa—Indonesia. Pernyataan itu bukan sekadar deklarasi. Ia adalah latihan batin kolektif: menahan ego kedaerahan, merelakan sebagian kepentingan sempit, lalu memilih sesuatu yang lebih luas dan lebih jauh. Bahasa Indonesia menjadi simbol paling indah dari keputusan tersebut: ia bukan bahasa yang lahir dari satu suku untuk menaklukkan suku lain, melainkan bahasa yang disepakati agar semua dapat berbicara tanpa merasa dikecilkan. Sejenis adab kebangsaan yang diwujudkan dalam kata.

Di sinilah persatuan menunjukkan wataknya yang sejati. Persatuan tidak datang dari hilangnya perbedaan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran untuk mengikat perbedaan dengan tujuan bersama. Kemerdekaan kemudian menjadi buah dari proses panjang itu: bukan hanya kemenangan melawan penjajah, tetapi kemenangan melawan kecenderungan lama untuk saling mencurigai. Sejarah mengajarkan: ketika bangsa ini memilih “kita”, adu domba kehilangan panggungnya.

Pelajaran itu terasa sangat relevan hari ini. Jika dahulu politik adu domba datang dari luar, kini ia bisa lahir dari dalam—dengan cara yang lebih halus, lebih cepat, dan lebih sulit dilacak. Namun hakikatnya sama: merusak simpul kebersamaan. Karena itu, merawat persatuan bukan sekadar mengenang Sumpah Pemuda sebagai seremoni tahunan, melainkan menghidupkan kembali ruhnya: menjaga adab kebangsaan, meluruskan niat, serta memegang kompas nilai yang tidak mudah dibeli oleh kepentingan sesaat.

Diagnosis Masa Kini: Ketika Perselisihan Berubah Menjadi Industri

Zaman ini punya cara halus untuk membuat orang merasa dekat, sambil perlahan menjauhkan. Layar menyala di tangan, kabar datang tanpa mengetuk, suara berloncatan seperti burung di pagi hari. Namun di balik riuh itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menipis: kesabaran untuk mendengar, keluasan untuk memahami, kelapangan untuk berbeda tanpa saling mencurigai.

Demokrasi memang membuka ruang kompetisi. Itu wajar, bahkan sehat, selama ia dituntun adab. Masalahnya muncul ketika kompetisi kehilangan pagar. Perselisihan tidak lagi sekadar beda pandang, melainkan berubah menjadi barang dagangan. Ada yang merawat panas agar tak padam, ada yang meniup bara agar membesar, ada yang memanen keributan menjadi modal. Perlahan, kita menyaksikan lahirnya sebuah kebiasaan baru: sebagian orang menjadi “ahli” dalam membelah, bukan dalam menyambung.

Di ruang publik, kata-kata sering tidak dipakai untuk menjernihkan, melainkan untuk menandai kubu. Data tidak dicari untuk memahami, melainkan untuk membenarkan. Orang tidak diajak berdialog, tetapi didorong memilih sisi. Satu kalimat dipotong, satu potongan video disebar, satu prasangka dibesarkan. Kebenaran menjadi tamu yang jarang diundang, kecuali bila membawa keuntungan. Jika tidak, ia diminta menunggu di luar.

Teknologi mempercepat semuanya seperti angin yang kencang. Yang tenang tenggelam, yang gaduh terangkat. Yang mengajak berpikir kalah cepat dari yang memancing emosi. Algoritma punya selera yang sederhana: ia menyukai reaksi. Marah lebih cepat menyebar daripada tabayyun. Curiga lebih gampang dibagikan daripada klarifikasi. Kita pun sering merasa sedang “mencari kebenaran”, padahal sedang digiring untuk mencintai pembenaran.

Di sisi lain, sumber-sumber daya yang semestinya menjadi jalan kesejahteraan sering berubah menjadi gelanggang rebutan. Ketika kepentingan pribadi dan kelompok menjadi kompas, cara-cara curang terasa seperti jalan pintas. Kebenaran dipinjam saat perlu, lalu dikembalikan dalam keadaan rusak. Kepercayaan publik dipakai seperti alat: berguna saat kampanye, merepotkan saat diminta konsistensi. Pada akhirnya, yang terkikis bukan hanya harmoni, tetapi juga rasa adil. Padahal persatuan tidak bisa lama tinggal di rumah yang lantainya penuh luka.

