Intip 5 Cara Sukses Berinvestasi untuk Pemula Ala Warren Buffett

bisnis.com
3 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Warren Buffett tidak menjadi salah satu investor terkaya di dunia dengan mengikuti strategi yang rumit atau mengejar tips saham yang sedang naik daun. 

Pendekatannya sangat sederhana, begitu sederhana sehingga kebanyakan orang menganggapnya terlalu mendasar untuk berhasil. 

Namun Buffett secara konsisten berhasil mengungguli manajer keuangan profesional selama lebih dari enam dekade dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dapat dipahami dan diterapkan oleh siapa pun yang baru belajar.

Warren Buffett, yang dikenal sebagai Oracle of Omaha, telah membagikan kebijaksanaan investasinya secara cuma-cuma melalui surat tahunan, wawancara, dan rapat pemegang saham. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Sementara Wall Street mendorong produk dan strategi perdagangan yang rumit, Buffett menganjurkan aturan-aturan sederhana yang memprioritaskan kesabaran, disiplin, dan akal sehat. 

Dia menegaskan bahwa investasi bukanlah skema cepat kaya, tetapi prinsip-prinsip yang telah terbukti yang melipatgandakan kekayaan dari waktu ke waktu.

Baca Juga

  • Segini Kekayaan Warren Buffett, Resmi Pensiun dari Berkshire Hathaway
  • Empat Cara Jadi Kaya di Usia 50 Tahun Tanpa Tabungan Menurut Warren Buffett
  • Tiga Kunci Sukses dari Surat Terakhir Warren Buffet sebagai CEO

Bagi pemula yang kewalahan dengan jargon pasar dan saran yang saling bertentangan, pendekatan Buffett menawarkan kejelasan. Lima aturan intinya memberikan fondasi untuk membangun kekayaan tanpa memerlukan pengetahuan keuangan tingkat lanjut atau pemantauan pasar yang konstan. 

Yang dibutuhkan aturan-aturan ini adalah disiplin psikologis untuk melawan emosi pasar yang berlaku, sesuatu yang menurut sebagian besar investor lebih rumit daripada menguasai analisis fundamental.

1. Investasikan pada Apa yang Anda Pahami

Aturan pertama Buffett tampak sederhana, yaitu “Jangan pernah berinvestasi dalam bisnis yang tidak dapat Anda pahami.” 

Prinsip ini, yang dia sebut sebagai tetap berada dalam “lingkaran kompetensi” Anda, mencegah investor melakukan kesalahan mahal di industri kompleks yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Gelembung teknologi di akhir tahun 1990-an menguji aturan ini dengan keras. Ketika investor menggelontorkan uang ke perusahaan internet tanpa penghasilan, Buffett menolak untuk membeli saham yang tidak dapat dia nilai. Para kritikus menyebutnya ketinggalan zaman. 

Kemudian benar saja, gelembung itu meledak, menghapus triliunan kekayaan sementara Buffett mempertahankan modalnya.

Ini bukan berarti Anda perlu gelar MBA untuk berinvestasi. Buffett menyarankan untuk memulai dengan bisnis yang produk dan jasanya Anda gunakan setiap hari. Dapatkah Anda menjelaskan bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan uang? Apakah Anda memahami keunggulan kompetitifnya? Jika tidak, beralihlah ke sesuatu yang lebih jelas.

Poin penting di sini menantang kebijaksanaan konvensional, di mana Anda tidak perlu memahami segala sesuatu di pasar. Buffett sendiri mengakui ada seluruh sektor yang dia hindari karena dia tidak dapat mengevaluasinya dengan benar. 

Kesuksesan datang dari memanfaatkan apa yang Anda pahami, bukan dari menyebar terlalu luas ke berbagai pasar yang tidak Anda kuasai.

2. Beli Bisnis Berkualitas dengan Harga Wajar

“Jauh lebih baik membeli perusahaan yang hebat dengan harga wajar daripada perusahaan yang biasa saja dengan harga yang hebat.” 

Kutipan ini menggambarkan evolusi Buffett dari membeli bisnis murah dan biasa-biasa saja menjadi mengakuisisi perusahaan luar biasa dengan valuasi yang wajar.

Kualitas bisa telihat dalam beberapa cara, keunggulan kompetitif yang substansial (yang disebut Buffett sebagai “benteng pertahanan”), pertumbuhan pendapatan yang konsisten, manajemen yang solid, dan kekuatan penetapan harga. 

Bisnis-bisnis ini dapat menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan, memberi mereka perlindungan terhadap inflasi dan penurunan ekonomi.

Para pemula sering mengejar saham termurah, dengan asumsi harga rendah sama dengan nilai yang baik. Padahal, saham yang diperdagangkan seharga US$5 belum tentu lebih murah daripada saham seharga US$500. Yang penting adalah hubungan antara harga dan kekuatan pendapatan perusahaan, aset, dan prospeknya.

Buffett mencari bisnis dengan keunggulan kompetitif yang tahan lama, seperti merek yang dipercaya pelanggan, efek jaringan yang semakin kuat seiring dengan skala, atau keunggulan biaya yang tidak dapat ditandingi oleh pesaing. Coca-Cola, investasinya yang paling terkenal, memiliki benteng merek yang telah melindungi posisi pasarnya selama lebih dari satu abad.

