Mengenal Tren Slow Run, Apa Itu dan Bagaimana Dampaknya ke Tubuh?

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Selama bertahun-tahun, banyak pelari, baik pemula maupun berpengalaman, meyakini satu prinsip sederhana: semakin cepat dan keras latihan dilakukan, semakin besar peningkatan performa yang didapat. Targetnya jelas, menaklukkan jarak yang sama dengan waktu lebih singkat, minggu demi minggu. 

Budaya personal best, jam tangan pintar, dan aplikasi lari ikut memperkuat obsesi terhadap kecepatan. Scroll untuk info lebih lanjut...

Baca Juga :
Komunitas Lari Indonesia Kian Serius Soal Performa dan Perlengkapan
Bingung Pilih Fun Run 5K atau 10K? Ini Kekurangan dan Kelebihannya

Namun, penelitian justru menunjukkan pendekatan yang berlawanan. Alih-alih selalu memacu diri, latihan lari dengan intensitas rendah atau “slow run” terbukti berperan penting dalam meningkatkan kecepatan, daya tahan, dan konsistensi performa dalam jangka panjang.

Menurut pelatih lari profesional Ben Rosario, yang juga direktur eksekutif tim HOKA NAZ Elite, latihan submaksimal memungkinkan tubuh menyimpan energi dan kekuatan untuk tampil optimal di momen penting, seperti hari perlombaan. 

Ia menjelaskan bahwa pelari yang terus berlatih keras setiap hari seringkali tidak pernah mencapai potensi kecepatan maksimalnya karena tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk pulih.

Masalah umum dari latihan dengan intensitas tinggi secara terus-menerus adalah kelelahan kronis dan stagnasi performa. Ketika semua sesi dilakukan di kecepatan yang sama, tubuh justru tidak mendapat manfaat maksimal, baik dari latihan cepat maupun latihan pemulihan.

Ilustrasi olahraga lari.
Photo :
  • vstory

 "Selain itu, tekanan berlebih pada otot, tendon, dan ligamen juga meningkatkan risiko cedera," ujarnya sebagaimana dikutip dari Women's Health, Jumat, 2 Januari 2026.

Pandangan serupa disampaikan oleh fisioterapis Brad Whitley. Ia menekankan bahwa pelari yang rutin memasukkan sesi lari pelan cenderung mengalami lebih sedikit cedera. Menurutnya, kunci utama adaptasi tubuh adalah pemulihan. "Tanpa jeda yang cukup, mekanisme perbaikan alami tubuh tidak bekerja secara optimal, sehingga risiko cedera meningkat," ungkapnya. 

Meski demikian, lari cepat tetap memiliki tempat dalam program latihan. Sprint dan interval berfungsi untuk membangun kekuatan dan kecepatan akhir. Namun, para ahli sepakat bahwa latihan intensitas tinggi sebaiknya dibatasi, terutama bagi pelari yang berlatih beberapa kali dalam seminggu.

Bagi pemula, konsep “slow run” sering kali terasa membingungkan. Pelatih Nike Running, Jes Woods, menyarankan untuk mengganti istilah “slow run” dengan “easy run”. 

Baca Juga :
Manfaat Lari untuk Perempuan, Beda Gak Sih dengan Laki-laki?
Lari Santai, Ada Manfaatnya Kah untuk Kesehatan?
Pelajar Ayo Daftar Soekarno Runniversary 2026, Dibuka 7 Desember dan Berhadiah Beasiswa

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Angka Kecelakaan dan Kriminalitas di Papua Turun Signifikan Selama Nataru
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapal Pesiar Ovation Of The Seas Bawa 4.684 Wisman ke Lombok, NTB Siapkan Strategi Perpanjang Masa Tinggal
• 9 jam lalupantau.com
thumb
KPK Terima 5.020 Laporan Gratifikasi Sepanjang 2025, Totalnya Rp16,4 Miliar
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Bebani Dunia Usaha, Kelompok Lobi Bisnis Jepang Desak Pemerintah Atasi Pelemahan Yen
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
PDIP Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD: Kebiri Terhadap Hak Politik Rakyat
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.