Jakarta, VIVA – Pasar kripto menunjukkan tanda-tanda pemulihan di perdagangan awal Januari 2026. Penguatan kembali (rebound) aset digital ini memberikan gambaran terkait meredakan tekanan yang membebani pergerakan harga kripto menjelang akhir bulan Desember 2025, apakah Januari efek (January effect) sudah terasa?
Dikutip Crypto News pada Jumat, 2 Januari 2026, Januari Efek merupakan pola musiman yang kerap mendorong kinerja aset berisiko di awal tahun. Kenaikan karena kembalinya minat investo ke aset berisiko setelah likuiditas tipis selama musim liburan Tahun Baru.
Total kapitalisasi pasar kripto menguat 1,2 persen menjadi US$3,08 triliun atau sekitar Rp 51.489,2 (estimasi kurs Rp 16.720 per dolar AS) pada Jumat, 2 Januari 2025.
Harga Bitcoin menguat 1,92 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$89.428 atau Rp 1,49 miliar pada pukul 17.03 WIB pada Jumat, 2 Januari 2025, dari data MarketCoinCap. Meski masih bergerak dalam rentang terbatas, arah pergerakan harga dinilai konstruktif.
- wikimedia
Penguatan lebih agresif justru terlihat pada koin-koin alternatif (altcoin). Cardano memimpin kenaikan dengan lonjakan 6,3 persen ke level US$0,3553.
Sui menyusul dengan penguatan 4,5 persen ke US$1,46. Pepe melonjak tajam 21 persen ke US$0,0548 terdorong kembalinya minat spekulatif ke pasar.
Indeks Crypto Fear & Greed dari Alternative terkerek delapan poin ke level 28, sehingga berpindah dari zona extreme fear ke zona fear. Perubahan ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda sejak akhir Desember, meski pelaku pasar masih bersikap hati-hati.
Data CoinGlass menunjukkan aktivitas derivatif kripto turut mendingin. Open interest turun 3,29 persen menjadi US$128 miliar, menandakan berkurangnya posisi spekulatif.
Likuidasi dalam 24 jam juga anjlok 46 persen menjadi US$126 juta. Sementara itu, rata-rata relative strength index (RSI) pasar kripto berada di level 56 yang mencerminkan momentum yang relatif netral.
Analis dari Grayscale, Bitwise, Coinbase Institutional, dan Galaxy Research sepakat memandang prospek 2026 secara lebih positif. Para analis menilai koreksi akhir 2025 ketika Bitcoin menutup tahun dengan penurunan sekitar 6 persen sebagai fase penyesuaian sementara bukan pembalikan dari tren naik jangka panjang.
Pemulihan ini terjadi seiring kembalinya aliran dana ke aset berisiko setelah likuiditas tipis selama libur akhir tahun. Secara historis, Januari kerap menjadi periode yang lebih kuat bagi kripto dan pasar saham, sebuah fenomena yang dikenal sebagai January effect.