Akar masalahnya bukan perbedaan itu sendiri. Akar masalahnya adalah ketika moralitas memudar, ketika amanah kehilangan makna, ketika orang merasa bebas mengkhianati kebenaran tanpa rasa takut. Perselisihan menjadi bencana sosial bukan karena banyak pendapat, melainkan karena adab runtuh, niat keruh, lalu kompas nilai dibengkokkan sesuai arah angin.

Jika perselisihan sudah dijadikan industri, bangsa ini sebenarnya sedang diuji: apakah kita mau terus menjadi pasar bagi keributan, atau kembali menjadi rumah bagi kebersamaan. Pilihannya tidak selalu tampak dramatis, tetapi dampaknya panjang. Yang satu membuat kita ramai tetapi retak. Yang lain menuntut kesabaran, tetapi menyelamatkan masa depan.

Lensa QS. Yūnus [10]: 19—Perbedaan Tidak Berbahaya, Kompas yang Hilanglah yang Mematikan

Ada ayat yang terasa seperti cermin tua : tidak berteriak, tetapi memantulkan wajah kita apa adanya. QS. Yūnus [10]: 19.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Ayat itu mengingatkan bahwa manusia pernah berada dalam satu kesatuan, lalu perselisihan muncul ketika dorongan-dorongan di dalam diri menguasai arah. Pesannya halus namun tajam: perpecahan tidak selalu lahir karena kurangnya informasi, melainkan karena bergesernya niat, runtuhnya adab, dan melemahnya ketundukan pada kebenaran.

Ayat ini tidak sedang menuntut semua orang berpikir sama. Al-Qur’an tidak menghapus perbedaan sebagai sunnatullah. Perbedaan akan selalu ada, baik dalam ijtihad, pandangan, strategi, bahkan dalam cara membaca realitas. Bukan banyaknya ragam yang diuji, melainkan cara kita menampung ragam itu di dalam ruang bersama. Perbedaan menjadi rahmat ketika adab menjaga lidah, ketika niat menjaga langkah, ketika kebenaran dijadikan tujuan. Perbedaan berubah menjadi petaka ketika adab lepas, ketika niat digeser dan ketika kebenaran dipakai sekadar alat.

Di sinilah satu kalimat perlu kita pegang sebagai pasak : keutuhan umat tidak dibangun oleh seragamnya pendapat, melainkan oleh kuatnya adab, jernihnya niat, dan ketundukan bersama kepada Al-Qur’an sebagai kompas. Kalimat ini bukan hiasan retorika; ia seperti peta sederhana untuk menuntun bangsa yang sedang mudah terseret arus. Seragam pendapat mungkin tampak rapi, tetapi sering lahir dari takut dan tekanan. Adab, niat, dan kompas nilai justru melahirkan keteguhan tanpa memaksa keseragaman.

QS. Yūnus [10]: 19 juga memberi kita keberanian untuk menamai akar. Di banyak peristiwa, yang memecah kita bukan fakta, melainkan cara memperlakukan fakta. Bukan perbedaan pilihan, melainkan cara memperlakukan yang berbeda pilihan. Bukan kritik, melainkan cara kritik disampaikan: apakah ia menuntun, atau justru menghina. Bukan pembelaan, melainkan cara membela: apakah ia berangkat dari kebenaran, atau dari fanatisme.

Bangsa kita, seperti umat manusia dalam ayat itu, tidak kekurangan kecerdasan. Kita sering kekurangan ketenangan. Kita tidak selalu miskin data. Kita sering miskin adab. Kita tidak selalu kehilangan tokoh. Kita sering kehilangan arah. Ketika adab runtuh, ruang publik menjadi arena. Ketika niat keruh, kebijakan menjadi transaksi. Ketika kompas nilai dipatahkan, kebenaran menjadi barang yang bisa dinegosiasikan.

