Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia dan Kuwait menyepakati penguatan kerja sama di bidang sains dan teknologi melalui optimalisasi riset, pendidikan tinggi, serta pengembangan sumber daya manusia. Kesepakatan tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia Khalid Jassim Al-Yassin.
Pada kesempatan tersebut, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan pentingnya implementasi konkret dari kerja sama yang telah disepakati agar memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.
“Kami ingin memastikan kerja sama riset dan pendidikan ini tidak hanya berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi benar-benar menghasilkan dampak bagi pembangunan Indonesia dan Kuwait,” ujar Brian kutip Kamis, 1 Januari 2026.
Ia menyebut, bawhwa Indonesia membuka peluang kolaborasi di berbagai sektor strategis, seperti energi, petrokimia, kesehatan, teknologi lingkungan, hingga hilirisasi mineral.
Selain itu, Brian menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan mahasiswa pascasarjana ke perguruan tinggi di Kuwait sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kami juga siap mendorong mobilitas mahasiswa dan peneliti agar kolaborasi riset bisa berjalan lebih intensif,” katanya.
Sementara itu, Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Al-Yassin, menegaskan bahwa peningkatan kerja sama dengan Indonesia menjadi prioritas pemerintah Kuwait.
“Kami memandang Indonesia sebagai mitra strategis, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi dan riset,” ujar Khalid.
Ia menambahkan, Nota Kesepahaman bidang pendidikan tinggi yang ditandatangani pada 2019 perlu segera diaktifkan kembali setelah sempat terhambat pandemi COVID-19.
“Kami sepakat untuk menghidupkan kembali seluruh poin kerja sama sebelum masa berlaku MoU tersebut berakhir,” katanya.
Selain kerja sama antarkampus, Khalid juga mendorong kolaborasi dengan Kuwait Institute for Scientific Research (KISR), lembaga riset pemerintah Kuwait yang berfokus pada desalinasi air, energi terbarukan, pertanian lahan kering, dan biodiversitas.
“Kami berharap dapat menjalin kerja sama riset yang lebih luas, termasuk dalam pemanfaatan tenaga ahli dari Indonesia,” ujar Khalid.
Menanggapi hal tersebut, Brian mengusulkan pembentukan MoU khusus antara Kemendiktisaintek dan KISR untuk mempercepat kolaborasi riset dan inovasi.
“Sebagian besar peneliti dan profesor kami berada di universitas. Dengan kerja sama langsung bersama KISR, inovasi akan lebih cepat bergerak,” tutur Brian.
Pertemuan ditutup dengan komitmen kedua pihak untuk menindaklanjuti kerja sama melalui pertukaran data kebutuhan kompetensi tenaga kerja serta pembentukan kelompok kerja bersama.
Editor: Redaktur TVRINews




