Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan negara akan hadir menangani ternak yang terdampak bencana di Sumatera dengan melakukan pendataan menyeluruh sebagai langkah awal penanganan untuk pemulihan berkelanjutan bagi peternak setempat.
Dia menyampaikan Kementerian Pertanian mengidentifikasi seluruh jenis ternak terdampak meliputi ayam, sapi, dan kambing untuk memastikan kebutuhan bantuan sesuai kondisi lapangan, serta mencegah kerugian lebih besar pada wilayah bencana Sumatera terdampak luas.
"Kita identifikasi semua, ternak ayam, sapi, kambing, kita identifikasi. Ya, kita kan dari sisi peternakan, kita juga ada program yang nanti kita bantu setelah pemulihan, namanya pemulihan pascabencana gitu," kata Sudaryono dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Ia menyampaikan pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan, sementara penyaluran bantuan akan dilakukan setelah tahap penanganan kedaruratan selesai dilaksanakan secara menyeluruh.
Baca juga: Pemerintah bangun pabrik pakan dengan anggaran Rp20 triliun
Saat ini, penanganan difokuskan pada fase kedaruratan karena masyarakat terdampak masih membutuhkan bantuan kemanusiaan sebagai dasar menuju proses pemulihan pascabencana.
"Kalau sekarang ini kan masih kedaruratan jadi orang masih butuh bantuan (kedaruratan seperti logistik dan lainnya)," ujarnya.
Selanjutnya pada tahap pemulihan pascabencana pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyiapkan program bantuan diantaranya program "Ayam Merah Putih" bagi peternak yang usahanya hancur akibat bencana alam di berbagai daerah Sumatera.
Pemerintah memastikan ketersediaan anggaran memadai untuk membiayai penanganan kedaruratan hingga pemulihan sehingga masyarakat terdampak tidak dibiarkan menghadapi bencana sendirian melainkan didampingi negara secara bertahap.
"Pada pemulihan pascabencana, salah satu yang ada (program) Ayam Merah Putih. Negara kita mampu, anggaran ada. Jadi rakyat yang terdampak, kedaruratannya dibereskan," ucapnya.
"Nah pemulihan pascabencana nanti siapa yang kemudian merasa hancur, misalnya peternakan yang hancur kita perbaiki, kita kasih bantuan peternakan," tambah Sudaryono.
Selain peternakan pemerintah juga berkomitmen memulihkan sektor pertanian dengan memperbaiki sawah rusak serta melakukan pencetakan sawah baru bagi petani terdampak bencana banjir baik di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Kementerian Pertanian mencatat berdasarkan pendataan awal, sekitar 70 ribu hektare lahan pertanian terdampak bencana Sumatera, dengan sekitar 11 ribu hektare di antaranya mengalami puso akibat kerusakan berat.
Baca juga: Pemkab: 17.871 hewan ternak mati akibat banjir di Aceh Timur
Pemulihan lahan sawah akan dilakukan secara bertahap seiring proses pembersihan dan rehabilitasi wilayah terdampak pascabencana. Pendataan rinci terhadap kondisi lahan pertanian yang rusak akan dilakukan mulai awal di Januari 2026 ini.
Ia menambahkan komitmen negara tidak hanya pada sektor pangan tetapi juga pemulihan kehidupan masyarakat termasuk pembangunan kembali rumah warga yang hancur akibat bencana alam di berbagai kabupaten/kota terdampak bencana Sumatera.
"Yang sawahnya hancur kita cetakan sawah. Jadi negara komit untuk itu. Termasuk rumah yang hancur, itu kemudian juga akan dibangunkan rumah," kata Sudaryono.
Dia menyampaikan Kementerian Pertanian mengidentifikasi seluruh jenis ternak terdampak meliputi ayam, sapi, dan kambing untuk memastikan kebutuhan bantuan sesuai kondisi lapangan, serta mencegah kerugian lebih besar pada wilayah bencana Sumatera terdampak luas.
"Kita identifikasi semua, ternak ayam, sapi, kambing, kita identifikasi. Ya, kita kan dari sisi peternakan, kita juga ada program yang nanti kita bantu setelah pemulihan, namanya pemulihan pascabencana gitu," kata Sudaryono dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Ia menyampaikan pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan, sementara penyaluran bantuan akan dilakukan setelah tahap penanganan kedaruratan selesai dilaksanakan secara menyeluruh.
Baca juga: Pemerintah bangun pabrik pakan dengan anggaran Rp20 triliun
Saat ini, penanganan difokuskan pada fase kedaruratan karena masyarakat terdampak masih membutuhkan bantuan kemanusiaan sebagai dasar menuju proses pemulihan pascabencana.
"Kalau sekarang ini kan masih kedaruratan jadi orang masih butuh bantuan (kedaruratan seperti logistik dan lainnya)," ujarnya.
Selanjutnya pada tahap pemulihan pascabencana pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyiapkan program bantuan diantaranya program "Ayam Merah Putih" bagi peternak yang usahanya hancur akibat bencana alam di berbagai daerah Sumatera.
Pemerintah memastikan ketersediaan anggaran memadai untuk membiayai penanganan kedaruratan hingga pemulihan sehingga masyarakat terdampak tidak dibiarkan menghadapi bencana sendirian melainkan didampingi negara secara bertahap.
"Pada pemulihan pascabencana, salah satu yang ada (program) Ayam Merah Putih. Negara kita mampu, anggaran ada. Jadi rakyat yang terdampak, kedaruratannya dibereskan," ucapnya.
"Nah pemulihan pascabencana nanti siapa yang kemudian merasa hancur, misalnya peternakan yang hancur kita perbaiki, kita kasih bantuan peternakan," tambah Sudaryono.
Selain peternakan pemerintah juga berkomitmen memulihkan sektor pertanian dengan memperbaiki sawah rusak serta melakukan pencetakan sawah baru bagi petani terdampak bencana banjir baik di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Kementerian Pertanian mencatat berdasarkan pendataan awal, sekitar 70 ribu hektare lahan pertanian terdampak bencana Sumatera, dengan sekitar 11 ribu hektare di antaranya mengalami puso akibat kerusakan berat.
Baca juga: Pemkab: 17.871 hewan ternak mati akibat banjir di Aceh Timur
Pemulihan lahan sawah akan dilakukan secara bertahap seiring proses pembersihan dan rehabilitasi wilayah terdampak pascabencana. Pendataan rinci terhadap kondisi lahan pertanian yang rusak akan dilakukan mulai awal di Januari 2026 ini.
Ia menambahkan komitmen negara tidak hanya pada sektor pangan tetapi juga pemulihan kehidupan masyarakat termasuk pembangunan kembali rumah warga yang hancur akibat bencana alam di berbagai kabupaten/kota terdampak bencana Sumatera.
"Yang sawahnya hancur kita cetakan sawah. Jadi negara komit untuk itu. Termasuk rumah yang hancur, itu kemudian juga akan dibangunkan rumah," kata Sudaryono.


