FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka terlibat perseteruan panas dengan artis kondang, Fedi Nuril.
Perseteruan keduanya terlihat di media sosial, dimana baik Dedy Nur maupun Fedi Nuril saling berbalas sindiran.
Terbaru, pernyataan menohok yang diberikan Dedy Nur Palakka untuk membalas pernyataan dari pemain film 5 CM itu.
Fedi Nuril di media sosial X pribadinya menyindir dengan menyebutnya “Maklum, penjilat Nabi Mulyono,”
Ini yang kemudian direspon keras oleh Dedy Nur melalui satu cuitannya di media sosial.
Ia mengaku sering dituduh sebagai “Penjilat” karena sering menulis tentang Jokowi sebagai tokoh politik.
Padahal menurutnya, mantan Presiden Joko Widodo memang seorang fenomenal dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Belum lagi soal pernyataan lamanya yang Jokowi sebagai Nabi yang kala itu viral dan jadi pembahasan panas.
“Saya seringkali dituding sebagai ‘Penjilat’ karena sering menulis tentang Jokowi sebagai tokoh politik yang memang fenomenal dalam sejarah demokrasi Indonesia,” tulisnya dikutip Kamis (1/1/2025).
“Suatu waktu saya menulis dengan tidak sengaja yang isinya begini ‘beliau memenuhi syarat menjadi nabi…dst”/’ lalu banyak orang marah, emosi, kesal, hingga menuding saya sebagai manusia penista agama karena sudah sangat lancang menulis kalimat “sakti” itu,” ungkapnya.
Soal penulisan kata Nabi, Kader PSI ini menyebut itu sebagai aktivitas manusia, apalagi ia adalah manusia politik.
Yang membuatnya ini panas karena jika Fedi Nuril yang menulis “Nabi Mulyono” tidak ada kemarahan dari publik seperti yang ia dapatkan sebelumnya.
Dedy Nur pun dibuat bertanya-tanya terkait apa alasan perlakukan berbeda yang didapatkannya ini.
“Padahal menulis kata nabi adalah aktivitas manusia, apalagi ia adalah manusia politik. Cuman yang menjadi konsen saya di sini adalah ketika seorang @realfedinuril secara terang-terangan menulis “Nabi Mulyono” mereka tidak semarah ketika saya menulis “beliau memenuhi syarat menjadi nabi” ada apa?,” jelasnya.
“Apakah karena saya adalah penjilat Jokowi dan Fedi Nuril adalah pengkritik Jokowi, sehingga ada perlakuan yang berbeda di sana atau memang semua ini hanya murni permainan persepsi publik yang cenderung bias moral estetik, saya tidak tau,” paparnya.
“Yang jelas seperti yang pernah diucapkan oleh Nietzsche bahwa manusia-manusia bermoral itu punya masalah internal dalam moralitas yang ia percaya, misalkan ketika saya membunuh KECOAK mereka akan tepuk tangan, karena binatang kecoak ini sering diasumsikan sebagai binatang yang jorok, kotor dan nista. Bed ketika saya misalkan membunuh KUPU-KUPU, mereka akan berteriak kalau saya ini penjahat karena kupu-kupu adalah binatang yang cantik, indah, dan secara moral dianggap berdosa jika membunuhnya. Inilah moralitas estetik yang digugat oleh Nietzsche karena jelas aktivitasnya sama-sama membunuh,” sambungnya.
Ia pun memberikan sindiran karena merasa tidak adil dengan perlakuan yang didapatkan ini.
“Dalam konteks ini saya dan Fedi Nuril sama-sama menyebut kata nabi, saya menyebutnya dengan ‘n’ kecil sementara Fedi Nuril menyebut kata nabi dengan ‘N’ besar, maknanya pun jelas tidak sama jika kita menggunakan kacamata linguistik jika hendak membedahnya,” terangnya.
“Kesimpulannya Fedi Nuril bebas mengucapkan kata ‘Maklum, penjilat Nabi Mulyono’ sementara saya tidak bebas menggunakan kalimat ‘memenuhi syarat menjadi nabi…dst’, Mungkin ahli bahasa bisa membantu kita untuk memahami dua fenomena unik dalam pikiran rakyat Indonesia yang beredar bebas di platform @elonmusk ini ✍️,” pungkasnya.
(Erfyansyah/fajar)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)
