Prabowo Setuju Operasi Besar Normalisasi Sungai Berlumpur di Sumatera

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana dilakukannya operasi besar untuk menormalisasikan aliran sungai di daerah yang terdampak bencana Sumatera.

Sungai-sungai tersebut harus dikeruk karena mengalami pendangkalan imbas pasir dan lumpur yang mengendap usai terbawa arus banjir.

"Saya kira itu usul yang baik. Itu juga yang diusulkan Gubernur kepada saya sebenarnya. Jadi kuala-kuala (muara sungai) itu yang kita akan normalisasi, kita bongkar itu ya. Beliau sudah berapa saat yang lalu sudah sampaikan, saya sudah setuju," kata Prabowo dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang, Kamis (1/1).

Prabowo bilang, ada beberapa pihak swasta juga yang tertarik untuk membeli endapan lumpur tersebut. Sehingga, ini perlu dicari cara untuk bisa mengambil lumpur itu.

"Ada perusahaan-perusahaan besar yang punya keahlian di bidang ini, ya. Dredging (pengerukan) untuk pelabuhan dan sebagainya ya," ungkap Prabowo.

"Dan nanti juga bermanfaat itu. Kalau bisa lumpurnya kalau ada yang mau, kalau ada swasta mau beli ya monggo, silakan. Langsung dinikmati oleh daerah-daerah," sambung dia.

Usulan ini datang dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie mengatakan, kuala-kuala ini banyak yang bermuara di laut. Bila sungai bisa dilalui kapal-kapal TNI, pergerakan logistik hingga alat berat bisa lebih mudah dan efisien.

Kuala-kuala bisa dibersihkan dari berbagai kayu yang menumpuk. Lalu, lumpur-lumpur bisa disedot agar kedalaman sungai bisa kembali seperti sebelum diterjang bencana.

"Dan ini saya sudah bicara dengan Wapang, Angkatan Darat, kita harus upayakan ini besar-besaran. Tidak hanya Tamiang, tapi di Bireuen juga harus kita kerjakan. Jadi di Aceh kita lakukan itu, kita lihat lagi kalau ada di Sibolga umpamanya," jelas Sjafrie.

"Jadi, dari laut kita sudah lakukan pendalaman sampai ke sungai. Sehingga kapal tidak perlu lagi taruh itu alat berat, digendong pakai jalur darat, tapi dia langsung ke titik terdekat. Ini usul kami, Bapak Presiden," tambah dia.

Sjafrie menegaskan telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Kuala. Satgas ini akan terdiri dari dua komposisi, yakni bertugas untuk pendalaman sungai dan pemanfaatan air.

"Setelah saya koordinasi dengan Wakil Panglima dan KSAD. Hari ini sudah kita bentuk Satgas Kuala," ujar Sjafrie.

"Di dua komposisi kapal ini, akan kita naikkan water treatment system sehingga air yang ada di kuala kita ambil, kita olah, sehingga menjadi air jernih," jelasnya.

Dia mengungkapkan, Satgas Kuala akan mulai efektif bertugas mulai 2 pekan ke depan. Sasaran pertamanya adalah Kuala Simpang di Aceh Tamiang

"Kita akan hari ini, siang ini terbentuk satgas dua Minggu kemudian kami akan operasional mulai dari Kuala Simpang," ungkapnya.

Ide itu direspons oleh Mendagri Tito Karnavian. Tito mengatakan, ada perusahaan yang punya alat penyedot lumpur yang bisa dipakai. Bila ini teralisasi, pengerjaan pengerukan kuala atau sungai di daerah bencana bisa lebih baik.

"Kami juga berkomunikasi dengan teman-teman yang di biasa nambang-nambang itu, Pak. Jadi untuk sungai-sungai terutama di kuala-kuala ini sedemikian besar, lebar, dan masif sedimennya. Sehingga kalau menggunakan alat bekhoe atau ekskavator itu lambat pasti, Pak," kata Tito.

"Saran kami kapal-kapal yang untuk dredging itu, tambang yang banyak di Bangka Belitung gitu, Pak. Itu daya sedotnya luar biasa, mereka cepat sekali, Pak. Demikian, Bapak. Makasih, Pak," tambah Tito.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan Meledak, Idgitaf Kuasai Spotify
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
Pemprov DKI Salurkan Bantuan Rp9 Miliar untuk Korban Bencana Sumatra
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Detik-Detik Driver Ojol Tewas Tabrakan dengan Ambulans di Palangka Raya Terekam CCTV
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
BMKG Bengkulu: Waspadai potensi angin kencang
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem dan Hujan Meningkat Beberapa Hari ke Depan 
• 8 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.