Kehidupan madani, pada akhirnya, adalah keberhasilan menjaga tiga hal itu secara kolektif yaitu: adab publik agar perbedaan tidak menjadi luka, kejernihan niat agar kekuasaan tetap amanah, serta kompas Al-Qur’an agar kebenaran tidak bergantung pada siapa yang bersuara paling keras. Tanpa tiga hal itu, polarisasi akan terus hidup, karena ia mendapat makanan setiap hari: prasangka yang dipelihara, emosi yang dibakar, serta kepentingan yang menyamar menjadi nilai.

QS. Yūnus [10]: 19 tidak mengajak kita bermimpi tentang bangsa tanpa perbedaan. Ayat itu mengajak kita lebih dewasa : merawat ruang bersama agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. Jika bangsa ini ingin utuh, yang pertama-tama perlu disatukan bukan pendapat, melainkan adab. Bukan pilihan, melainkan niat. Bukan slogan, melainkan kompas.

Tiga Penyakit yang Merusak Persatuan

Persatuan itu seperti anyaman. Ia tampak kuat dari kejauhan, tetapi sesungguhnya bertahan karena banyak serat kecil saling mengikat dengan sabar. Kerusakan besar sering berawal dari retak yang dianggap sepele. Dalam kehidupan berbangsa, retak itu biasanya tumbuh dari tiga “penyakit” yang pelan-pelan melemahkan simpul kebersamaan.

Pertama: Runtuhnya Adab Publik.

Adab adalah pagar halus yang membuat perbedaan tetap menjadi ruang belajar, bukan arena saling menjatuhkan. Ketika adab melemah, yang muncul bukan lagi dialog, melainkan duel. Kata-kata kehilangan malu. Sindiran menjadi hiburan. Ejekan dianggap keberanian. Orang merasa menang ketika berhasil mempermalukan, bukan ketika berhasil menjernihkan. Dalam keadaan seperti ini, ruang publik bising, tetapi miskin kebijaksanaan. Persatuan pun kelelahan, sebab ia dipaksa menanggung beban emosi yang tidak selesai.

Al-Qur’an mengajarkan batas yang tegas : tidak merendahkan, tidak mencela, tidak menggunjing, tidak memelihara prasangka sebagai kebiasaan (Al-Ḥujurāt [49]: 11–12). Adab bukan aksesori; adab adalah syarat minimal agar bangsa dapat tetap duduk di meja yang sama.

Kedua: Keruhnya Niat Kolektif.

Niat itu seperti air di hulu. Jika hulu keruh, hilir tidak mungkin jernih. Ketika niat di ruang publik bergeser dari amanah menjadi hasrat, dari pengabdian menjadi penguasaan, dari pelayanan menjadi kepemilikan, maka persatuan tidak lagi diperlakukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat. Pada fase ini, kata “rakyat” mudah diucapkan, tetapi sulit dibuktikan. Simbol kebaikan dipajang, sementara substansi kebaikan ditunda. Persatuan dipeluk saat menguntungkan, lalu dilepas saat mulai menuntut tanggung jawab.

Al-Qur’an memerintahkan agar amanah ditunaikan dan keputusan ditegakkan dengan adil (An-Nisā’ [4]: 58). Niat yang jernih melahirkan keberanian untuk adil meski tidak populer, serta kesanggupan menahan diri meski punya kuasa.

Ketiga: Patahnya Kompas Kebenaran.

Ini yang paling berbahaya, karena ia membuat bangsa berjalan, tetapi tersesat. Ketika kebenaran diperlakukan seperti barang dagangan, ia bisa dijual murah pada situasi yang tepat. Fakta diolah agar cocok dengan kepentingan. Kesalahan diberi baju pembenaran. Kebatilan dipoles agar tampak wajar. Pada titik ini, polarisasi menemukan pasokan tanpa henti, sebab setiap kubu merasa punya “versi kebenaran” yang boleh memukul kubu lain.

Al-Qur’an memperingatkan agar kebenaran tidak dicampuradukkan dengan kebatilan, serta kebenaran tidak disembunyikan padahal diketahui (Al-Baqarah [2]: 42). Kompas kebenaran bukan milik satu kelompok; ia milik nurani yang tunduk pada nilai.

Tiga penyakit ini saling menguatkan. Adab yang runtuh membuat fitnah mudah tumbuh. Niat yang keruh membuat fitnah terasa berguna. Kompas yang patah membuat fitnah terasa benar. Persatuan pun bukan runtuh karena perbedaan, melainkan karena “cara hidup bersama” kehilangan kehormatannya.

