Kaleidoskop 2025: Sisi Lain Jakarta di Balik Gedung Mewah

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita


JAKARTA, KOMPAS.com — Sepanjang tahun 2025, Jakarta tak hentinya bersolek dengan narasi kemajuan sebagai Kota Global.

Gedung-gedung pencakar langit bertambah, transportasi umum semakin terintegrasi, dan ruang publik terus dipercantik.

Namun, di balik megahnya gedung-gedung Jakarta, tersimpan realitas lain yaitu kemiskinan, sanitasi buruk, dan warga yang tak mampu memiliki hunian yang layak.

Baca juga: WC Umum Baru di Gang Kelinci Dibangun di Lahan Hibah

Di tengah gedung-gedung pencakar langit, masih banyak warga ibu kota yang hidup tanpa matahari, tidur beralaskan debu jalanan, hingga tak memiliki akses langsung ke sungai di sebelah kawasan elite.

Warga Tak Punya WC

Salah satu kondisi paling miris di balik pembangunan Jakarta ada di Gang Kelinci, Kemanggisan, Jakarta Barat.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=kaleidoskop 2025, kemiskinan ekstrem Jakarta, sanitasi buruk Jakarta, hunian tidak layak Jakarta, warga Jakarta terlupakan&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wMi8wOTUzMzAwMS9rYWxlaWRvc2tvcC0yMDI1LXNpc2ktbGFpbi1qYWthcnRhLWRpLWJhbGlrLWdlZHVuZy1tZXdhaA==&q=Kaleidoskop 2025: Sisi Lain Jakarta di Balik Gedung Mewah§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Di lokasi yang tak jauh dari Jalan Arteri Letjen S. Parman dan dikelilingi kompleks perumahan elite, ratusan warga hidup dengan sanitasi yang jauh dari kata layak.

Selama puluhan tahun, warga di permukiman padat ini mengandalkan bilik kayu seadanya yang didirikan di atas aliran Kali Inspeksi/Sekretaris untuk buang air besar (BAB).

Mayoritas warga tidak memiliki septic tank, sehingga warga harus membawa ember sendiri, jongkok di atas papan berlubang, dan membiarkan kotoran jatuh langsung ke sungai yang mengalir di bawah kaki mereka.

Amsor (30), salah seorang warga, menyebut banyak rumah di gang tersebut tidak dilengkapi dengan WC karena tidak adanya lahan untuk septic tank.

"Karena pada enggak punya septic tank, akhirnya enggak pada bikin WC. Udah terbiasa dari dulu, dari zaman saya orok (bayi) udah begini," kata Amsor saat ditemui Kompas.com di lokasi.

Baca juga: Kisah Minah Hidup di Rumah Sepetak dan Gang Gelap Jakarta

Menurutnya, sebagian rumah warga tidak memiliki WC dan hanya memiliki kamar mandi untuk mandi dan buang air kecil.

Sehingga, saluran pembuangan yang hanya berupa saluran air pun tidak dapat menyalurkan pembuangan kotoran saat BAB.

Ketua RT 07 RW 03 Kemanggisan, Mia menyebut wilayahnya merupakan RT terpadat di seluruh Kelurahan Kemanggisan, dihuni lebih dari 200 KK dalam gang-gang sempit.

"Kita tuh (rumah) 15 meter aja larinya ke atas (bangun rumah). Jadi kebentur tanah, lahan, tempat, enggak ada lahan buat septic tank," ujar Mia.

Akibat ketiadaan lahan itu, warga yang tidak memiliki WC terpaksa bergantung pada bilik-bilik darurat yang berdiri tepat di atas aliran Kali Inspeksi.

Mia menegaskan bahwa program perbaikan sanitasi dari pemerintah sebenarnya tersedia dan gratis.

Namun, program tersebut tidak bisa berjalan karena tak adanya lahan yang bisa digunakan sebagai tempat pembuatan septic tank.

Solusi baru akhirnya hadir di pengujung tahun 2025, karena adanya inisiatif warga yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun septic tank komunal.

Kampung Tanpa Matahari di Pasar Pisang

Potret miris lainnya terekam di Kampung Pasar Pisang, Taman Sari, di mana kepadatan penduduk sangat terasa dengan satu RT dihuni oleh lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK).

Saking padatnya, bangunan rumah berdiri tumpang tindih antara bantaran rel kereta api dan lorong gang di bawahnya.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

"Kalau sekarang, satu RT itu di RT 07 RW 01 sini kayaknya 200 KK (kartu keluarga) mah ada. Dulu, pas sebelum kolong tol digusur, lebih banyak lagi," ujar Windi, salah satu warga saat ditemui Kompas.com di lokasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tinjau Bencana Sumatra, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Pengungsi
• 18 jam lalusuara.com
thumb
5 Syarat dan Doa Mandi Wajib untuk Pria, Lengkap dengan Tata Caranya
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Presiden Somalia Heran Israel Akui Somaliland, Sindir Suka Ikut Campur
• 17 jam laludetik.com
thumb
Malaysia Kecam Larangan Israel Terhadap Organisasi Kemanusiaan di Gaza
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Usai Tragedi KM Putri Sakinah, Kemenpar Fokus Tingkatkan Keamanan Wisata di 2026
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.