Saat masih kecil, tidur siang terasa malas sekali untuk dilakukan. Disuruh berhenti bermain, dipaksa tidur saat sedang menonton televisi, padahal rasanya dunia masih terlalu seru untuk dilewatkan.
Namun, saat tumbuh dewasa, tidur siang terasa seperti hal yang mahal. Bahkan, bisa tidur tanpa beban, tanpa alarm, dan tanpa memikirkan apa pun terasa seperti suatu hal yang sulit dilakukan. Tidak heran, banyak dari orang dewasa yang berkata "pengen deh jadi anak kecil lagi" ataupun sibuk berupaya memenuhi inner child mereka.
Dulu saat kecil, bayangan kita terhadap "dewasa" adalah puncak kebebasan. Bisa bebas pergi ke mana saja, bebas menentukan pilihan sendiri, dan bebas dari aturan orang tua.
Namun, setelah kita benar-benar di fase dewasa itu, kebebasan tak selalu selamanya yang terpenting. Ia datang bersamaan dengan tanggung jawab, tuntutan, dan tekanan sosial yang tidak pernah dijelaskan saat kita masih kecil. Pada titik inilah, kita menyadari bahwa tumbuh dewasa tak seindah yang dibayangkan saat kecil.
Imajinasi Masa Kecil tentang Dunia Orang DewasaSaat masih kanak-kanak, kita melihat orang dewasa sebagai sosok yang paling berkuasa atas hidupnya. Mereka bisa pergi ke mana pun tanpa izin, tak perlu patuh pada jadwal tidur, dan bisa membeli barang apa pun yang dia suka.
Saat itu di mata kita, dunia dewasa tampak sederhana: bekerja, punya uang banyak, lalu hidup nyaman selamanya. Dalam hal itu, hampir tidak pernah sekali pun kita membayangkan akan tekanan dan kegagalan yang akan menghantui fase dewasa.
Ingat tidak? Ketika masih kecil, kita berani bermimpi, "Pokoknya nanti kalo aku sudah besar, aku mau jadi dokter atau astronaut." Impian itu agaknya terasa dekat dan mudah untuk digapai.
Namun, ketika dewasa, mimpi itu terasa semakin jauh untuk digapai karena tertutup realitas yang ada, entah itu kondisi ekonomi atau tuntutan sosial lainnya, sehingga menimbulkan pertanyaan, "Apakah saya masih layak untuk bermimpi seperti itu?"
Hal yang tidak terlihat oleh anak kecil adalah harga dari kebebasan yang kita dapatkan di masa dewasa. Tanggung jawab diri, tekanan sosial, dan tuntutan pendidikan yang tak pernah masuk dalam bayangan masa kecil.
Saat itu, kita tidak pernah membayangkan bahwa setiap konsekuensi dan keputusan yang kita pilih hanya akan menjadi tanggung jawab sendiri. Maka, ketika sudah beranjak dewasa, banyak dari kita yang sadar bahwa realitas kehidupan tak sesuai dengan imajinasi buatan saat kita kecil.
Realitas Dewasa yang Menguras EnergiDunia dewasa berjalan bersama dengan tekanan sosial, tuntutan pendidikan tinggi, urusan karier, relasi yang semakin rumit, dan tuntutan bertingkah untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Dalam menjadi dewasa, kita sering kali dipaksa untuk kuat, rasional, dan sabar, bahkan ketika batin sedang lelah dan tidak baik-baik saja. Tidak ada banyak tempat untuk mengeluh, apalagi berhenti untuk berjuang.
Fenomena kelelahan pada usia produktif dibahas juga dalam temuan ilmiah. Sebuah studi kesehatan masyarakat yang dilakukan terhadap 4.338 pekerja dewasa—pada rentang usia 18-65 tahun di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina—menunjukkan bahwa sekitar 62,91% responden mengalami tingkat burnout yang tinggi sampai yang sangat tinggi.
Burnout dalam penelitian ini dikaitkan dengan beberapa sebab, yakni tekanan kerja, tuntutan ekonomi, dan meningkatnya risiko stress, kecemasan, serta depresi pada rentang usia tersebut.
Di tengah rutinitas yang melelahkan, sering kali kenangan masa kecil datang tanpa diundang. Sekadar melihat foto lama, melewati tempat wisata yang dulu rutin menjadi tujuan liburan keluarga, atau mengingat momen sederhana bersama orang tua.
Semua itu bisa memicu rasa rindu yang sulit diutarakan. Bukan karena kehidupan dewasa sangat buruk, hanya saja terkadang diri kita terlalu lelah dan ingin kembali pada masa di mana hidup terasa menyenangkan dan aman.
Apa yang Sebenarnya Dirindukan?Kerinduan masa kecil ini bukan semata-mata ingin mainan, tidur siang, dan libur panjang, melainkan keinginan untuk merasa tenang. Masa ketika kita boleh melakukan kesalahan tanpa takut dicap gagal, fase di saat kita boleh menangis tanpa sebab, dan boleh bergantung pada orang lain tanpa rasa bersalah.
Sering kali anak kecil diberi ruang yang besar untuk rapuh. Ketika mereka jatuh, ada yang membantunya bangkit. Namun, mengapa ketika terjatuh saat dewasa, kita sering kali hanya diminta untuk "kuat", tanpa mereka berusaha memahami apa sebenarnya yang kita alami?
Pada akhirnya, kita sadar bahwa yang kita butuhkan sekarang bukan menjadi anak kecil kembali, melainkan harapan agar mendapatkan kembali fase di mana dunia terasa tenang.
Hidup tanpa ada rasa dikejar-kejar oleh sesuatu, entah itu bayang bayang pencapaian karier, target masa depan, dan tuntutan sosial untuk segera menjadi "sesuatu" yang bahkan tidak semudah itu untuk dilakukan.