Jika bangsa ini ingin kembali utuh, yang perlu disembuhkan bukan hanya suasana, tetapi sumber sakitnya : menegakkan kembali adab publik, meluruskan niat dalam kuasa dan kebijakan, lalu mengembalikan kebenaran ke tempatnya—sebagai kompas, bukan sebagai komoditas.

Tiga Resep untuk Merawat Persatuan

Setelah mengenali penyakitnya, kita perlu mengingat satu hal sederhana : persatuan tidak tumbuh dari seruan yang keras, melainkan dari kebiasaan yang benar. Ia dirawat seperti taman—pelan, tekun, dan setia pada musim. Kehidupan madani tidak hadir karena kita sering mengucapkan kata “persatuan”, tetapi karena kita membangun tiga kebiasaan pokok yang membuat persatuan punya tempat tinggal yang layak.

Pertama: Menegakkan Etika Persaudaraan Kebangsaan.

Etika ini bukan basa-basi. Ia adalah cara kita memperlakukan sesama anak bangsa ketika berbeda pilihan, berbeda tafsir, berbeda sikap. Al-Qur’an mengajarkan disiplin yang sangat modern: tabayyun—memeriksa sebelum menyebarkan (Al-Ḥujurāt [49]: 6). Di era banjir informasi, tabayyun adalah bentuk ibadah sosial. Ia menahan tangan sebelum menekan “kirim”, menahan lidah sebelum memvonis, menahan kalbu sebelum menghakimi.

Etika persaudaraan juga menuntut kita menjaga martabat orang lain, sebab persatuan tidak mungkin hidup di rumah yang dipenuhi penghinaan. Perbedaan perlu dikelola seperti percakapan orang dewasa: tegas pada prinsip, lembut pada manusia. Jika bangsa ini ingin waras, kita harus berhenti menjadikan prasangka sebagai bahan bakar.

Kedua: Mendisiplinkan Amanah dalam Kekuasaan dan Ekonomi.

Persatuan sering patah bukan karena rakyat suka bertengkar, melainkan karena rakyat lelah merasa dipermainkan. Ketika kebijakan terasa timpang, ketika hukum terasa tajam ke bawah tumpul ke atas, ketika sumber daya dikuras tanpa pemulihan, rasa adil menghilang. Pada saat rasa adil menghilang, persatuan menjadi rapuh.

Al-Qur’an memerintahkan keadilan, bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukai (Al-Mā’idah [5]: 8). Keadilan bukan sekadar norma hukum, tetapi jantung kehidupan bersama. Amanah menuntut pemimpin dan pengelola kebijakan menolak cara-cara curang yang merusak kepercayaan publik. Kepercayaan itu seperti kaca: sekali retak, bisa disusun kembali, tetapi bekasnya selalu terlihat. Karena itu, disiplin amanah bukan slogan moral; ia strategi peradaban.

Ketiga: Mengembalikan Kompas Bersama kepada Nilai yang Tidak Bisa Ditawar.

Bangsa yang besar memerlukan titik temu yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan jangka pendek. Kompas itu bukan milik satu kubu. Kompas itu adalah nilai kebenaran yang disepakati, dijaga, dan dipertanggungjawabkan. Dalam bingkai refleksi ini, Al-Qur’an tidak diposisikan sebagai stiker identitas, melainkan sebagai sumber nilai : adil, jujur, amanah, menjauhi fitnah, menjaga kehormatan manusia.

Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu (Al-Isrā’ [17]: 36), sebab kebohongan yang diulang-ulang bisa tampak seperti kebenaran. Al-Qur’an juga memerintahkan menyeru dengan hikmah (An-Naḥl [16]: 125), sebab kebenaran yang disampaikan tanpa adab justru melahirkan penolakan. Kompas nilai inilah yang menuntun kehidupan madani : keras pada kebatilan, lembut pada manusia; tegas pada prinsip, teduh pada pergaulan.

