Iran Ancam Serang Militer AS jika Trump Intervensi Demonstrasi Berdarah

mediaindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

KEPEMIMPINAN Iran bereaksi keras setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk mengintervensi demonstrasi berdarah yang tengah mengguncang negeri para mullah tersebut. Pejabat tinggi Teheran memperingatkan bahwa seluruh pangkalan dan pasukan militer Amerika di kawasan Timur Tengah akan menjadi "target sah" jika Washington nekat mencampuri urusan internal mereka.

Ketegangan ini dipicu oleh unggahan Trump di media sosial Truth Social pada Jumat waktu setempat. Trump secara terang-terangan memberikan peringatan keras kepada otoritas Iran.

"Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai dengan kekerasan, yang sudah menjadi kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami sudah bersiap dan siap beraksi (locked and loaded and ready to go)," tulis Trump.

Baca juga : Trump Peringatkan Otoritas Iran, Kami Siap Bertindak Jika Demonstran Dibunuh

Respons Keras dari Teheran

Menanggapi gertakan tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan militer Iran tidak akan ragu untuk membalas. "Presiden Amerika yang tidak sopan itu juga harus tahu dengan pernyataan resmi ini, semua pusat dan pasukan Amerika di seluruh wilayah akan menjadi target sah bagi kami sebagai respons atas tindakan potensial apa pun," tegas Ghalibaf.

Senada dengan itu, Ali Shamkhani, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menegaskan keamanan nasional Iran adalah "garis merah". Ia memperingatkan, "Setiap tangan intervensi yang mendekati keamanan Iran akan dipotong dengan tanggapan yang disesalkan."

Demonstrasi yang Berujung Maut

Gelombang protes yang dipicu oleh keterpurukan ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Rial ini telah menelan korban jiwa. Di kota Azna, tiga orang dilaporkan tewas dan 17 lainnya luka-luka setelah pengunjuk rasa menyerbu sebuah kantor polisi pada Kamis malam.

Baca juga : Para Pejabat Iran Respons Trump Ingin Bela Demonstran

Laporan dari kantor berita Fars menyebutkan massa membakar mobil dan melemparkan batu, sementara aparat menuding adanya "perusuh bersenjata" yang memanfaatkan situasi. Kematian juga dilaporkan terjadi di wilayah Lordegan dan Kuhdasht, termasuk tewasnya satu anggota pasukan paramiliter Basij.

Dilema Strategis Washington

Hingga Jumat, aksi protes masih terus berlangsung di Teheran dan beberapa kota lainnya. Video yang beredar menunjukkan massa meneriakkan slogan "Kebebasan" dan "Turunkan Diktator" di lingkungan Narmak, yang dibalas dengan tindakan keras oleh pasukan keamanan.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi Amerika Serikat. Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai ancaman Trump bisa memicu konflik yang lebih luas. "Jika AS gagal menindaklanjuti ucapannya, hal itu berisiko menguatkan rezim. Namun, intervensi yang nyata dapat meningkat menjadi konflik yang lebih luas dengan konsekuensi yang tidak terduga," jelasnya.

Protes kali ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak kerusuhan nasional tahun 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini. Meski skalanya masih terbatas, gerakan ini menunjukkan ketidakpuasan mendalam rakyat Iran terhadap kondisi ekonomi dan kebebasan sipil di negara tersebut. (CNN/Z-2)

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aku Tidak Selalu Dikuatkan, tapi Aku Tetap Bertahan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG: Waspada hujan lebat berpetir di Belitung hari ini
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Kado Terindah Tahun Baru, Bayi Perempuan di Cirebon Lahir di Detik Pertama 2026
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Semangat PNM Perkuat Komitmen Pelayanan Berbasis Customer Experience di 2026
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Bingkai Sepekan: Selamat Tahun Baru 2026-Zohran Mamdani Wali Kota Muslim Pertama di New York
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.