Bisnis.com, JAKARTA – Wati (53) menghentikan hitungannya di angka Rp2 juta saat perempuan itu mengkalkulasi perolehan omzet harian pada penjualan malam Tahun Baru 2026.
Tidak ada kejutan baginya saat omzet yang dia dapatkan ambles hingga lebih dari 70% dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perempuan yang telah menahun menjadi mitra binaan Ancol ini telah merasakan lesunya penjualan sejak awal tahun.
Hal itu yang membuat dirinya tidak kaget terhadap omzet yang mampu dia kumpulkan di penghujung tahun itu.
“Ya turun sekitar 60% ada. Soalnya tahun lalu sekitar Rp8 juta sehari, berarti sekitar 60–70% turun,” katanya mengawali pembicaraan, Kamis (1/1/2026).
Tahun baru 2026 sekaligus menjadi tahun dengan omzet terkecil yang dapat dikumpulkan oleh Wati dalam sehari selepas pandemi Covid-19.
Dari pandangan matanya, kehadiran pengunjung memang susut dibandingkan tahun sebelumnya.
Dia menyebut, jika perayaan tahun baru biasanya disesaki oleh para pengunjung hingga sulit untuk berjalan di antara mereka, kini bahkan pengunjung dapat berlari-larian di kawasan Pantai Laguna, Ancol.
Namun, lesunya penjualan pada malam Tahun Baru 2026, hanya menjadi puncak dari apa yang telah dia rasakan sepanjang tahun 2025.
Perempuan yang berdagang makanan dan minuman selama bertahun-tahun iini bahkan mencatat penurunan penjualan dapat mencapai lebih dari 50% pada momen liburan di 2025.
“Banyak, bisa turun 50% mungkin. Dulu di 2024, saya masih bisa bayar angsuran motor. Sekarang mikir lagi kalau mau ngambil angsuran,” katanya.
Salah satu yang mendasari lesunya penjualan Wati sepanjang 2025 adalah event yang dinilai kian sedikit berlangsung di Ancol pada periode ini.
Biasanya, Ancol kerap melaksanakan event pada periode kuartal pertama setiap tahunnya, tetapi pada 2025 realisasinya disebut berbeda.
Sekalipun terdapat event yang diselenggarakan oleh Ancol, tidak banyak pembeli yang memiliki minat sebesar tahun-tahun sebelumnya untuk membelanjakan uang mereka. Dia menduga kenaikan harga tiket yang diterapkan untuk pengunjung Ancol menjadi penyebab utamanya.
“Saya sih berasumsi bahwa harga tiketnya yang mahal, yang membuat orang lebih menahan untuk belanja di dalam,” katanya.
Selain pedagang makanan, Nani (50) seorang pedagang mainan anak-anak turut merasakan lesunya penjualan pada malam Tahun Baru 2026. Pada momen yang sama tahun lalu, Nani bisa membukukan omzet hingga Rp3 juta per harinya. Namun, kini hitungannya hanya berhenti di Rp1 juta.
“Ini kan biasanya tahun baru jadi harapan pedagang. Sekarang sepi sekali, enggak jamin,” katanya kepada Bisnis, Kamis (1/1/2026).
Maraknya marketplace daring, dinilai menjadi salah satu penyebabnya. Bahkan, penjualan pada momentum libur selama 2025 juga telah menandakan lesunya penjualan Nani.
Pada momentum weekend misalnya, Nani bahkan dapat meraup omzet hingga Rp1,5 juta–Rp1,8 juta setiap harinya. Namun, kondisinya jauh berbeda. Dia hanya dapat meraup omzet Rp500.000–Rp800.000 per harinya pada momentum yang sama.
“Anak-anak TK, kadang-kadang nangis minta mainan, anaknya dicubitin sama emaknya. Kita enggak bisa bilang apa deh,” katanya.
Adapun, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) selaku pengelola Taman Impian Jaya Ancol, turut mengakui lesunya jumlah pengunjung pada momentum Tahun Baru 2026. Realisasi kehadiran pengunjung pada malam tahun baru hanya mencapai 65.821 orang, sementara target yang ditetapkan perseroan mencapai 100.000 pengunjung.
Realisasi pada malam Tahun Baru 2026 juga susut 5,97% year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi 2024 sebanyak sekitar 70.000 pengunjung pada 31 Desember 2024.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2021%2F11%2F29%2F20211129-Ilustrasi-OPINI-Hujan-Banjir-dan-Distorsi-Teologi-OK_1638198304_jpg.jpg)

