FAJAR, SURABAYA — Sejak 2013, Bernardo Tavares nyaris tak pernah berpisah dari tas kepelatihannya. Selalu siap bepergian, selalu siaga menghadapi tantangan baru. Rutinitas itu kembali terulang di awal 2026.
“Saya akan kembali pada 3 Januari, mulai latihan 5 Januari, dan kami sudah bertanding pada 10 Januari,” ujar pelatih asal Proença-a-Nova, Portugal, itu kepada media negaranya, Renascença.
Sudah hampir lima tahun terakhir Bernardo mengadu nasib di Indonesia. Jika sebelumnya ia sukses bersama PSM Makassar, kini tantangan yang menunggunya di Persebaya Surabaya, menurut pengakuannya sendiri, jauh lebih berat.
Indonesia, Jauh dari Rumah
Bernardo mengakui Indonesia bukan sekadar tempat bekerja, melainkan negeri yang menuntut pengorbanan personal. Jarak, perbedaan budaya, hingga tradisi keagamaan membuatnya kerap harus melewatkan momen-momen penting bersama keluarga.
“Indonesia adalah negara yang sangat jauh. Penduduknya sekitar 280 juta jiwa, mayoritas Muslim. Tradisi Natal di sana sangat berbeda dengan di sini,” tuturnya.
Tahun ini menjadi pengecualian. Perpindahan klub membuat Bernardo akhirnya bisa merayakan Natal di kampung halaman—sesuatu yang jarang ia rasakan dalam beberapa tahun terakhir.
“Dalam beberapa tahun terakhir, saya habiskan sepanjang tahun untuk bekerja. Baru tahun ini saya benar-benar bisa merayakan Natal bersama keluarga,” katanya.
Namun jeda itu singkat. Awal Januari, ia kembali harus terbang ke Indonesia, menuju kota yang dikenal keras bagi para pelatih: Surabaya.
Dari PSM ke Persebaya
Bernardo mengenang awal perjalanannya di Indonesia bersama PSM Makassar pada 2022. Klub tertua di Tanah Air itu, kata dia, saat itu sudah lama puasa gelar.
“PSM terakhir juara pada 2001 atau 2002. Kami juara pada 2022. Itu pencapaian yang luar biasa,” ujarnya.
Kesuksesan tersebut menjadi alasan utama kepercayaan publik Surabaya kepadanya. Namun Bernardo menegaskan, konteks Persebaya sangat berbeda.
“Ini klub besar, akan berusia 100 tahun musim depan, dengan basis suporter yang sangat besar. Jika prestasi bagus, stadion bisa diisi 35 ribu sampai 40 ribu penonton,” katanya.
Di situlah tantangan sesungguhnya muncul.
“Kuburan Para Pelatih”
Bernardo tak menutup mata terhadap reputasi Persebaya. Dalam beberapa tahun terakhir, klub kebanggaan Bonek itu identik dengan pergantian pelatih yang cepat.
“Beberapa tahun terakhir tidak berjalan baik. Banyak pergantian pelatih. Saya akan menjadi pelatih keempat musim ini,” ujarnya lugas.
Persebaya terakhir kali meraih gelar pada 2004. Artinya, sudah lebih dari dua dekade klub ini hidup dalam tekanan ekspektasi yang tak pernah surut.
“Ini klub besar, penuh tradisi. Mari kita lihat apakah saya bisa membuat perubahan,” katanya.
Kepada jurnalis Portugal, Luis Aresta, Bernardo bahkan menyebut Persebaya sebagai ‘kuburan para pelatih’.
“Basis suporternya sangat menuntut. Banyak pelatih bagus datang, tapi tidak diberi waktu cukup untuk bekerja,” bebernya.
Realistis dan Bertahap
Bernardo datang ke Surabaya tanpa janji instan. Ia sadar, bahan yang dimiliki saat ini terbatas.
“Saya tidak punya banyak telur untuk membuat omelet yang enak. Tugas saya adalah memanfaatkan telur yang ada sebaik mungkin,” katanya, menggunakan metafora khas.
Fokus jangka pendeknya adalah merapikan fondasi: mengevaluasi pemain muda, menentukan siapa yang bisa dipertahankan, dan mengincar posisi terbaik di sisa musim ini.
Target besar baru akan dipasang musim depan. Kontrak dua setengah tahun memberinya ruang, meski ia paham betul bahwa sepak bola Indonesia kerap tak memberi waktu panjang.
“Dalam sepak bola, semuanya bisa berubah sangat cepat,” ujarnya.
Namun satu hal pasti: dibanding PSM Makassar, tantangan di Persebaya jauh lebih kompleks—lebih bising, lebih emosional, dan jauh lebih berisiko.
Dan justru di situlah, Bernardo Tavares merasa berada di tempat yang tepat.
“Saya suka tantangan,” katanya singkat.
Kalimat sederhana yang kini menggantung di udara Surabaya—menunggu apakah kali ini, “kuburan pelatih” benar-benar bisa diubah menjadi ladang kebangkitan.




