Sepanjang 2025, industri perfilman Indonesia mencatat sejarah baru. Dalam satu tahun kalender, rekor film Indonesia terlaris sepanjang masa pecah dua kali.
Fenomena ini diawali oleh kesuksesan film animasi JUMBO di pertengahan tahun, yang kemudian disusul oleh ledakan penonton Agak Laen 2 di penghujung 2025.
Namun, di balik kesuksesan ini, sutradara dan CEO Visinema Angga Sasongko memberikan peringatan mengenai kesehatan ekosistem film nasional. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, Angga melihat tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai.
"Rekor film Indonesia terlaris sepanjang masa patah dua kali dalam satu tahun. Pertama oleh JUMBO di tengah tahun, lalu Agak Laen 2 di akhir tahun. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi industri yang sedang tumbuh seperti film Indonesia," tulis Angga.
"Namun ini juga merupakan peringatan dini," lanjutnya.
Ketimpangan EkstremData menunjukkan sepanjang tahun 2025, lebih dari 120 juta tiket bioskop terjual untuk film nasional. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2024 yang berada di kisaran 100 tiket bioskop yang terjual.
Meski ada peningkatan, Angga menyoroti ada ketimpangan ekstrem dalam distribusi jumlah penonton tersebut. Dari total 120 juta tiket yang terjual, sebanyak 21 juta tiket atau hampir 18 persen dari total pasar hanya disumbang oleh dua film saja, yaitu JUMBO dan Agak Laen 2.
Menurut Angga, kondisi ini menyiratkan bahwa tingkat keberhasilan per judul film justru mengalami penurunan.
"Artinya, tingkat kemenangan per film menurun. Harus ada transformasi besar di sisi produk-produk filmnya, juga pendekatan penyusunan programnya," tulis Angga.
Sutradara film Mencuri Raden Saleh itu menekankan, gejolak industri hiburan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, sangat penting menjaga rasio menang-kalah di batas yang masuk akal agar putaran arus modal jadi berkelanjutan.
Empat Fakta Pahit di Balik Kesuksesan JUMBO dan Agak Laen 2Angga menjelaskan, ada empat realitas pahit yang sedang dihadapi industri saat ini. Pertama, fenomena "The Winner Takes It All", di mana para jawara film mengambil hampir seluruh porsi pasar secara ekstrem.
Kedua, tingkat kemenangan per judul yang terus merosot. Ketiga, tergerusnya film-film kelas menengah yang biasanya menjadi tulang punggung stabilitas industri. Keempat, ada risiko arus kas yang kini berpindah dari bioskop ke pundak para produser.
Di mata Angga, pola lama di mana produser memproduksi satu film dengan harapan bisa mencapai angka rata-rata penonton yang aman kini tidak lagi relevan.
"Artinya, model lama seperti melakukan taruhan tunggal dan berharap pada hasil rata-rata sudah ketinggalan zaman," tulis Angga.
Di tahun 2025, rata-rata pendapatan film Indonesia justru menurun dibandingkan tahun 2024, karena penonton cenderung hanya berkumpul di film-film yang sangat viral saja.
Lebih lanjut, Angga menyebut situasi ini sebagai sebuah peristiwa 'black swan' atau kejadian langka yang tak terduga, tetapi berdampak besar.
"Film indonesia menurun dari tahun 2024, dengan JUMBO Jumbo dan Agak Laen pecahkan rekor dalam 1 tahun kalender. Ada sensasi euforia, padahal kalau lihat
datanya lebih dalam, ini malah warning sign. Black swan," tulis Angga menanggapi komentar salah satu netizen.
Solusi dari Angga SasongkoKetimpangan pendapatan antara film 'blockbuster' dengan film lainnya menciptakan jurang yang sangat lebar, sehingga banyak produser film menengah kesulitan untuk sekadar balik modal.
Oleh karenanya, Angga menyerukan agar pertumbuhan industri ini dapat dinikmati oleh semua pemangku kepentingan, bukan hanya segelintir orang.
"Penting untuk menjaga rasio menang dan kalah agar dampak pertumbuhannya dinikmati semua pihak," tulis Angga.
Bagi Angga, film tidak lagi hanya sekadar karya kreatif, tetapi harus memiliki strategi pemrograman yang kuat agar tidak tenggelam di tengah dominasi film raksasa.
"Yang selamat ke depan bukan yang paling kreatif, tapi yang paling disiplin mengelola ketidakpastian atau gejolak pasar," tutup Angga.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5452181/original/009867600_1766389152-1000118591.jpg)

