Istanbul (ANTARA) - Otoritas Venezuela telah menahan sejumlah warga negara Amerika Serikat sejak pemerintahan Trump memulai kampanye tekanan militer dan ekonomi terhadap negara tersebut.
The New York Times pada Rabu (31/12) mengutip seorang pejabat AS, melaporkan bahwa individu yang ditahan termasuk tiga warga yang memiliki kewarganegaraan ganda yang memegang paspor Venezuela dan Amerika Serikat, serta dua warga negara AS yang tampaknya tidak memiliki keterkaitan dengan Venezuela.
Pejabat itu mengatakan bahwa meskipun sebagian dari para tahanan menghadapi tuduhan pidana yang sah, pemerintah AS sedang mempertimbangkan apakah akan secara resmi menetapkan setidaknya dua dari mereka sebagai korban yang ditahan dengan tidak sah.
Menurut surat kabar tersebut, baik Departemen Luar Negeri AS, Kedutaan Besar AS di Kolombia yang menangani urusan Venezuela, maupun Kementerian Komunikasi Venezuela tidak memberikan komentar terkait penahanan itu.
Penangkapan warga Amerika tersebut terjadi seiring meningkatnya operasi militer AS di kawasan Karibia dan Pasifik Timur yang dimulai pada September lalu.
Washington mengklaim operasi tersebut menargetkan perdagangan narkoba, dengan sedikitnya 105 orang dilaporkan tewas dalam 29 serangan.
Adapun pada pekan lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS baru-baru ini melakukan serangan terhadap sebuah pabrik besar atau fasilitas besar tempat kapal-kapal berangkat.
Ia tidak merinci lembaga AS mana yang melakukan serangan tersebut, meskipun CNN melaporkan bahwa CIA yang melaksanakannya.
Kampanye AS terhadap Venezuela juga mencakup taktik tekanan yang lebih luas, termasuk penyitaan kapal, pemblokiran kapal tanker minyak, serta peningkatan kehadiran militer di dekat perairan Venezuela. Ciracas mengecam tindakan Washington sebagai bentuk pembajakan internasional.
Sumber: Anadolu
Baca juga: AS jatuhkan sanksi baru ke Venezuela, sasar perusahaan minyak
Baca juga: Trump: AS serang dermaga Venezuela terkait perdagangan Narkoba
Baca juga: Rusia siap dukung Venezuela hadapi blokade maritim AS
The New York Times pada Rabu (31/12) mengutip seorang pejabat AS, melaporkan bahwa individu yang ditahan termasuk tiga warga yang memiliki kewarganegaraan ganda yang memegang paspor Venezuela dan Amerika Serikat, serta dua warga negara AS yang tampaknya tidak memiliki keterkaitan dengan Venezuela.
Pejabat itu mengatakan bahwa meskipun sebagian dari para tahanan menghadapi tuduhan pidana yang sah, pemerintah AS sedang mempertimbangkan apakah akan secara resmi menetapkan setidaknya dua dari mereka sebagai korban yang ditahan dengan tidak sah.
Menurut surat kabar tersebut, baik Departemen Luar Negeri AS, Kedutaan Besar AS di Kolombia yang menangani urusan Venezuela, maupun Kementerian Komunikasi Venezuela tidak memberikan komentar terkait penahanan itu.
Penangkapan warga Amerika tersebut terjadi seiring meningkatnya operasi militer AS di kawasan Karibia dan Pasifik Timur yang dimulai pada September lalu.
Washington mengklaim operasi tersebut menargetkan perdagangan narkoba, dengan sedikitnya 105 orang dilaporkan tewas dalam 29 serangan.
Adapun pada pekan lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS baru-baru ini melakukan serangan terhadap sebuah pabrik besar atau fasilitas besar tempat kapal-kapal berangkat.
Ia tidak merinci lembaga AS mana yang melakukan serangan tersebut, meskipun CNN melaporkan bahwa CIA yang melaksanakannya.
Kampanye AS terhadap Venezuela juga mencakup taktik tekanan yang lebih luas, termasuk penyitaan kapal, pemblokiran kapal tanker minyak, serta peningkatan kehadiran militer di dekat perairan Venezuela. Ciracas mengecam tindakan Washington sebagai bentuk pembajakan internasional.
Sumber: Anadolu
Baca juga: AS jatuhkan sanksi baru ke Venezuela, sasar perusahaan minyak
Baca juga: Trump: AS serang dermaga Venezuela terkait perdagangan Narkoba
Baca juga: Rusia siap dukung Venezuela hadapi blokade maritim AS





