FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Projo periode 2014–2019, Budianto Tarigan, buka-bukaan mengenai pengaruh besar grup band Slank dalam perjalanan karier politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo, terutama pada masa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Menurut Budi, peran Slank pada saat itu tidak bisa dilepaskan dari kemenangan Jokowi yang akhirnya terpilih sebagai presiden.
Budi menilai Slank sejak awal dikenal sebagai band dengan lagu-lagu yang sarat pesan moral, etika, serta kritik sosial terhadap kondisi bangsa. Karakter inilah yang membuat Slank memiliki kedekatan emosional dengan publik dan mampu menggerakkan massa dalam konteks politik.
Pada Pilpres 2014, Jokowi berhadapan langsung dengan Prabowo Subianto. Dalam kontestasi tersebut, Slank disebut menjadi salah satu mesin politik penting yang menopang dukungan bagi Jokowi.
“Slank ini salah satu mesin politik Jokowi loh. Saya di Projo dulu, waktu awal di 2014, bagaimana kita cari kekuatan untuk kemenangan Jokowi,” kata Budi, dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (1/1/2026).
Ia menuturkan, momen krusial dukungan Slank terjadi saat digelarnya konser “Salam Dua Jari” di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Acara tersebut disebut berhasil mengumpulkan massa besar dari berbagai daerah.
“Puncaknya waktu itu, saat kita bikin konser salam dua jari. Pak Jokowi datang, pidato, di situlah mungkin dia mulai PD, bahwa dia punya banyak pendukung Pidato, ribuan manusia kan,” tuturnya.
Namun, Budi mengungkapkan bahwa sikap Slank saat ini telah mengalami perubahan. Band yang sebelumnya menjadi motor dukungan Jokowi kini dinilai mengambil posisi berbeda dan lebih kritis terhadap kekuasaan.
“Mungkin mereka juga sadar lama. Mungkin lagu ini muncul ke publik baru-baru ini. Tapi Slanker itu bukan baru sadar, udah lama sebenarnya,” terangnya.
Menurut Budi, perubahan sikap Slank bukan dipicu oleh faktor materi, jabatan, atau kepentingan politik praktis, melainkan karena kesadaran moral.
“Mereka juga buka enggak dapat apa-apa. Mereka juga orang kaya kok, mamu semua kok. Enggak harus dapat jabatan atau tidak, baru bikin lagu seperti ini,” teranfnya.
Kehadiran lagu “Republik Fufufafa” disebut Budi sebagai penanda bahwa kondisi bangsa saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ia menilai lagu tersebut merupakan bentuk kritik tajam terhadap rezim yang sedang berkuasa.
“Dari dulu ini pemimpin yang bikin kacau, itu yang memegang kekuasaan tinggi. Termasuk rezim Fufufafa ini kan,” ucapnya.
Budi juga menilai lirik lagu tersebut sebagai potret sosial yang menggambarkan kondisi kepemimpinan dan masa depan bangsa.
“Sehingga muncullah lagu ini jadi kritik sosial yang strategis, kalau menurut saya jadi kondisi republik hari ini ya memang seperti ini,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa lirik lagu tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi realitas sosial yang terjadi di masyarakat.
“Saya percaya Slank bikin lirik ini bukan main-main dan bukan asal-asalan dan bukan tidak didukung fakta tertentu. Mereka buat ini pasti dari data empirik, sehingga mereka berani. Kalau risiko, Slank dari dulu enggak mikir risiko kan,” paparnya.
Budi pun menilai reaksi keras sebagian pihak terhadap lagu tersebut justru menjadi konfirmasi atas kritik yang disampaikan.
“Jangan sampai marah-marah itu karena merasa. Terkonfirmasi. Saya lihat dan kita harus jujur, hari ini apa yang kita banggakan di republik ini,” jelasnya.
“Sakau kuasa, sakau jdi. Kalau situasi ini trus dibiarkan dan orang yang seperti ini memimpin negara, mau dibawa ke mana kita?” tambahnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Slank atas keberanian mereka menyuarakan kritik.
“Saya banget itu. Terima kasih loh Slank. Berani bangkit dari tidurnya, kalau kata orang ya,” pungkasnya.
Sebagai informasi tambahan, Slank merupakan salah satu band legendaris Indonesia yang lahir pada awal 1980-an dan dikenal konsisten menyuarakan kritik sosial melalui musik. Sejak era reformasi, Slank kerap menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan, menjadikan mereka dekat dengan kelompok masyarakat sipil dan aktivis.
Kedekatan Slank dengan dunia politik mulai terlihat secara terbuka pada era Pilpres 2014, ketika mereka secara terang-terangan mendukung Joko Widodo. Dukungan tersebut tidak hanya disampaikan lewat pernyataan, tetapi juga melalui konser dan mobilisasi basis penggemar yang dikenal sebagai Slanker.
Lagu “Republik Fufufafa” yang belakangan viral menjadi penanda kembalinya Slank pada tradisi kritik keras terhadap kekuasaan. Lagu tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memantik diskusi luas, baik dari kalangan pendukung maupun pengkritik pemerintah.
Secara musikal dan lirik, “Republik Fufufafa” menghadirkan narasi satir yang menggambarkan kegelisahan terhadap situasi politik, hukum, dan kepemimpinan nasional. Banyak pihak menilai lagu ini sebagai cermin keresahan publik yang selama ini terpendam.
Viralnya lagu tersebut mempertegas posisi Slank sebagai band yang tidak hanya berkarya untuk hiburan, tetapi juga mengambil peran sebagai penyampai kritik sosial. Sejarah panjang Slank dalam mengawal isu moral dan demokrasi membuat lagu ini dipandang sebagai lanjutan dari konsistensi mereka dalam menyuarakan kegelisahan rakyat. (fajar)



