Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Washington telah melancarkan operasi militer kejutan terhadap Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Dalam pernyataan yang diumumkan melalui platform media sosialnya Truth Social pada Sabtu, 3 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa “militer Amerika Serikat telah berhasil menyelesaikan serangan berskala besar terhadap Venezuela, dan Maduro beserta istrinya telah ditangkap serta dipindahkan keluar dari Venezuela.”
Jika klaim Trump terkonfirmasi, maka peristiwa ini akan menjadi insiden pertama dalam 36 tahun terakhir di mana seorang presiden yang sedang menjabat ditangkap di wilayah negaranya sendiri oleh pasukan khusus AS dan kemudian diekstradisi ke negara ketiga atau ke AS. Peristiwa serupa terakhir terjadi pada 1990, ketika Presiden Panama Manuel Noriega ditangkap dalam invasi Amerika Serikat ke Panama.
Trump menyebut operasi tersebut bukan sekadar serangan militer, melainkan sebuah “operasi penangkapan” yang dirancang secara khusus dan dilakukan bersama aparat penegak hukum AS. Dalam pernyataannya, ia mengatakan operasi itu “dilaksanakan secara gabungan dengan otoritas penegakan hukum Amerika Serikat”.
Pernyataan ini merujuk pada dakwaan pemerintah AS terhadap Maduro sebelumnya, termasuk tuduhan “narko-terorisme”. Sejumlah analis menilai operasi ini mencerminkan pola “operasi hibrida,” di mana lembaga yudisial AS seperti Drug Enforcement Administration (DEA) memberikan dasar hukum, sementara militer AS menggunakan kekuatan fisik untuk mengamankan target.
Situasi darurat telah tercermin sejak dini hari, ketika pemerintah Venezuela sebelumnya menyatakan status keadaan darurat dan menyebut bahwa “serangan Amerika Serikat telah dimulai”, sebuah pernyataan yang kini dipandang sebagai respons awal terhadap operasi penangkapan tersebut.
Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 11.00 waktu setempat di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida—kediaman pribadinya—untuk memaparkan rincian operasi tersebut (pukul 01.00 WIB, Sabtu).
Selama beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump diketahui meningkatkan tekanan terhadap rezim Maduro melalui blokade perairan Venezuela serta serangan presisi terbatas.
Namun, karena Maduro tidak mengundurkan diri, pemerintahan AS disebut akhirnya memilih opsi paling ekstrem, yakni “serangan pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike) untuk menyingkirkan pucuk pimpinan Venezuela.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen dari pihak Venezuela maupun lembaga internasional terkait klaim penangkapan Maduro beserta istrinya.
Baca juga: Maduro Sebut Ledakan di Caracas Agresi Militer AS yang 'Sangat Serius'


