CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Thailand ternyata menyimpan jejak sejarah yang berkaitan erat dengan etnis Jawa asal Indonesia.
Di bagian selatan negara tersebut, tepatnya di Provinsi Phang Nga, terdapat sebuah desa terapung bernama Koh Panyee atau Koh Panyee, yang hingga kini masih menyimpan warisan budaya Jawa dan Islam.
Mengutip Thailand Magazine, Koh Panyee merupakan sebuah kampung nelayan yang berdiri di atas rumah-rumah panggung di tengah perairan Laut Andaman. Desa ini berada di sebuah teluk kecil yang dikelilingi tebing-tebing batu kapur menjulang, menciptakan pemandangan alam yang unik dan memikat wisatawan di laut Phang Nga Bay.
Koh Panyee pertama kali ditemukan sekitar 200 tahun lalu oleh tiga orang nelayan keturunan Jawa. Awalnya, mereka berlayar untuk mencari ikan, hingga akhirnya menemukan lokasi yang dirasa aman dan cocok untuk bermukim.
Ketika mulai menetap, ketiga nelayan tersebut memberi tanda keberadaan mereka dengan mengibarkan bendera di atas bukit batu kapur. Tanda ini kemudian menarik perhatian nelayan lain untuk datang dan menetap bersama. Seiring waktu, kampung kecil tersebut berkembang menjadi desa nelayan yang semakin ramai.
Koh Panyee dikenal luas sebagai kampung Muslim di Thailand. Mayoritas penduduknya beragama Islam dan hingga kini masih menjaga tradisi serta nilai-nilai keislaman. Keberadaan sebuah masjid di tengah desa menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat setempat.
Menariknya, generasi tua di Koh Panyee masih ada yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, menandakan kuatnya ikatan budaya dengan tanah leluhur mereka di Jawa.
Wikipedia mengungkapkan Koh Panyee dihuni sekitar 360 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih dari 1.685 jiwa, terdiri dari berbagai etnis, namun keturunan Muslim Jawa tetap menjadi bagian penting dalam sejarah desa.
Pada awalnya, masyarakat Koh Panyee hidup sepenuhnya dari sektor perikanan. Bahkan, mereka sempat tidak memiliki hak atas tanah karena statusnya sebagai pendatang, sesuai dengan aturan kepemilikan lahan di Thailand.
Namun, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, pemerintah Thailand akhirnya memberikan izin resmi bagi warga untuk menetap. Sejak saat itu, fasilitas desa mulai berkembang pesat.
Kini, Koh Panyee telah menjelma menjadi destinasi wisata populer. Warga tidak hanya bergantung pada hasil laut, tetapi juga membuka usaha seperti toko suvenir, penjualan pakaian, batik, hingga kerajinan dari kerang.
Meski berada di atas laut, Koh Panyee memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Di desa ini terdapat sekolah, pasar, toko, rumah sakit kecil, museum, restoran, area pemakaman, hingga penangkaran ikan.
Salah satu ikon unik Koh Panyee adalah lapangan sepak bola apung. Lapangan ini mulai dibangun setelah Piala Dunia 1986 dan awalnya hanya menggunakan bahan kayu sederhana. Kini, terdapat tiga lapangan apung yang menjadi tempat bermain dan berkumpul warga, khususnya anak-anak dan remaja.
Keberadaan Koh Panyee menjadi bukti nyata bagaimana komunitas kecil dengan latar belakang budaya Jawa mampu bertahan, berkembang, dan beradaptasi hingga menjadi salah satu ikon wisata budaya di Thailand.



