Saatnya Wajibkan Mata Pelajaran Sustainability di Indonesia

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas dalam sebuah acara yang digelar terpusat di SMP Negeri 4 Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/11/2025). (BPMI Sekretariat Presiden/Rusman)

Pengalaman pribadi penulis menunjukkan kekuatan luar biasa satu mata kuliah wajib sustainability, sebuah titik balik reflektif mendalam yang mengubah arah hidup. Sebagai lulusan Master Sustainability di Harvard University dan Master Marketing di Monash University, penulis merasakan sendiri dampaknya.

Saat mengambil pelajaran wajib itu di Monash University untuk lulus, hidup penulis berubah drastis. Penulis menemukan tujuan hidup untuk berkontribusi membuat Indonesia lebih berkelanjutan.


Baca: Indesso Aroma Hadirkan Renewable Bio-Additive: BBM Hemat, Bumi Selamat

Beberapa tahun kemudian, saat sedang mengejar titel master kedua di Harvard University, penulis mempublikasikan tesis di tentang efikasi model rental pakaian Indonesia dan mendirikan usaha bernama Triftin.

Pengalaman ini menjadi mata air awal penulisan untuk membedah paradoks sistem pendidikan kita: Indonesia menghadapi krisis sekitar 68 juta ton sampah setiap tahunnya, tetapi sustainability belum menjadi pelajaran wajib dari TK hingga universitas.

Penulis memiliki keyakinan kuat, mata pelajaran sustainability bisa mengubah hidup ribuan orang Indonesia jika diwajibkan sekarang. Remaja usia 12-18 tahun, menurut Erik Erikson, mulai mempertanyakan minat dan tujuan hidup, sedangkan usia 18-25 memperkuat eksplorasi identitas kerja dan nilai.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah wajib memasukkan modul sustainability di PPKn dan IPA SMP/SMA. Ini bisa mencakup project seperti upcycling limbah. Pelatihan guru pun bisa dilakukan melalui workshop dasar ekonomi sirkular dengan menggunakan sumber-sumber gratis hingga melibatkan LSM.

Sisipkan sustainability lintas mata pelajaran: menghitung karbon di matematika, desain upcycled di seni, dan green entrepreneurship di bimbingan karir. Proyek komunitas seperti kebun sekolah atau daur ulang bersama bisnis lokal hingga meningkatkan psychological wellbeing lewat fieldtrip dan bertamasya di alam.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah adaptasi IB/Cambridge di sekolah internasional dengan menambahkan konteks Indonesia (contoh seperti dampak lingkungan industri kelapa sawit di Indonesia).

Untuk universitas, kolaborasi Kemendikdasmen dan institusi bisa menerapkan pelajaran wajib meski berbeda jurusan: jurusan teknik menghitung emisi, jurusan bisnis mempelajari ESG, hingga jurusan seni mempelajari upcycling.

Penulis sarankan partner perusahaan seperti Triftin atau Waste4Change untuk mengisi workshop di institusi pendidikan. Dengan begini, murid Indonesia tak perlu menjalani perjalanan panjang berliku seperti penulis untuk berkontribusi terhadap sustainability dari usia muda. Mereka tahu footprint konsumsi sejak dini dan berpikir ulang untuk belanja impulsif.

Pemerintah jangan menunda lagi. Revisi UU Pendidikan dan jadikan sustainability wajib dipelajari dari level PAUD hingga perguruan tinggi. Alokasikan anggaran 20% untuk pelatihan guru dan sertifikasi green school.

Ini bukan biaya, melainkan investasi menciptakan SDM kompetitif, pacu industri kreatif mencapai 7% PDB jadi hijau. Kepada pembaca CNBC Indonesia, dukung gerakan ini: pendidikan keberlanjutan dapat membuat Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan.


(miq/miq)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Datang Akhir Pekan Ini, John Herdman Diperkenalkan Sebagai Pelatih Timnas Indonesia pada 12 Januari 2026
• 4 jam lalubola.com
thumb
Banjir Bandang di Kepulauan Sitaro Sulut, 9 Orang Tewas
• 21 jam laludetik.com
thumb
Prabowo: Kalau Dikritik Justru Saya Terbantu, Itu Menyelamatkan Saya
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Jika Membawa Cahaya Adalah Dosa, Maka Nadiem Makarim...
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Kompolnas Minta Polisi Gunakan Cell Dump Ungkap Teror ke DJ Donny
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.