Studi Ungkap Bahaya Anak Pegang HP Terlalu Dini: Ganggu Tidur - Kesehatan Mental

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Memberikan smartphone terlalu dini kepada anak ternyata bukan perkara sepele. Analisis terbaru menunjukkan, keputusan orang tua soal kapan anak pertama kali memegang smartphone bisa berdampak panjang pada kesehatan fisik dan mental mereka.

Dilansir Washington Post, penelitian yang dilakukan psikolog sekaligus psikiater anak dan remaja di Children’s Hospital of Philadelphia, Michael Barzilay, dan rekannya, menganalisis lebih dari 10.500 anak di 21 lokasi di Amerika Serikat.

Hasilnya, anak yang menerima ponsel pada usia 12 tahun, dibandingkan dengan anak 13 tahun, memiliki risiko gangguan tidur 60 persen lebih tinggi. Mereka juga mengalami risiko obesitas yang meningkat lebih dari 40 persen.

Selama bertahun-tahun, perdebatan soal remaja dan layar gawai selalu berada di wilayah abu-abu. Orang tua, guru, dokter, hingga pembuat kebijakan saling beradu argumen tentang apakah ponsel dan media sosial benar-benar merusak generasi muda. Masalahnya, bukti ilmiah yang ada kerap tipis, anekdotal, atau bahkan saling bertentangan.

Namun, situasinya berubah drastis pada paruh kedua 2025. Sejumlah studi berskala besar mulai memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dampak akses HP yang terlalu dini dan penggunaan layar berlebihan terhadap remaja. Untuk pertama kalinya, temuan dari berbagai penelitian besar tampak saling menguatkan, sesuatu yang jarang terjadi pada riset-riset sebelumnya.

Angkanya menunjukkan dampak screen time di gadget jauh lebih luas dan dalam dari yang dibayangkan banyak orang. Dalam berbagai studi, screen time yang tinggi dikaitkan dengan penurunan kinerja kognitif yang terukur, kecepatan memproses informasi melambat, perhatian menurun, dan daya ingat melemah.

Tingkat depresi dan kecemasan juga meningkat seiring intensitas penggunaan media sosial. Kualitas tidur memburuk ketika layar terus menyala hingga larut malam. Bahkan, kebiasaan menatap layar kini dikaitkan dengan peningkatan berat badan pada remaja.

Perdebatan pun bergeser. Bukan lagi soal apakah screen time berdampak, melainkan seberapa jauh dampaknya dan apa yang harus dilakukan orang untuk mengatasinya.

Australia baru-baru ini menjadi negara pertama di dunia yang melarang media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Perusahaan seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook diwajibkan memblokir akses mulai 10 Desember 2025. Malaysia menyusul dengan rencana larangan serupa tahun depan. Sejumlah negara lain kini mengamati langkah tersebut sambil mempertimbangkan kebijakan mereka sendiri.

Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian telah meloloskan undang-undang yang membatasi akses anak ke media sosial. Rahm Emanuel, mantan Wali Kota Chicago yang disebut-sebut bakal maju dalam pemilihan presiden AS 2028 dari Partai Demokrat, bahkan menyebut penggunaan media sosial pada anak sebagai krisis kesehatan publik dan mendorong AS mengikuti jejak Australia.

Risiko Screen Time

Sejak Steve Jobs naik ke panggung di San Francisco pada 2007 dengan turtleneck hitam khasnya dan memperkenalkan iPhone pertama, perdebatan soal dampak smartphone terutama bagi anak-anak banyak bertumpu pada cerita personal. Guru menyalahkan TikTok atas nilai yang menurun, orang tua khawatir anak kecanduan game, dan klinisi menunjuk perundungan daring serta meningkatnya kasus melukai diri pada remaja.

Namun, di balik panasnya perdebatan budaya, sains berjalan lebih lambat. Salah satu tantangan terbesar adalah metode penelitian. Ponsel tak bisa diuji seperti obat dalam uji klinis terkontrol. Mayoritas studi tentang remaja dan screen time bersifat observasional, menelusuri data besar untuk menemukan keterkaitan antara kebiasaan digital dan kesehatan. Studi semacam ini tak bisa membuktikan sebab-akibat, tetapi seiring waktu, pola yang muncul semakin sulit diabaikan.

Terobosan besar datang dari Adolescent Brain and Cognitive Development (ABCD) Study, proyek yang didanai National Institutes of Health AS dan melacak hampir 12.000 anak kelahiran 2005 hingga 2009. Seiring bertambahnya usia para peserta, peneliti kini memiliki gambaran longitudinal yang belum pernah ada sebelumnya tentang perkembangan remaja, dan bagaimana teknologi membentuknya.

