FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Tersangka dugaan fitnah ijazah palsu Presiden ke-7 RI Jokowi, Roy Suryo, memberikan dukungan terhadap lagu terbaru Slank berjudul Republik Fufufafa yang dirilis pada akhir Desember 2025.
Roy menyampaikan apresiasinya kepada grup band legendaris tersebut bertepatan dengan peringatan ulang tahun Slank yang ke-42 pada 26 Desember lalu.
Ia menegaskan bahwa lagu ciptaan Bimo Setiawan atau Bim-Bim itu sarat pesan kritik dan menggugah kesadaran publik.
“Saya ingin memberikan dukungan dan apresiasi terhadap grup band Legendaris Slank yang pada saat peringatan ulang tahunnya ke-42 kemarin, pada saat 26 Desember 2025, membuat satu lagu yang sangat bagus dengan judul Republik Fufufafa,” ujar Roy dikutip pada Kamis (2/1/2026).
Dalam pandangannya, lirik lagu Republik Fufufafa secara lugas menyinggung berbagai bentuk kecanduan kekuasaan.
Roy kemudian menyinggung beberapa potongan lirik yang menurutnya kuat secara pesan.
“Di lagu yang diciptakan oleh Bimo Setiawan atau Bim-Bim ini, terdapat kata-kata sakau kuasa, sakau narkoba, sakau berjudi, dan sebagainya,” lanjutnya.
Roy juga mengaitkan judul dan pesan lagu tersebut dengan sosok yang kerap ia sebut sebagai Fufufafa.
Ia bahkan menyebut publik sudah memahami siapa yang dimaksud dalam lagu tersebut.
“Dan kita tahu semua, 99,9 persen Fufufafa itu siapa? Orang yang tidak punya ijazah SMA,” tukasnya.
Mantan Menpora itu menuturkan bahwa Slank kini kembali berada di jalur kritik sosial yang tajam, berbeda dengan sikap mereka pada masa lalu.
“Nah, ini jadi luar biasa. Slank ini sudah kembali akal,” ucap Roy.
Ia pun mengajak masyarakat untuk menjadikan lagu tersebut sebagai momentum kebangkitan nalar publik dalam menyikapi situasi politik nasional.
“Dan mari kita mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan akal waras,” imbuhnya.
Roy juga membandingkan lagu Republik Fufufafa dengan karya Slank sebelumnya yang berjudul Anak Mami.
Menurutnya, lagu terbaru ini memiliki sasaran kritik yang lebih tegas.
“Nah, jadi ini adalah merupakan lagu yang benar-benar dibuat untuk Fufufafa. Sedikit berbeda dengan lagu ‘anak mami’, yang waktu itu digunakan untuk menyindir adiknya Fufufafa yang nebeng pesawat,” jelasnya.
Tidak berhenti di situ, Roy mengajak publik menjadikan awal 2026 sebagai titik awal gerakan politik berbasis kesadaran dan nalar sehat.
“Jadi, memasuki tahun 2026 ini, mari kita lakukan gerakan bersama-sama akal waras untuk makzulkan Fufufafa,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)





