Studi: Belajar Hanya Mengandalkan AI Kurang Efektif Dibanding Mencatat

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin memudahkan aktivitas kita, baik untuk kegiatan sehari-hari hingga kebutuhan belajar. Tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang kini mengandalkannya untuk merangkum materi hingga menjawab soal, tanpa perlu mencatat atau mengolah informasi sendiri.

Namun, kemudahan ini juga memunculkan pertanyaan: apakah belajar dengan bantuan AI saja sudah cukup efektif untuk memahami dan mengingat materi dalam jangka panjang?

Di tengah kemudahan ini, para ahli justru mengingatkan pentingnya proses aktif dalam belajar, seperti mencatat dan mengolah informasi secara mandiri, Moms.

Sebuah studi baru oleh Cambridge University Press & Assessment dan Microsoft Research menunjukkan, aktivitas pembelajaran tradisional seperti membuat catatan tetap penting untuk pemahaman dan daya ingat bacaan siswa.

Studi ini juga menunjukkan bahwa Learning Learning Models (LLM), seperti ChatGPT atau Microsoft Copilot, dapat menjadi alat yang berguna untuk membantu siswa mengklarifikasi, mengeksplorasi, dan mengkontekstualisasikan materi pembelajaran mereka.

Meskipun banyak siswa sudah menggunakan LLM, masih kurang penelitian tentang dampak AI pada proses pembelajaran mendasar terhadap para siswa.

Bagaimana Hasil Temuan Studi Ini?

Dikutip dari laman resmi Harvard, studi gabungan yang dimuat dalam jurnal Computers & Education ini menjadi salah satu eksperimen kelas acak pertama yang mengkaji bagaimana penggunaan AI, seperti ChatGPT, memengaruhi pemahaman dan daya ingat siswa saat belajar.

Penelitian melibatkan 405 siswa sekolah menengah berusia 14–15 tahun dari tujuh sekolah di berbagai wilayah Inggris. Para siswa diminta mempelajari dua materi sejarah yang termasuk dalam kurikulum nasional Inggris, yakni tentang apartheid di Afrika Selatan dan krisis rudal Kuba.

Peserta kemudian dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mempelajari satu materi dengan bantuan ChatGPT 3.5 Turbo, sementara materi lainnya dipelajari dengan cara mencatat. Sementara itu, kelompok kedua juga menggunakan AI untuk satu materi, tetapi pada materi lainnya mereka diminta mengombinasikan penggunaan AI dengan membuat catatan.

Dalam setiap skenario penggunaan AI, para siswa terlebih dahulu mendapatkan tutorial singkat dan bebas memanfaatkan alat tersebut sesuai kebutuhan mereka selama belajar.

Tiga hari kemudian, tanpa pemberitahuan sebelumnya, para siswa mengikuti tes untuk mengukur sejauh mana mereka memahami dan mengingat isi kedua materi tersebut. Beberapa pertanyaan yang diajukan, misalnya tentang peristiwa Pemberontakan Pemuda Soweto pada 1976 dan peran Uni Soviet dalam Krisis Rudal Kuba.

Setelah sesi belajar dan tes selesai, para siswa juga diminta membagikan pendapat mereka tentang pengalaman tersebut, termasuk apakah mereka merasa tertarik dan menikmati proses belajarnya.

Nah Moms, seperti apa hasilnya?

Hasil penelitian menunjukkan, membuat catatan —baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan penggunaan AI— lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan AI saja dalam membantu siswa memahami dan mengingat informasi baru.

Meski demikian, siswa mengaku menikmati penggunaan AI karena membantu mereka lebih terlibat dan mengeksplorasi topik-topik relevan di luar teks pembelajaran.

Penulis utama studi ini, Dr. Pia Kreijkes, Peneliti Senior di Cambridge University Press & Assessment, menjelaskan penggunaan chatbot dan alat berbasis AI sudah menjadi bagian dari keseharian siswa, termasuk untuk membantu mengerjakan tugas sekolah. Namun, penelitian tentang dampak penggunaan AI terhadap kemampuan memahami dan mengingat informasi masih tergolong terbatas.

“Studi kami menunjukkan bahwa siswa senang menggunakan chatbot AI, tetapi mencatat lebih efektif untuk hasil pembelajaran. Temuan kami dapat menjadi panduan dalam penggunaan AI untuk pembelajaran,” ujar Dr. Kreijkes.

Ia menekankan pentingnya siswa tetap mencatat secara terpisah saat menggunakan AI, agar tidak sekadar menyalin informasi yang dihasilkan AI. Selain itu, siswa juga perlu mendapatkan pelatihan dan pendampingan tentang cara memanfaatkan AI secara tepat untuk mendukung pembelajaran yang aktif dan bermakna.

Ia juga menambahkan, guru dapat mengambil manfaat dari penggunaan AI oleh siswa. Ke depannya, wawasan dari interaksi siswa dengan AI berpotensi membantu guru memahami area yang membutuhkan dukungan lebih, sehingga materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Senada, Dr. Jake Hofman, Peneliti Utama Senior di Microsoft Research, mengaku terkejut melihat banyaknya siswa yang menggunakan AI untuk memperdalam pemahaman mereka.

“Mereka menggunakannya untuk bertanya tentang konteks sejarah, mengklarifikasi referensi yang belum dipahami, hingga mengeksplorasi makna dari peristiwa-peristiwa penting,” ujar dr. Hofman.

Meski begitu, ia menekankan AI tetap bisa bermanfaat sebagai pendamping, dan bukan cara belajar yang paling efektif.

"Daripada memandang teknik pembelajaran tradisional, seperti mencatat, dan pendekatan AI generatif yang lebih baru sebagai alternatif yang bersaing, kita seharusnya memandang keduanya sebagai pelengkap," tutup dia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nasib Bayi di Pengungsian Aceh Tamiang: Patah Bahu Saat Lahir, Dievakuasi ke RS
• 50 menit lalukumparan.com
thumb
Resmi Naik 5 Januari 2026, Berikut Daftar Tarif Terbaru Tol Sedyatmo
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Bentengi Masyarakat dari Pinjol Ilegal, Begini Saran Ekonom
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
34.976 pengunjung padati Kota Tua pada malam tahun baru
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
BNI Dukung Danantara Hadirkan Hunian Layak bagi Korban Bencana di Aceh Tamiang
• 2 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.