Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya laporan kasus super flu di sejumlah negara di dunia cukup menyita perhatian publik. Penyakit super flu virus alias influenza A (H3N2) subclade K ini pun saat ini sudah masuk ke Indonesia.
Apakah itu? Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan, super flu sejatinya bukan diagnosis medis.
Advertisement
"Super flu bukan merupakan terminologi medis. Istilah ini kerap dipakai oleh orang awam untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subclade K," ujar Piprim dikutip dari laman resmi www.rsudtp.acehbaratdayakab.go.id.
Virus influenza A H3N2 yang bermutasi ini dilaporkan lebih sulit dikenali oleh sistem imun, termasuk pada orang yang sebelumnya sudah memiliki kekebalan akibat infeksi flu atau vaksinasi.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) drg Widyawati mengatakan, influenza subclade K alias super flu tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding varian influenza lainnya.
"Dan menurut penilaian WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan situasi epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan clade (varian) atau subclade (subvarian) lainnya," ujar Widyawati dalam keterangan video yang diterima pada Kamis 1 Januari 2026.
Di Indonesia, Widyawati mengonfirmasi 62 kasus influenza subclade K yang telah terdeteksi.
"Hingga akhir Desember ini (2025) tercatat total ada 62 kasus (subclade K) di 8 provinsi. Terbanyak ada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat," papar Widyawati.
Para ahli menyebut, secara umum gejala super flu mirip dengan influenza A musiman. Namun, intensitas keluhannya sering kali lebih berat dan muncul secara mendadak. Gejala yang paling sering dilaporkan seperti demam tinggi dan berkepanjangan serta panas dingin dan menggigil.
Lantas, apakah itu super flu? Bagaimana gejala, pengobatan, hingga kasusnya di Indonesia? Simak selengkapnya dalam rangkaian Infografis berikut ini:




