Perum Bulog berencana menyeragamkan harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi satu harga nasional sebesar Rp 11.000 per kilogram (kg). Dengan demikian kebijakan ini akan menghapus skema tiga zona Harga Eceran Tertinggi (HET) harga beras SPHP yang selama ini berlaku.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan rencana tersebut baru bisa dilakukan jika ada kenaikan margin fee Bulog menjadi 7 persen.
“Jadi nanti harga dari Sabang sampai Merauke, harganya SPHP itu Rp 11.000 (per kg). Nah dengan catatan margin fee-nya harus naik dulu. Karena kalau nggak naik, nggak cukup lah untuk ngongkosin ke daerah-daerah transportasinya agak mahal,” kata Ahmad Rizal dalam gelaran Konferensi Pers Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Kantor Bulog, Jakarta, Jumat (2/1).
Usulan kenaikan margin fee tersebut telah dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) bersama dengan Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). Hanya saja Zulhas belum membeberkan berapa persen kenaikan margin fee Bulog yang diketok.
Sementara, besaran margin fee yang diusulkan Bulog mengacu pada BUMN lain seperti PLN dan Pertamina yang berada di kisaran 7 persen.
“Kenaikan margin fee ini, kami mengacu dengan saudara-saudara kami yaitu BUMN yang lain PLN dan Pertamina juga dapat. Margin fee 7 persen, kalau nggak salah,” tuturnya.
Berbeda dengan PLN dan Pertamina yang sudah mengantongi margin fee sekitar 7 persen, margin fee Bulog tidak mengalami perubahan sejak 2012 dan masih berada di angka Rp 50. Menurut Ahmad Rizal, kenaikan margin fee ini diharapkan bisa diikuti dengan peningkatan layanan kepada masyarakat.
“Bulog ini sejak tahun 2012, margin fee-nya hanya Rp 50. Nah, berkaitan dengan prestasi Bulog, bahkan sekarang ini bisa jadi swasembada pangan, syukur alhamdulillah ini Bulog diberikan apresiasi oleh pemerintah direncanakan akan disetujui untuk kenaikan margin fee-nya itu,” jelasnya.




