REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah kasus tawuran terjadi di beberapa wilayah Jakarta dalam beberapa hari terakhir pada awal tahun ini. Maraknya kasus tawuran itu menjadi sorotan DPRD Provinsi Jakarta.
Sekretaris Komisi E DPRD Provinsi Jakarta, Justin Adrian Untayana, mengatakan tawuran yang belakangan terjadi di Manggarai, Klender, dan Ciracas, merupakan hasil dari ketidakpedulian keluarga dalam mendidik anak-anak atau anggota keluarganya. Menurut dia, keluarga memiliki peran yang sangat besar agar anak-anak tidak turut serta dalam kegiatan yang negatif.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Tujuh Wilayah di Jakarta Berpotensi Terdampak Banjir Rob, Berikut Daftarnya
- Antisipasi Rob hingga 7 Januari, DKI Siagakan Pompa dan Bangun Tanggul Darurat
- Kapolres Tangerang: Tawuran Pelajar Dipicu Saling Ejek di Media Sosial
“Tawuran ini adalah perilaku yang menular. Oleh karena itu, setiap keluarga harus berperan aktif untuk memastikan anggota-anggotanya tidak menjadi pelaku tawuran,” kata dia, Sabtu (4/1/2026).
Ia menilai, selama ini banyak banyak keluarga yang bersikap abai dengan perilaku anggota-anggotanya. Pasalnya, keluarga tidak pernah memberikan konsekuensi terhadap para pelaku tawuran.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Justin, sudah ribuan kali para pelaku yang diamankan hanya dikembalikan kepada orang tuanya. Hal itu dilakukan dengan seremoni berpelukan dan berurai air mata belaka. Namun, para pelaku disebut tetap kembali tawuran.
Karena itu, ia mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta melalui Dinas Sosial (Dinsos) mengevaluasi atau bilamana memungkinkan untuk mencabut bantuan-bantuan sosial (bansos) kepada keluarga yang anggotanya menjadi pelaku tawuran. “Pemprov perlu menunjukkan ketegasan. Masalah ini sudah terjadi berulangkali dan semakin larut tanpa adanya serangkaian solusi konkret yang bisa menyelesaikannya secara tuntas,” ujar Justin.
Ia menegaskan, bansos merupakan hasil dari keringat rakyat Jakarta. Menurut dia, bansos itu sebaiknya tidak diberikan kepada mereka yang tidak berpartisipasi menjadi warga Jakarta yang baik.




