AS-Venezuela Memanas, Surplus Dagang RI 2026 Terancam Menyempit

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.

Situasi tersebut dinilai berpotensi menekan kinerja perdagangan Indonesia, terutama ekspor dan berisiko mempersempit surplus dagang pada 2026.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyebut tekanan eksternal yang meningkat turut memengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.

Core memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,1%, relatif stagnan dibandingkan 2025, bahkan dengan risiko melambat. Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya tekanan eksternal.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Menurut Faisal, eskalasi ketegangan antara AS dan Venezuela memperbesar ketidakpastian global yang berpotensi berdampak pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Faisal menilai pemerintah perlu memperkuat langkah antisipasi, terutama melalui diplomasi internasional. Menurutnya, sumber utama risiko perekonomian saat ini berasal dari faktor eksternal, terutama ketika berhadapan dengan negara adidaya.

Baca Juga

  • Ekonom Beberkan Efek Konflik AS-Venezuela ke Rupiah dan Yield SBN
  • Siap-Siap! Biaya Logistik & Harga BBM Naik Imbas AS Serang Venezuela
  • PBB Sebut Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Tidak Hormati Hukum Internasional

“Yang perlu diantisipasi oleh pemerintah dengan kejadian di Venezuela ini tentu saja adalah bahwa diplomasi menjadi sangat penting bagi Indonesia, karena sumber masalah atau kerisauannya itu adalah dari luar, dari eksternal. Apalagi yang dihadapi adalah super power seperti Amerika,” kata Faisal kepada Bisnis, Minggu (4/1/2025).

Selain diplomasi, Core menilai pentingnya mitigasi risiko terhadap ekonomi domestik, khususnya di sektor perdagangan. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, dia menilai, penetrasi ekspor diperkirakan akan semakin sulit dilakukan dibandingkan periode sebelumnya.

Lebih lanjut, Faisal juga menyoroti risiko terhadap pengelolaan sumber daya strategis nasional. Menurut Faisal, komoditas tambang dan mineral kritis yang dimiliki Indonesia berpotensi menghadapi tekanan geopolitik karena menjadi incaran negara-negara besar.

“Dan juga mitigasi risiko yang kaitannya dengan sumber daya strategis yang kita punyai seperti critical minerals terhadap tambang mineral yang itu juga menjadi incaran Amerika. Dan bagaimana kita tahu salah satu alasan besar kenapa Amerika menyerang Venezuela itu adalah faktor minyak,” ujarnya.

Faisal menjelaskan, tekanan terhadap perekonomian Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, dengan dominasi faktor eksternal. Dia menilai tekanan, disrupsi, dan tingkat ketidakpastian global terus meningkat, sejalan dengan arah kebijakan AS yang menjadi episentrum ketegangan geopolitik global.

Selain faktor global, Faisal juga menyebut adanya faktor domestik seperti bencana di Sumatra yang turut memberi tekanan terhadap perekonomian nasional pada 2026.

Dari sisi struktur pertumbuhan ekonomi, Core memprediksi komponen yang paling berisiko pada 2026 berasal dari kinerja ekspor bersih. Core memperkirakan surplus perdagangan Indonesia berpotensi semakin menyempit seiring meningkatnya tekanan terhadap ekspor.

“Kalau diperinci sumber-sumber pertumbuhan ekonominya memang yang paling berisiko memang adalah net export yang berpotensi trade surplus kita akan semakin tipis pada tahun 2026 ini,” lanjutnya

Dia menambahkan, penyempitan surplus perdagangan tersebut tidak hanya berdampak pada kinerja perdagangan, melainkan juga terhadap pendapatan sektor-sektor berorientasi ekspor.

Selain itu, lanjut dia, dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama pekerja yang menggantungkan penghidupan pada sektor-sektor tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh AS pada Sabtu (3/1/2026).

Selain penangkapan, AS juga melancarkan serangan militer skala besar terhadap Venezuela. Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan. Kemudian, Unit Delta Force Angkatan Darat AS dikirim ke pangkalan militer tempat Maduro bermalam.

Menurut laporan Bloomberg, pasukan komando AS hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri kekuasaan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan Washington.

Adapun, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026) merilis foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap pasukan AS tengah berada di atas kapal perang USS Iwo Jima.

Dalam foto yang diunggah Trump di platform Truth Social miliknya, Maduro terlihat mengenakan setelan olahraga, matanya ditutup dan headphone terpasang di telinganya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diplomasi Prabowo hasilkan hotel di Makkah untuk Kampung Haji
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
IHSG Dibuka Hijau Mendekati 9.000, Saham BUMI, DEWA, hingga SUPA Kinclong
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Asal Usul dan Manfaat Chia Seed yang Jarang Diketahui
• 16 jam laluinsertlive.com
thumb
Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatra
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
BNPB Kerahkan Mahasiswa Teknik ke Daerah Bencana Sumatera: Data Rumah Rusak
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.