Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka menguat beriringan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (2/1/2026). Kinerja hijau ini sejalan dengan lonjakan saham INCO, NCKL, BUMI, hingga ADMR.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini naik tipis 0,02% ke 553,35 hingga pukul 09.02 WIB. Tercatat sebanyak 15 saham menguat, 11 terkoreksi, dan 1 stagnan.
Saham dengan kenaikan harga tertinggi dipimpin oleh PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) sebesar 4,35% ke Rp5.460 per saham, lalu diikuti PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang menguat 4% menjadi Rp1.170 per saham.
Saham lain yang terapresiasi adalah PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan kenaikan 3,28% menjadi Rp378 per saham, sementara saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) juga tumbuh 3,21% ke Rp1.610.
Adapun penurunan ditorehkan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang terkoreksi 1,14% ke Rp4.320, sementara PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) mengalami penurunan sebesar 1,09% menjadi Rp1.360 per saham.
IHSG sendiri naik 0,30% menuju posisi 8.673,25 hingga pukul 09.02 WIB. Hari ini, indeks komposit dibuka pada level 8.676,74 dan sempat ke posisi 8.692,93.
Baca Juga
- Grafik Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat, 2 Januari 2026
- Harga Emas Batangan 24 Karat di Butik LM Antam Hari Ini, 2 Januari 2026 Naik Tajam
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (2/1) Dibuka Melemah jadi Rp16.699 per Dolar AS
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan memproyeksikan bahwa IHSG berpeluang menguat dan menguji level 8.680 hingga 8.725 pada hari ini.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI mengindikasikan berlanjutnya reversal menuju area pivot. Histogram negatif MACD juga menyempit, memperlihatkan tekanan jual mulai melambat dan ada potensi pembalikan tren ke atas.
“IHSG juga berhasil ditutup di atas level MA5 dan MA20, sehingga diperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut,” ujar Valdy dalam riset harian.
Menurutnya, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis hari ini. Salah satunya Indeks S&P Global Manufacturing PMI bulan Desember yang diproyeksikan membaik ke level 53,6 dari 53,3 pada November.
Neraca perdagangan November 2025 turut diyakini membukukan surplus sebesar US$2,7 miliar dari sebelumnya surplus US$2,4 miliar di Oktober.
Sementara itu, Valdy menyatakan bahwa data inflasi bulan Desember 2025 diestimasikan melambat menjadi 2,5% YoY dari 2,72% YoY di November 2025.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





