EtIndonesia. Pada 31 Desember 2025, aksi protes nasional di Iran telah memasuki hari keempat dan terus meluas. Di sejumlah wilayah, warga berupaya menyerbu gedung-gedung pemerintah, dan bentrokan antara pasukan keamanan dan massa terjadi di berbagai tempat. Pemerintah Iran dalam sebuah pernyataan langka menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan masyarakat.
Kota Fasa, yang terletak di wilayah tengah-selatan Iran, menjadi pusat aksi protes. Video yang disiarkan media pemerintah Iran menunjukkan bahwa pada 31 Desember, massa demonstran mencoba menyerbu kantor gubernur setempat, serta membakar dan melempari gedung pemerintahan daerah dengan batu.
Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip pernyataan pejabat setempat yang menyebutkan bahwa empat demonstran telah ditangkap, termasuk seorang perempuan berusia 28 tahun yang disebut-sebut sebagai pemimpin aksi protes. Laporan tersebut menyatakan tiga polisi mengalami luka-luka, dan membantah adanya korban jiwa.
Aksi protes juga meluas ke lingkungan universitas. Pada 30 Desember, ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di empat universitas di Teheran.
Pada hari yang sama, seorang perempuan Yahudi keturunan Iran menulis di media sosial X:
“Malam ini, kota Hamedan di Iran berada dalam kekacauan, orang-orang ditembaki dengan peluru.”
Dalam video yang beredar, terdengar suara tembakan.
Di dunia maya juga beredar banyak video perempuan muda Iran dengan berani melepas kerudung sebagai bentuk perlawanan. Dalam video-video tersebut, mereka membuat gerakan meminta pertolongan lalu melepaskan kerudung mereka.
Di Iran, perempuan yang tidak mengenakan kerudung di tempat umum dianggap melanggar hukum dan dapat dipenjara.
Pada 30 Desember, para demonstran turun ke jalan-jalan di Teheran dan wilayah sekitar ibu kota. Sebuah video memperlihatkan para demonstran meneriakkan nama Raja Pahlavi, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Ada pula warga yang menyerukan agar Putra Mahkota Dinasti Pahlavi, Reza Pahlavi, yang saat ini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, memimpin Iran menuju negara yang baru dan bebas. Putra Mahkota tersebut menyerukan rakyat Iran untuk bergabung dalam aksi protes dan pemogokan nasional.
Pemicu utama aksi protes nasional ini adalah persoalan kenaikan harga. Sejak Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran pada 2018, negara tersebut terjerumus ke dalam kesulitan ekonomi.
Sepanjang tahun 2025, nilai tukar mata uang Iran, rial, terhadap dolar AS telah terdepresiasi hampir setengahnya, yang menyebabkan harga pangan melonjak tajam. Tingkat inflasi pada bulan Desember mencapai 42,5%.
Pemerintah Iran menyatakan bersedia membangun sebuah “mekanisme dialog” dengan para pemimpin aksi protes, namun belum menjelaskan bagaimana mekanisme tersebut akan dijalankan. Presiden Masoud Pezeshkian pada Senin malam menyatakan di media sosial bahwa ia telah meminta Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan “tuntutan yang sah” dari para demonstran.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah berkali-kali dilanda aksi protes nasional yang dipicu oleh masalah harga, kekeringan, hak-hak perempuan, dan kebebasan politik. Sebelumnya, pemerintah selalu menanggapi protes-protes tersebut dengan tindakan represif. (Hui)
Liu Mingxiang





