Agus Wahid: Hukum Tajam ke Mana-mana, Tumpul ke Silfester?

fajar.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Analis Politik Agus Wahid turut bicara mengenai belum dieksekusinya terpidana Silfester Matutina, meski putusan pengadilan terhadap yang bersangkutan telah berkekuatan hukum tetap sejak lama. 

Ia mempertanyakan konsistensi penegakan hukum di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dikatakan Agus, pada awal masa kekuasaan Prabowo, publik disuguhi citra kepemimpinan yang tegas dan heroik dalam penegakan hukum, khususnya pemberantasan korupsi.

“Tampak tegas dan sangat heroik. Sikap hukumnya pun ditunjukkan, sampai bumi Antartika pun, koruptor akan dikejar,” ujar Agus kepada fajar.co.id, Minggu (4/1/2026).

Ia mengakui, sejumlah kasus korupsi memang berhasil diungkap.

“Dan memang, banyak oknum koruptor ditangkapi, termasuk sejumlah pejabat tinggi Pertamina dan sejumlah institusi lain di arena BUMN,” sebutnya.

Agus juga menyinggung dorongan Prabowo terhadap pembahasan RUU Perampasan Aset sebagai bentuk komitmen politik.

“Atas nama penegakan hukum, Prabowo pun mendesak RUU Perampasan Aset, meski belum berhasil. Luar biasa komitmen itu,” tukasnya.

Karena itu, Agus mengatakan bahwa sempat muncul optimisme di masyarakat.

“Pendek kata, ada aroma segar dalam penegakan hukum antikorupsi. Itulah kesan kuat sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo ketika masa-masa awal kenaikannya di panggung kekuasaan,” katanya.

Namun, kata Agus, persoalan mendasarnya adalah apakah penegakan hukum tersebut benar-benar dijalankan tanpa diskriminasi.

“Persoalannya, apakah penegakan hukum itu anti diskriminasi?,” timpalnya.

Ia menganggap bahwa terdapat sebuah ironi yang besar dampaknya di balik sikap tegas tersebut.

“Kita saksikan, di balik sikap tegas pro penegakan hukum itu, ada panorama lucu yang super aneh,” katanya.

Agus kembali menaruh perhatiannya kasus pidana Silvester Matutina yang menurutnya telah inkrah hingga tingkat Mahkamah Agung.

“Yaitu, kasus pidana Silvester Matutina yang sudah inkrah putusannya, bahkan sudah sampai level Mahkamah Agung,” Agus menuturkan.

“Catatan menunjukkan, putusan Mahkamah Agung Nomor 287 K/Pid/2019 yang diputus oleh H. Andi Abu Ayyub Saleh sebagai ketua serta H. Eddy Arm dan Gazalba sebagai hakim anggota pada 20 Mei 2019, menolak permohonan perbaikan pidana Silvester,” tambahnya.

Dengan demikian, lanjut Agus, MA menguatkan putusan sebelumnya.

“Berarti MA mengukuhkan hasil putusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang menghukum terdakwa 1,5 tahun,” ujarnya.

Hanya saja hingga kini, Agus menyebut bahwa eksekusi pidana tersebut tidak kunjung dilakukan.

“Data bicara, meski putusan sudah inkrah, namun ternakan Jokowi (Terjok) ini masih bebas menghirup udara bebas,” sesalnya.

Ia menyebut sudah sekitar enam tahun Silvester belum juga dijebloskan ke penjara.

“Sudah sekitar enam tahun ketua relawan Solidaritas Merah Putih ini masih berkeliaran tanpa kejaran hukum,” Agus blak-blakan.

Meski demikian, ia mencatat Silvester kini jarang muncul di ruang publik.

“Meski tak nampak lagi di layar kaca televisi dalam berbagai forum debat publik. Boleh jadi karena malu. Atau dilarang main boss-nya untuk tidak menampakkan diri di panggung publik,” katanya.

Agus lalu mengajukan pertanyaan mendasar terkait kewenangan Presiden Prabowo Subianto.

“Sebuah pertanyaan mendasar, apakah Prabowo tak bisa memaksa Kejaksaan Agung untuk menangkap dan menjebloskan Silvester Matutina?,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa mustahil jika Prabowo dianggap lemah menghadapi satu orang.

“Bohong besar jika mantan Danjen Kopassus yang kini menjadi orang nomor satu di republik ini mlenya-mlenye alias loyo dalam menghadapi satu orang bernama Silvester Matutina, yang hanya seorang advokat tanpa reputasi,” kata Agus.

“Maklum, hanya jebolan perguruan tinggi yang jauh di bawah standar lokal Jakarta, apalagi nasional,” sambung dia .

Menurut Agus, ada alasan politis yang membuat Silvester belum dieksekusi.

“Lalu, apa yang membuat Silvester belum berhasil dijebloskan ke penjara? Ada landasan yang menonjol. Silvester memang seorang terjok,” katanya.

Ia menegaskan bahwa status tersebut bukan berarti kebal hukum. Namun, Agus menilai dalam kasus ini keberadaan Silvester justru membuat Prabowo tidak berdaya.

“Jawabnya, keberadaan terjok membuat Prabowo impoten. Tak berdaya lagi. Karena harus menghadapi sosok di belakangnya, Jokowi,” terang dia.

Kata Agus, hal ini menjadi persoalan serius bagi citra kepemimpinan Prabowo.

“Nah, itu menjadi problem serius bagi keberadaan Prabowo. Selama ini Prabowo selalu menyanggah dirinya tidak takut kepada Jokowi,” timpalnya..

“Tapi fakta ketidakberdayaan mengkerangkengkan Silvester sudah menjadi penjelas tersendiri. Sulit dibantah,” tegas Agus.

Ia pun menawarkan tafsir lain atas sikap Prabowo. Ketum Gerindra itu bukan takut, tapi tahu diri, karena berkat Jokowi ia bisa menjadi Presiden.

“Terima kasih kepada Jokowi yang telah berhasil mengantarkan Prabowo singgah di kekuasaan sebagai Presiden RI,” imbuhnya.

Agus kemudian menyinggung kegagalan Prabowo di dua Pilpres sebelumnya.

“Dirinya sadar, tanpa campur tangan Jokowi, Prabowo hanya mimpi menuju kursi Presiden RI. Terbukti, sudah dua kali gagal sebagai calon presiden pada Pilpres 2014 dan 2019,” kuncinya.

(Muhsin/Fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
SGA dan Jalen Brunson Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik NBA Bulan Desember 2025
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Kaki Sering Tiba-Tiba Kram saat Tidur, Perlukah ke Dokter?
• 12 jam lalurealita.co
thumb
Cuaca Jakarta Senin 5 Januari 2025: Hujan Ringan dan Petir di Sejumlah Wilayah
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Prodi Ilmu Komunikasi UBSI, Menyiapkan Profesional yang Bertanggung Jawab di Era Digital
• 28 menit lalurepublika.co.id
thumb
Malaysia Kecam Perbuatan Trump yang Tangkap Presiden Venezuela
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.