Tiga resep ini tidak membutuhkan panggung besar untuk dimulai. Ia bisa dimulai dari cara kita berkomentar, cara kita menanggapi berita, cara kita memilih kata, cara kita mengelola kuasa sekecil apa pun. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar; yang dibutuhkan adalah orang yang bersedia menjaga adab ketika sedang punya alasan untuk marah.

Persatuan yang dirawat dengan adab, niat yang jernih, dan kompas kebenaran akan terasa seperti rumah : tidak selalu sunyi, tetapi selalu aman. Tidak selalu sepakat, tetapi tetap saling menghormati. Tidak selalu mudah, tetapi selalu punya arah.

Penutup: Persatuan Sebagai Amanah Sejarah dan Amanah Langit

Pada akhirnya, persatuan tidak pernah lahir dari kebetulan. Persatuan adalah buah dari kesadaran dan pengorbanan. Sejarah bangsa ini menyimpan pelajaran yang tenang namun tegas : kita pernah menang melawan politik adu domba karena memilih menjadi “kita”. Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa yang diperingati, melainkan keputusan batin kolektif—keputusan untuk menaruh masa depan di atas ego, menaruh kebersamaan di atas kemenangan sesaat.

Namun zaman berubah, cara adu domba ikut berubah. Dulu ia datang dengan wajah asing dan kekuasaan senjata. Hari ini ia sering datang sebagai percakapan yang tampak biasa : potongan kabar, bisik-bisik opini, klaim yang dirapikan, prasangka yang dibiakkan, emosi yang dijadikan menu harian. Ia bekerja cepat, sering tanpa suara, lalu diam-diam merenggangkan simpul-simpul kebangsaan. Dalam keadaan seperti ini, merawat persatuan bukan pekerjaan seremoni. Ia pekerjaan sunyi yang menuntut kedewasaan.

QS. Yūnus [10]: 19 memberi kita kunci sederhana: perbedaan tidak harus menjadi api. Api biasanya muncul ketika kompas nilai hilang. Keutuhan tidak dibangun oleh seragamnya pendapat, melainkan oleh kuatnya adab, jernihnya niat, serta ketundukan pada kebenaran sebagai penuntun bersama. Kehidupan madani berdiri bukan karena semua orang sepakat, melainkan karena semua orang sepakat menjaga kehormatan ruang bersama.

Persatuan Indonesia akan selalu diuji, sebab bangsa besar selalu menjadi medan tarik-menarik kepentingan. Ujian itu tidak perlu kita takuti. Yang perlu kita takutkan adalah ketika adab dianggap lemah, ketika niat dibiarkan keruh, ketika kebenaran diperdagangkan. Pada saat itu, kita tidak sedang kalah oleh lawan politik; kita sedang kalah oleh diri sendiri.

Karena itu, mari kita mulai dari yang paling dekat: merapikan bahasa, menata cara berbeda, menahan diri dari fitnah yang menggoda, membiasakan tabayyun yang menenangkan, memuliakan amanah sekecil apa pun, serta menegakkan keadilan sebisanya. Persatuan bukan hanya proyek negara; ia proyek kalbu. Ia tidak cukup dijaga oleh undang-undang, tetapi perlu dirawat oleh adab.

Bangsa ini memiliki banyak perbedaan, itu benar. Namun bangsa ini juga memiliki satu rumah yang sama. Rumah itu tidak akan kokoh bila penghuninya saling mencurigai. Rumah itu akan tegak bila penghuninya saling menjaga. Jika kita ingin Indonesia tetap utuh, kita perlu mengembalikan persatuan ke tempatnya yang mulia: bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai amanah sejarah—dan, lebih dari itu, amanah langit.

Wallahualam bishawab


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arti Kedutan Kelopak Mata Kanan Bawah: Medis hingga Mitos
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Wamen ESDM Tinjau Stasiun Pengumpul Minyak Jambi, Segini Produksinya
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gemerlap Cahaya Panggung Hiburan Meriahkan Malam Pergantian Tahun Baru 2026 di Bundaran HI Jakarta
• 15 jam lalumerahputih.com
thumb
Mantan Anak Asuh John Herdman Ternyata Jadi Rekan Setim Jay Idzes di Sassuolo
• 20 jam lalubola.com
thumb
BMKG: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sebagian Besar Wilayah Jakarta Hari Ini
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.