Surabaya (beritajatim.com) – Di balik bising mesin proyek dan percikan api las yang menyambar baja, jarang ada yang membayangkan lahirnya sebuah riset akademik.
Namun, dari ruang-ruang kerja itulah Heru Subiyantoro memulai perjalanan intelektualnya—sebuah perjalanan yang mengantarkannya meraih gelar Doktor dari Universitas Airlangga (UNAIR).
Bagi Heru, dunia konstruksi bukan sekadar urusan beton dan struktur bangunan. Ia melihat lebih jauh: manusia di balik helm proyek, tentang bagaimana kesejahteraan, penghargaan, dan pengakuan atas keahlian mampu menggerakkan kinerja mereka.
Pandangan itu ia tuangkan dalam disertasi berjudul “Pengaruh Compensation Terhadap Job Performance: Efek Mediasi Job Creativity dan Job Engagement serta Efek Moderator Labor Skill Status”.
Melalui sidang doktor terbuka di Sekolah Pascasarjana UNAIR, Jumat (2/1/2026), Heru dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.
Sidang tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Dengan kelulusan ini, Heru resmi tercatat sebagai Doktor ke-117 dari Program Studi Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) UNAIR.
Kegelisahan dari Lapangan Proyek
Riset Heru lahir bukan dari ruang kelas semata, melainkan dari kegelisahan sebagai praktisi. Ia menyaksikan langsung ketatnya persaingan di industri jasa konstruksi, sekaligus dinamika para pekerja lapangan yang kerap dinilai hanya dari target dan hasil akhir.
Melibatkan 223 karyawan bersertifikat keahlian yang tergabung dalam Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI), Heru mencoba membedah hubungan antara kompensasi, kreativitas, keterlibatan kerja, dan kinerja. Hasilnya cukup tegas: kompensasi tetap menjadi penggerak utama kinerja.
“Semakin adil dan sesuai kompensasi yang diterima, maka semakin tinggi pula kinerja yang dihasilkan untuk mencapai tujuan perusahaan,” ungkap Heru saat memaparkan temuannya.
Bagi pekerja konstruksi, upah bukan sekadar angka, melainkan simbol penghargaan atas tenaga, risiko, dan keahlian yang mereka pertaruhkan setiap hari.
Saat Kreativitas Tak Selalu Menjadi Jawaban
Namun, riset ini juga menyimpan kejutan. Di tengah wacana manajemen modern yang kerap mengagungkan kreativitas dan keterlibatan emosional karyawan, Heru menemukan fakta berbeda di lapangan.
Job creativity dan job engagement ternyata belum mampu menjadi jembatan efektif antara kompensasi dan kinerja.
Artinya, insentif finansial tidak otomatis membuat pekerja lebih kreatif atau lebih terikat secara emosional dengan perusahaan.
Bagi Heru, temuan ini menunjukkan bahwa karakter kerja di sektor kontraktor memiliki kekhasan tersendiri. Tanpa pengelolaan lingkungan kerja yang tepat, tuntutan kreativitas justru bisa menjadi beban, bukan pendorong.
Keahlian: Pembeda yang Menentukan
Satu variabel justru tampil sebagai penentu utama: status keahlian tenaga kerja (labor skill status). Heru menemukan bahwa keahlian yang diakui secara formal—melalui sertifikasi—memperkuat pengaruh kompensasi terhadap kinerja secara signifikan.
Dalam dunia proyek, seorang “tukang las” bersertifikat bukan sekadar pekerja teknis. Ketika keahliannya diakui dan dihargai secara finansial, produktivitasnya melonjak. Ia bekerja bukan lagi sekadar menyelesaikan tugas, tetapi menjadi bagian penting dari strategi perusahaan. Di titik inilah, kesejahteraan dan pengakuan bertemu.
Pesan dari Praktisi yang Menjadi Akademisi
Kini menyandang gelar Dr. Heru Subiyantoro, S.T., M.MT., Heru membawa pesan sederhana namun kuat bagi para pelaku industri konstruksi: perusahaan tidak boleh berhenti pada urusan upah.
Ia mendorong adanya evaluasi kompetensi secara berkala, pemberian ruang otonomi dalam bekerja, serta komunikasi yang lebih cair antara pimpinan dan pekerja. Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya perusahaan memfasilitasi sertifikasi keahlian bagi tenaga kerja yang belum memiliki pengakuan formal.
Perjalanan Heru—dari dunia proyek hingga mimbar akademik UNAIR—menjadi cermin bahwa pembangunan sumber daya manusia Indonesia harus dimulai dari bawah.
Dari tangan-tangan terampil yang setiap hari mengelas, membangun, dan mempertaruhkan keselamatan, dengan kebijakan kesejahteraan yang berpijak pada data, pengalaman, dan empati. (ted)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461538/original/084146200_1767419521-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_11.40.25.jpeg)

