Meski kalender telah memasuki tahun 2026, perang kejam antara Rusia dan Ukraina masih belum berhenti. Pada hari pertama Tahun Baru, kedua pihak saling melancarkan serangan udara besar-besaran.
EtIndonesia. Tahun 2026 telah tiba, namun yang menyambut Ukraina tetaplah kegelapan tanpa akhir dan suara sirine pertahanan udara yang memekakkan telinga. Pada hari pertama Tahun Baru, Rusia meluncurkan lebih dari 200 drone tempur ke sedikitnya tujuh wilayah di seluruh Ukraina. Sasaran utama adalah infrastruktur energi yang memicu pemadaman listrik skala besar dan kebakaran di sejumlah daerah.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunggah pernyataan yang mengecam Rusia karena dengan sengaja membawa perang ke Tahun Baru. Ia menyerukan kepada para sekutu bahwa pembunuhan harus dihentikan dan perlindungan terhadap nyawa manusia tidak boleh kendor sedikit pun. Jika serangan tetap berlanjut selama libur Tahun Baru, maka pengiriman peralatan pertahanan udara sama sekali tidak boleh ditunda.
Dalam pidato Tahun Baru sehari sebelumnya, Zelenskyy mengatakan: “Kami menginginkan berakhirnya perang, bukan berakhirnya Ukraina. Apakah kami lelah? Sangat lelah. Namun apakah itu berarti kami siap menyerah? Orang yang berpikir demikian benar-benar keliru.”
Pada malam Tahun Baru yang sama, pejabat Rusia menyatakan bahwa drone Ukraina telah membombardir wilayah Yaroslavl, Oblast Kaluga, serta beberapa fasilitas energi dan industri di Krai Krasnodar. Rekaman video menunjukkan kilang minyak yang terkena serangan terbakar hebat, dengan asap hitam membumbung ke langit.
Sementara itu, Rusia juga menuduh drone Ukraina menyerang sebuah kafe di wilayah Kherson yang dikuasai Rusia, menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai 29 lainnya. Saat itu, warga sedang mengadakan perayaan Tahun Baru. Pihak Ukraina belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.
Terkait tuduhan Moskow sebelumnya bahwa Kyiv berupaya menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang kediaman Presiden Putin, Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis mengklaim telah mengekstrak dan mendekode data dari sebuah drone Ukraina yang berhasil ditembak jatuh. Dokumen tersebut, menurut Rusia, membuktikan kebenaran tuduhan tersebut dan Moskow akan menyerahkan materi terkait kepada Amerika Serikat.
Namun sehari sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat keamanan AS yang mengatakan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memastikan Ukraina tidak memiliki niat menyerang kediaman Putin, melainkan menargetkan sebuah sasaran militer yang berada di kawasan tempat tinggal Putin.
Apa pun faktanya, yang terlihat oleh dunia luar adalah sikap Moskow terhadap perundingan damai semakin mengeras. Dalam pidato Tahun Barunya, Putin sama sekali tidak menyinggung perdamaian di Ukraina, melainkan justru menyemangati moral tempur pasukan Rusia.
“Kita bersatu karena cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan setia kepada Rusia. Saya mengucapkan selamat Tahun Baru kepada seluruh prajurit dan komandan! Kami percaya kepada kalian, dan kami percaya pada kemenangan kita,” ujar Putin,
Panglima tertinggi Rusia Valery Gerasimov baru-baru ini mengungkapkan bahwa selain memperkuat serangan darat di Ukraina bagian selatan dan timur, Putin juga memerintahkan perluasan zona penyangga keamanan di wilayah utara Sumy dan Kharkiv pada tahun 2026. Ekspansi wilayah tersebut didefinisikan ulang sebagai kebutuhan defensif. Para analis menilai hal ini menunjukkan bahwa Moskow, sembari melakukan perundingan damai, berniat menguasai secara permanen wilayah-wilayah yang baru diduduki.
Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, menulis dalam sebuah unggahan menjelang Tahun Baru bahwa ia telah mengadakan pertemuan dengan Zelenskyy serta para penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, dan Jerman untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam mendorong proses perdamaian. Seiring dentang lonceng Tahun Baru, perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini akan segera memasuki tahun kelimanya. (Hui)




