Dalam deretan 99 nama Allah yang indah atau Asmaul Husna, terdapat satu nama yang menegaskan kekuasaan mutlak Allah SWT atas akhir kehidupan setiap makhluk, yaitu Al Mumit. Secara kebahasaan dan istilah, arti Al Mumit adalah Yang Maha Mematikan.
Nama ini mengandung makna teologis yang sangat dalam, mengingatkan manusia bahwa kematian bukanlah kejadian kebetulan atau sekadar proses biologis semata, melainkan sebuah ketetapan yang berada di bawah kendali penuh Sang Pencipta.
Memahami arti Al Mumit bukan sekadar mengetahui terjemahannya, melainkan meresapi hakikat bahwa tidak ada satu makhluk pun yang dapat mematikan atau mencabut nyawa kecuali atas izin Allah SWT. Sifat ini sering kali disandingkan dengan Al Muhyi (Yang Maha Menghidupkan), menunjukkan keseimbangan kekuasaan Allah yang mengatur siklus kehidupan dan kematian di alam semesta.
Makna Mendalam Al Mumit dalam Asmaul HusnaKata Al Mumit berasal dari akar kata bahasa Arab maata-yamuutu yang berarti mati. Dalam konteks Asmaul Husna, Allah Al Mumit berarti Dzat yang memiliki kemampuan untuk mencabut kehidupan dari jasad yang bernyawa. Allah berkuasa mematikan hati yang hidup dengan kebodohan atau kekafiran, dan mematikan jasad dengan mencabut ruh darinya.
Imam Al-Ghazali dalam penjelasannya mengenai Asmaul Husna menyebutkan bahwa hanya Allah yang menciptakan kematian. Kematian di sini tidak boleh dipandang semata-mata sebagai ketiadaan atau kepunahan, melainkan sebuah fase perpindahan dari satu alam (dunia) ke alam lain (barzah/akhirat). Dengan meyakini sifat Al Mumit, seorang mukmin akan menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di hadapan takdir Allah.
Pemahaman akan sifat ini seharusnya tidak melahirkan ketakutan yang berlebihan (paranoid) terhadap kematian, melainkan menumbuhkan rasa persiapkan diri. Mengetahui bahwa Allah adalah Al Mumit membuat manusia sadar bahwa waktu kematian adalah rahasia Ilahi yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetik pun.
Dalil Tentang Al Mumit dalam Al-Qur'anKeyakinan terhadap sifat Allah Yang Maha Mematikan didasarkan pada berbagai ayat suci Al-Qur'an. Berikut adalah beberapa dalil yang menjelaskan sifat Al Mumit beserta teks Arab dan terjemahannya:
1. Surat Yunus Ayat 56Ayat ini menegaskan bahwa hidup dan mati adalah prerogatif Allah semata, dan kepada-Nya lah semua makhluk akan kembali.
هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya: "Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (QS. Surat Yunus: 56)
2. Surat Al-Hadid Ayat 2Dalam surat ini, Allah SWT menegaskan kepemilikan-Nya atas langit dan bumi serta kekuasaan-Nya dalam menghidupkan dan mematikan.
لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Surat Al-Hadid: 2)
3. Surat Al-Imran Ayat 156Ayat ini sering menjadi pengingat bagi orang beriman agar tidak merasa bahwa kematian seseorang disebabkan oleh faktor manusia semata, melainkan takdir Allah.
وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: "...Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Surat Ali Imran: 156)
Cara Meneladani Sifat Al Mumit dalam Kehidupan Sehari-hariSebagai seorang hamba, meneladani Asmaul Husna bukan berarti kita memiliki kuasa mematikan seperti Allah, melainkan mengaplikasikan nilai-nilai spiritual dari sifat tersebut ke dalam perilaku. Berikut adalah langkah konkret meneladani arti Al Mumit:
- Mematikan Hawa Nafsu Angkara Murka
Implementasi paling nyata dari meneladani Al Mumit adalah berjuang 'mematikan' keinginan-keinginan buruk dalam diri. Hawa nafsu yang mengajak pada kemaksiatan, kesombongan, dan kerakusan harus dimatikan agar hati menjadi hidup dengan cahaya iman. Seorang muslim harus mampu mengendalikan dirinya, bukan dikendalikan oleh nafsunya. - Mempersiapkan Bekal untuk Kematian
Mengingat Allah adalah Al Mumit menjadikan seseorang visioner. Ia sadar bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Oleh karena itu, ia akan menggunakan waktunya untuk beramal saleh, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama sebagai investasi untuk kehidupan setelah mati. - Tidak Takut Menghadapi Kematian dalam Kebenaran
Para pejuang di jalan Allah tidak gentar menghadapi risiko kematian karena mereka yakin bahwa Al Mumit-lah yang menentukan ajal, bukan musuh atau senjata. Keberanian ini muncul karena keyakinan bahwa kematian adalah pintu pertemuan dengan Sang Kekasih, Allah SWT. - Menghargai Kehidupan
Paradoksnya, dengan mengingat kematian (Al Mumit), seseorang akan lebih menghargai kehidupan (Al Muhyi). Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat, tidak akan merusak tubuhnya dengan narkoba atau alkohol, dan tidak akan melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain.
Beriman kepada Allah yang memiliki sifat Al Mumit membawa dampak psikologis dan spiritual yang positif. Seseorang yang meyakini hal ini akan terhindar dari penyakit thulul amal (panjang angan-angan). Ia akan menjadi pribadi yang disiplin, tidak menunda-nunda tobat, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya seolah-olah itu adalah amal terakhirnya.
Selain itu, keimanan ini juga menghilangkan rasa putus asa. Ketika kehilangan orang yang dicintai, seorang mukmin yang memahami arti Al Mumit akan bersabar dan ikhlas, menyadari bahwa Allah yang memiliki hak penuh untuk mengambil kembali apa yang telah Dia hidupkan. Kesadaran ini adalah kunci ketenangan jiwa dalam menghadapi dinamika kehidupan yang fana.



