Siap-siap! Ini 5 Sektor Unggulan yang Diprediksi Jadi Mesin Cuan 2026

medcom.id
14 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Tahun 2025 menjadi fase krusial yang akan menentukan arah investasi ke depan. Dengan inflasi yang diperkirakan stabil di kisaran 2,5 ±1 persen serta BI-Rate yang dijaga di level 4,75 persen untuk mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil, fondasi ekonomi nasional dinilai cukup solid.
 
Kondisi ini membuka ruang bagi investor maupun pelaku usaha untuk mulai bersiap lebih awal. Bukan sekadar mengejar tren, tapi membangun posisi yang matang agar potensi keuntungan di 2026 bisa lebih optimal.
 
Berdasarkan outlook ekonomi 2025, yang dilansir dari laman Ajaib Teknologi Indonesia, ada lima sektor kunci yang diproyeksikan menjadi mesin cuan di tahun 2026. Outlook ekonomi 2025 jadi penentu arah investasi 2026 Mengidentifikasi sektor potensial bukan proses instan. Dibutuhkan waktu untuk membaca tren, menilai fundamental, serta menentukan momentum masuk yang tepat. Jika menunggu hingga sinyal pertumbuhan 2026 terlihat sangat jelas, bisa jadi harga saham di sektor unggulan sudah terlanjur mahal.

Dengan positioning sejak 2025, kamu tidak hanya terhindar dari FOMO (fear of missing out), tetapi juga memberi ruang bagi portofolio untuk tumbuh seiring realisasi prospek jangka panjang masing-masing sektor. 1. Teknologi dan digital masih jadi mesin pertumbuhan Sektor teknologi tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan bernilai lebih dari US$100 miliar pada 2025, ditopang oleh pesatnya adopsi e-commerce, fintech, dan berbagai layanan digital.
 
Tren video commerce dan kecerdasan buatan (AI) juga semakin kuat. Pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia tercatat tumbuh 127 persen secara tahunan. Peluang cuan dari sektor ini bisa diakses melalui saham teknologi, maupun dengan merintis bisnis di bidang SaaS, otomatisasi, hingga industri kreator digital.
  Baca juga: Stop! 5 Kesalahan Investasi Pemula Ini Sering Terjadi 2. Kesehatan dan farmasi, sektor defensif yang konsisten Kesehatan dan farmasi dikenal sebagai sektor yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi. Kebutuhan layanan medis, obat-obatan, dan produk wellness terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
 
Industri farmasi nasional diproyeksikan tumbuh stabil, didorong oleh digitalisasi layanan kesehatan serta pengembangan obat generik dan biosimilar. Saham di sektor ini kerap menjadi penopang stabilitas portofolio, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. 3. Energi terbarukan kian dilirik investor Percepatan transisi energi dan komitmen pemerintah membuat sektor energi terbarukan semakin menjanjikan. Hingga semester pertama 2025, realisasi investasi Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia telah mencapai sekitar USD1,3 miliar atau setara Rp21,64 triliun, mendekati target tahunan.
 
Proyek tenaga surya dan panas bumi menjadi primadona investor. Peluang tidak hanya datang dari pembangkit listrik, tetapi juga dari industri pendukung seperti kendaraan listrik, baterai, hingga teknologi penyimpanan energi. Saham energi hijau dinilai menarik untuk strategi investasi jangka menengah hingga panjang. 4. Consumer, F&B, dan ritel tetap jadi andalan Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Meski konsumen kini lebih selektif dan cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok, sektor ritel secara keseluruhan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
 
Tren yang menonjol adalah permintaan terhadap kemudahan, produk sehat, serta barang tahan lama. Pelaku usaha dengan strategi omnichannel dan nilai tambah yang jelas berpeluang besar menangkap pasar. Saham consumer berkualitas juga mencerminkan daya tahan sektor ini dalam jangka panjang. 5. Infrastruktur dorong efek ganda ekonomi Pembangunan infrastruktur fisik dan digital tetap menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Pada 2025, pemerintah meluncurkan Project Catalogue yang mencakup 46 proyek infrastruktur strategis lintas sektor.
 
Proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembangunan jalan tol terus berlanjut. Sektor ini memiliki multiplier effect yang luas karena mendorong aktivitas konstruksi, logistik, hingga properti. Saham infrastruktur dan konstruksi relevan untuk investor yang mengincar pertumbuhan jangka panjang.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Podium Media Indonesia: Pertobatan Ekologis
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kolaborasi Kemendagri-Lion Group Dukung Pemulihan Aceh Tamiang
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Saham Bank Besar Jadi Sasaran Jual Asing di Perdagangan Perdana 2026
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Angka kematian kecelakaan lalu lintas di Sri Lanka naik pada 2025
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Rumahnya Rusak Diterjang Hujan-Angin Kencang, Warga di Bogor Mengungsi
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.