Salah satu studi penting yang terbit di JAMA pada Juni 2025 lalu, membedakan antara total menatap layar dan apa yang disebut “penggunaan adiktif”. Perbedaannya signifikan. Total jam daring tidak memprediksi risiko bunuh diri. Namun, pola kompulsif, termasuk gelisah saat jauh dari ponsel, dan sulit mengurangi penggunaan, justru berkaitan kuat dengan risiko tersebut.

Remaja dengan penggunaan adiktif yang meningkat dari waktu ke waktu memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat mengalami pikiran dan perilaku bunuh diri dibandingkan mereka yang penggunaannya tetap rendah.

Studi yang sama juga menemukan perbedaan risiko berdasarkan jenis aktivitas daring. Penggunaan video game yang tinggi berkaitan dengan masalah kesehatan mental internal seperti kecemasan dan depresi. Sementara penggunaan media sosial yang tinggi cenderung berhubungan dengan perilaku eksternal seperti melanggar aturan dan agresivitas.

Profesor ilmu kesehatan populasi di Weill Cornell Medicine, Yunyu Xiao, menilai temuan ini menunjukkan bahwa ada kelompok anak yang lebih rentan terhadap dampak negatif platform daring.

Kognisi, Memori, Fokus, dan Belajar

Desember 2025, serangkaian analisis baru dari data ABCD kembali dirilis. Salah satunya sebuah riset di JAMA, menelaah hubungan penggunaan media sosial dengan kinerja kognitif anak usia 9 hingga 13 tahun. Peneliti membagi anak ke dalam tiga kelompok: anak yang hampir tidak menggunakan gadget, penggunaan rendah tapi meningkat, dan penggunaan tinggi yang terus meningkat.

Anak dalam dua kelompok terakhir menunjukkan performa kognitif yang sedikit lebih rendah dalam berbagai tes, mulai dari membaca lisan, memori urutan gambar, hingga kosakata. Perbedaannya memang tidak besar, tetapi konsisten.

Penulis utama Jason Nagata dari University of California, San Francisco, mengatakan selisih ini bisa dianalogikan seperti nilai sekolah yang turun dari A ke B.

“Yang mengejutkan saya adalah bahkan pengguna yang jarang memakai media sosial—sekitar satu jam bermain media sosial per hari—menunjukkan penurunan kognitif dibandingkan mereka yang sama sekali tidak menggunakan,” katanya.

Studi lain di jurnal Pediatrics menemukan bahwa penggunaan media sosial—tidak bermain game atau menonton acara—berkaitan dengan meningkatnya gejala kurang perhatian.

“Media sosial memberi distraksi konstan,” kata Torkel Klingberg, profesor neurosains kognitif dari Karolinska Institutet. “Kalau bukan notifikasinya, ya pikiran tentang apakah ada pesan baru.”

Analisis lain yang dipimpin Barzilay dan terbit di Pediatrics pada 1 Desember 2025 menyoroti usia saat anak menerima smartphone pertama. Kesimpulannya sejalan dengan studi internasional besar yang terbit Juli lalu, di mana menerima smartphone sebelum usia 13 tahun dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk di usia dewasa muda, terutama pada perempuan, mulai dari pikiran bunuh diri hingga rendahnya harga diri. Meski begitu, Barzilay menegaskan dirinya tidak anti-teknologi.

“Teknologi punya banyak manfaat. Tapi keputusan kapan anak diberi ponsel harus diambil dengan serius,” ujarnya.

Para ahli menekankan, solusi paling efektif bukan larangan keras, melainkan teladan. Anak cenderung meniru kebiasaan orang tua, terutama soal penggunaan ponsel di malam hari. Penelitian menunjukkan, mengurangi waktu menatap layar secara bertahap, bahkan satu jam per hari, lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan berhenti total.

Pada akhirnya, orang tua memainkan peran besar dalam menjaga anak dari dampak buruk bermain gawai atau media sosial. Banyak riset telah menunjukkan bahwa memberi anak gadget terlalu dini tidak baik untuk kesehatan fisik maupun mental mereka. Pesannya, biarkan anak menjadi anak, sementara gawai memang baiknya diberikan untuk mereka yang sudah matang secara usia dan pikiran.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megaproyek The Giant Sea Wall, Solusi atau Masalah Baru?
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bulog Usulkan Kenaikan Margin Fee 7% Agar Beras SPHP Bisa Satu Harga
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
InJourney Airports Layani 8,23 Juta Penumpang Selama Nataru
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Mendagri Minta Kepala Daerah Aceh Percepat Data Rumah Rusak Akibat Bencana
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
Kebakaran di Resor Ski Swiss Saat Pesta Tahun Baru, 40 Tewas
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.