Komponen “harga wajar” sendiri membutuhkan kesabaran. Bahkan bisnis yang paling hebat pun bisa menjadi investasi yang buruk jika Anda membayar terlalu mahal. 

Buffett menunggu pesimisme pasar atau kemunduran sementara untuk membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang memungkinkan pengembalian yang substansial.

3. Berpikir Seperti Pemilik, Bukan Penyewa

“Jika Anda tidak bersedia memiliki saham selama sepuluh tahun, jangan pernah berpikir untuk memilikinya selama sepuluh menit.” 

Kutipan ini membedakan investor dari spekulan. Buffett membeli sebagian bisnis, bukan hanya untuk untung-untungan.

Saat Anda membeli saham, Anda memperoleh kepemilikan sebagian dalam sebuah perusahaan nyata. Fluktuasi harga saham jangka pendek tidak mengubah nilai bisnis yang mendasarinya. Perusahaan berkualitas tidak akan menjadi kurang berharga hanya karena harga sahamnya turun 20% dalam periode yang buruk.

Pola pikir kepemilikan ini mengalihkan fokus Anda dari harga saham ke fundamental bisnis. Alih-alih memeriksa harga secara obsesif, Anda mengevaluasi apakah perusahaan tersebut meningkatkan pendapatan, mempertahankan keunggulan kompetitif, dan mengalokasikan modal dengan bijak.

Periode kepemilikan Buffett untuk investasi terbaiknya mencakup beberapa dekade. Dia membeli saham Coca-Cola pada tahun 1988 dan masih memilikinya hingga saat ini. 

American Express juga telah ada dalam portofolionya sejak tahun 1963. Pendekatan beli dan tahan ini memungkinkan kekuatan penggabungan (compounding) bekerja dengan sendirinya sambil menghindari pajak dan biaya yang mengikis keuntungan melalui perdagangan yang sering.

4. Takutlah Ketika Orang Lain Serakah

“Takutlah ketika orang lain serakah, dan serakahlah ketika orang lain takut.” 

Prinsip kontrarian ini memisahkan investor kaya dari kerumunan yang membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah.

Ketika pasar melonjak dan semua orang merasa optimis, harga biasanya melebihi valuasi yang wajar. Sebaliknya, ketika rasa takut mendominasi dan investor panik, bisnis berkualitas sering diperdagangkan dengan harga murah. 

Buffett membangun sebagian besar kekayaannya dengan berinvestasi besar-besaran selama krisis pasar ketika orang lain menjual.

Selama krisis keuangan 2008, ketika sebagian besar investor meninggalkan saham, Buffett menginvestasikan US$5 miliar di Goldman Sachs dan miliaran dolar lagi di perusahaan lain.  Waktu yang dipilihnya terbukti tepat karena pasar akhirnya pulih dan melipatgandakan investasinya.

Aturan ini membutuhkan disiplin emosional lebih daripada keterampilan analitis. Ketika portofolio Anda turun 30% dan media keuangan memprediksi kehancuran, naluri Anda berteriak "jual semuanya." 

Investor yang sukses melatih diri mereka untuk mengenali momen-momen ini sebagai peluang potensial daripada bencana.

5. Fokus pada Jangka Panjang

“Seseorang duduk di tempat teduh hari ini karena seseorang menanam pohon sejak lama.” 

Aturan terakhir Buffett menekankan pentingnya kesabaran dan kekuatan pertumbuhan majemuk selama beberapa dekade.

Pasar saham memberikan imbalan yang luar biasa bagi kesabaran tetapi menghukum ketidaksabaran hampir sama kerasnya. Dalam satu hari, pasar pada dasarnya bersifat acak. 

Dalam jangka waktu satu tahun, pasar tetap cukup fluktuatif. Tetapi dalam jangka waktu 20 tahun, bisnis berkualitas secara konsisten menciptakan kekayaan.

Fokus jangka panjang ini menghilangkan banyak gangguan. Anda tidak perlu memprediksi pendapatan kuartal berikutnya atau pertumbuhan ekonomi tahun depan. Anda hanya perlu mengidentifikasi bisnis yang akan lebih berharga dalam 10 hingga 20 tahun daripada saat ini.

Efek penggabungan yang dimanfaatkan Buffett bekerja perlahan tetapi sangat ampuh. Investasi US$10.000 yang tumbuh 10% per tahun menjadi US$67.275 dalam 20 tahun. Investasi yang sama yang dipegang selama 40 tahun akan bernilai US$452.593. 

Waktu mengubah pengembalian yang sederhana menjadi kekayaan yang luar biasa, tetapi hanya jika Anda menahan keinginan untuk mengganggu proses tersebut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tembakan Terdengar Dekat Istana Kepresidenan Venezuela, Gedung Pemerintah Dijaga Lapis Baja
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Blak-blakkan, Nadiem Ungkap Sumber Utama Harta Kekayaannya
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Ridwan Kamil Akhirnya Ngaku Kenal Aura Kasih, Sang Pengacara Bongkar Hubungan Keduanya
• 5 jam lalugrid.id
thumb
5 Rekomendasi Drama China Romantis dengan Bumbu Kasih Sayang Keluarga, Nomor 3 Relate Banget sama Kehidupan Nyata
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Kalau KUHP Baru Diterapkan Secara Utuh, Tidak Akan Ada Pemidanaan Sewenang-wenang
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.