Gebrakan Dedi Mulyadi: Jabar Haramkan Penanaman Sawit Baru, Ancam Krisis Air

suara.com
23 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terbitkan larangan total penanaman sawit baru melalui Surat Edaran Nomor 187 pada 29 Desember 2025.
  • Kebijakan ini bertujuan mencegah krisis air dan kerusakan lingkungan karena sawit tidak sesuai dengan kondisi geografis Jawa Barat.
  • Instruksi juga mencakup penggantian bertahap lahan sawit eksisting dengan komoditas lokal seperti teh, karet, kina, atau kopi.

Suara.com - Sebuah langkah drastis untuk penyelamatan ekologi diambil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan menerbitkan larangan total bagi setiap aktivitas penanaman baru kelapa sawit di seluruh wilayah provinsi.

Tidak hanya berhenti di situ, Dedi Mulyadi juga menginstruksikan alih komoditas atau penggantian tanaman secara bertahap bagi lahan-lahan yang kadung ditanami komoditas tersebut.

Kebijakan tegas ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 187/PM.05.02.01/PEREK tentang Larangan Penanaman Kelapa Sawit di Wilayah Provinsi Jawa Barat.

Surat bertanggal 29 Desember 2025 itu ditujukan kepada seluruh bupati dan wali kota untuk segera ditindaklanjuti tanpa terkecuali.

Ditemui di Bandung, Rabu (31/12/2025), Dedi Mulyadi membeberkan alasan utama di balik kebijakan radikal ini. Menurutnya, karakteristik geografis Jawa Barat yang sempit dan padat sama sekali tidak kompatibel dengan industri kelapa sawit yang rakus lahan dan boros air.

Jika dibiarkan, ia meyakini Jawa Barat akan menghadapi ancaman krisis air dan bencana lingkungan yang serius di masa depan.

"Jawa Barat itu kecil, wilayahnya sempit. Sawit butuh lahan luas, enggak cocok. Kita cocoknya teh, karet, kina, kopi," ujar Dedi sebagaimana dilansir Antara.

Ia menekankan bahwa solusi satu-satunya bagi lahan yang sudah tidak sesuai dengan habitat dan peruntukannya adalah dengan mengembalikannya ke fungsi semula melalui penggantian jenis tanaman yang lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan ekosistem lokal.

"Kalau sudah di luar peruntukan dan bukan habitatnya, ya diganti dengan tanaman lain," katanya.

Baca Juga: Petani Soroti Kebijakan Biodiesel Justru Bisa Rusak Ekosistem Kelapa Sawit

Di balik penerbitan surat edaran ini, Dedi Mulyadi juga mengungkap sebuah fakta yang selama ini tak terendus publik.

Ia mengaku telah melakukan intervensi senyap sekitar enam bulan lalu untuk menggagalkan sebuah proyek perkebunan sawit skala besar yang mengancam kawasan konservasi vital.

"Enam bulan yang lalu ada yang mau menanam sawit di lereng kuning Ciremai. Cuman saya enggak cerita ke mana-mana. Saya menghentikannya melalui bupati," ucapnya.

Terkait polemik perkebunan sawit yang belakangan mencuat di Cirebon, Dedi mengakui adanya keterlambatan penanganan.

Ia menyayangkan putusnya rantai informasi dari level desa yang tidak sampai ke tingkat provinsi, sehingga laporan baru masuk setelah dampak kerusakan lingkungan dirasakan oleh masyarakat luas.

"Kalau yang di Cirebon ini saya enggak ada yang lapor. Kepala desa kalau lapor kan bisa diselesaikan. Gubernur enggak mungkin tahu semua hal setiap waktu," kata Dedi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jakarta Diprediksi Hujan Sepanjang Hari Ini, Terutama Bagian Selatan dan Timur
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Dirut Bulog Sebut Stok Beras di Awal 2026 Capai 3,25 Juta Ton
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemerintah Kaji Bea Ekspor Batu Bara 5-11 Persen, Simak Dampak ke Emiten
• 30 menit laluidxchannel.com
thumb
Bhayangkara FC vs Dewa United, Banten Warriors Janji Lebih Maksimal
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Klasemen Liga Inggris: Arsenal Nyaman di Puncak usai City Gagal Menang
• 8 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.