Stablecoin privat diperkirakan akan berkembang menjadi lapisan inti infrastruktur pembayaran global berbasis blockchain pada 2026. Hal ini diprediksi akan terjadi seiring meningkatnya kebutuhan privasi dalam transaksi digital tanpa mengorbankan kepatuhan regulasi.
Kepala Pengembangan Bisnis Predicate, Khushi Wadhwa mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi peningkatan pengembangan stablecoin yang mengusung privasi terkonfigurasi secara default. Fitur tersebut mencakup pengungkapan selektif, pengaburan jumlah transaksi, hingga anonimitas penuh antara pengirim dan penerima dalam beberapa kasus.
Baca Juga: SoFi Bank Luncurkan Stablecoin Dolar AS
“Pada tahun ini, stablecoin privat akan muncul sebagai fondasi utama sistem pembayaran on-chain secara global,” ujar Wadhwa, dilansir Jumat (2/1).
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan praktis dalam penyelesaian pembayaran. Perusahaan membutuhkan tingkat kerahasiaan tertentu untuk melindungi hubungan komersial yang sensitif serta pergerakan dana kas, sementara pengguna ritel semakin enggan menggunakan jalur pembayaran yang sepenuhnya transparan.
Namun Wadhwa menekankan bahwa stablecoin privat tidak akan berkembang di luar kerangka regulasi. Sebaliknya, sistem ini akan dirancang dengan kontrol kebijakan yang memungkinkan kepatuhan hukum tanpa mengorbankan privasi dasar pengguna.
Menurutnya, pendekatan ini akan mengubah definisi tentang apa yang dimaksud dengan pembayaran yang patuh regulasi di ekosistem blockchain. Stablecoin privat diproyeksikan menjadi medium pilihan, baik untuk penyelesaian transaksi institusional maupun pembayaran sehari-hari.
Baca Juga: Lebih Praktis, Stablecoin Bisa Jadi Alternatif Investasi Dolar AS?
Perkembangan tersebut menandai pergeseran penting dalam evolusi sistem pembayaran digital, di mana privasi tidak lagi dipandang bertentangan dengan regulasi, melainkan menjadi bagian integral dari desain infrastruktur keuangan on-chain.





