Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom mewanti-wanti kenaikan harga BBM non subsidi di Indonesia imbas adanya serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela.
Dalam serangan itu, AS juga menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Hal ini pun dinilai memicu gejolak baru di pasar minyak global, menyusul kekhawatiran pasokan dari salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Ekonom Senior di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak menjelaskan, serangan militer AS ke Venezuela akan memiliki dampak relatif terbatas dan bersifat jangka pendek.
Dia juga memproyeksi harga minyak global berpotensi naik sekitar US$2 hingga US$5 per barel.
"Lonjakan ini kemungkinan tidak akan bertahan lama. Alasannya Venezuela hanya produksi kurang dari 1 juta barel per atau kurang dari 1% produksi minyak global. Pasokan minyak global juga mengalami surplus," jelas Iskal kepada Bisnis, Minggu (4/1/2025).
Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (31/12/2025), harga acuan West Texas Intermediate berada di bawah US$58 per barel, turun dalam lima bulan berturut-turut atau terkoreksi hampir 20% tahun ini. Sementara, harga minyak Brent untuk kontrak Maret ditutup melemah 0,3% ke US$61,33 per barel.
Baca Juga
- Terungkap! Segini Cadangan Minyak Venezuela yang Diincar Trump
- Trump Siapkan Investasi Jumbo untuk Ambil Alih Minyak Venezuela
- Ekspor Minyak Venezuela Lumpuh Dampak Sanksi AS & Gejolak Politik
Di satu sisi, Ishak menyebut bahwa jika transisi pemerintahan berjalan lancar dan investasi migas di Venezuela meningkat, maka peningkatan produksi justru akan memberikan tekanan turun pada harga.
"Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek tersebut akan mengerek biaya logistik dan transportasi yang berujung pada naiknya harga barang di tingkat konsumen khususnya pada BBM non-subsidi," ucap Ishak.
Menurutnya, hal itu juga akan berdampak pada peningkatan defisit transaksi neraca berjalan. Dia mengatakan, jika kenaikan harga tersebut berkepanjangan, maka akan berpengaruh pada anggaran subsidi dan kompensasi BBM.
"Namun, secara umum pengaruhnya akan moderat selama tidak terjadi eskalasi lebih lanjut atau gangguan produksi yang lebih besar di negara eksportir lainnya," imbuhnya.
Sementara itu, Praktisi Migas Hadi Ismoyo menuturkan bahwa saat ini produksi minyak Venezuela kurang dari 1 juta barel per hari. Menurutnya, serangan AS terhadap negara itu tidak akan mempengaruhi pasokan minyak dunia.
"Karena produksinya kecil dan Venezuela bukan pada posisi choke point seperti di Selat Hormuz," ucap Hadi.
Mantan sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu menilai, serangan AS terhadap Venezuela juga hampir tidak ada pengaruhnya bagi Indonesia. Bahkan, kata dia, harga minyak saat ini cenderung bergerak lambat di level rendah sekitar US$60 per barel.
"Justru dalam jangka menengah dan panjang kalau AS menguasai Venezuela, maka produksi Venezuela akan masuk dalam level beberapa juta barel per hari. Nah, di situ lah Venezuela akan diperhitungkan," kata Hadi.
Sebelumnya, AS melancarkan operasi militer kilat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Menurut laporan Bloomberg, pasukan komando AS hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri kekuasaan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan Washington.
Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan. Unit Delta Force Angkatan Darat AS kemudian dikirim ke pangkalan militer tempat Maduro bermalam.
Pasukan tersebut mendobrak pintu baja lokasi persembunyian dan menangkap Maduro serta istrinya sebelum keduanya sempat mencapai ruang aman. Pasangan itu lalu diterbangkan dengan helikopter ke sebuah kapal perang AS dalam perjalanan menuju pengadilan di New York.




