Bandung: Kementerian Kesehatan mencatat kemunculan penyakit super flu atau virus Influenza tipe A sub-clade K (H3N2) di sejumlah provinsi. Total terdapat 62 kasus di Indonesia, dan 10 kasus terdeteksi di Jawa Barat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, dr. Moh. Lutfi, menjelaskan super flu secara klinis memiliki gejala yang sama dengan influenza tipe A pada umumnya. Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada karena virus hasil mutasi ini berpotensi menular lebih cepat.
“Gejalanya sebetulnya sama saja, ada demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, hingga nyeri otot atau badan terasa lemah,” ujar dia, Minggu, 4 Januari 2025.
Baca Juga :
Waspada Super Flu, Dinkes DKI: Segera ke Faskes Jika SesakTak Perlu Panik dan Hindari Penggunaan Antibiotik IDI Jabar meminta masyarakat tidak panik dan menghindari penggunaan antibiotik tanpa indikasi medis. Penyakit ini disebabkan virus sehingga kekebalan tubuh memegang peran utama.
“Tidak ada obat yang spesifik. Untuk mengatasi gejala batuk pileknya, bisa menggunakan obat yang umum tersedia di apotek. Karena ini virus, daya tahan tubuh kita sendirilah yang akan mengatasi infeksinya,” jelas dia
Antibiotik hanya diberikan bila terdapat infeksi bakteri. Pasien dengan gejala ringan disarankan istirahat dan isolasi mandiri.
“Kalau gejalanya ringan, tidak perlu dibawa ke IGD. Kecuali, jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau demam tinggi yang menetap, nah itu baru perlu diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan,” oesan dia.
Baca Juga :
“Satu lagi, mungkin vaksinasi influenza itu perlu ya menurut saya, untuk menghindari risiko peradangan di dalam ya. Terutama untuk populasi tertentu, misalkan usia lanjut atau orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah seperti pasien kanker, pasien autoimun dan lain-lain," ujar dia. (MI/AN/Naviandri)



