LEBIH dari satu bulan setelah banjir dan longsor melanda Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara, transparansi penyaluran bantuan kemanusiaan masih menjadi tanda tanya.
Hingga kini, pemerintah daerah belum membuka secara jelas kepada publik jumlah bantuan yang masuk maupun peruntukannya, baik yang bersumber dari APBN, APBD, bantuan lembaga, hingga donasi masyarakat, di tengah kebutuhan mendesak warga terdampak akan pemulihan yang nyata.
Padahal, informasi mengenai total bantuan yang masuk serta peruntukannya perlu diketahui masyarakat luas, khususnya warga terdampak bencana di Taput, guna memastikan penyaluran berjalan tepat sasaran dan akuntabel.
Selain itu, beredar isu di tengah masyarakat bahwa daerah terdampak bencana menerima bantuan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 1.000 liter per hari selama masa tanggap darurat. Namun, kebenaran informasi tersebut masih diragukan. Media Indonesia berupaya memperoleh konfirmasi resmi guna memastikan validitas kabar tersebut.
Bupati Tapanuli Utara, JTP Hutabarat, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pribadinya, Jumat (2/1), memilih tidak memberikan tanggapan.
Sikap serupa ditunjukkan Sekretaris Daerah Tapanuli Utara, Henry Maraden Masista Sitompul, yang juga tidak merespons upaya konfirmasi hingga berita ini diturunkan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Taput, Budiman Gultom, yang baru dilantik pada 30 Desember 2025, mengaku belum dapat memberikan keterangan. "Maaf saya belum bisa memberikan keterangan," ujarnya.
Saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (2/1), ia menyebut belum melakukan serah terima jabatan dengan pejabat sebelumnya sehingga belum menguasai data terkait bantuan pascabencana tersebut. (E-2)




