Wapres AS bela kebijakan atas Venezuela, singgung soal narkoba-minyak

antaranews.com
2 hari lalu
Cover Berita
Washington (ANTARA) - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance, Minggu (4/1), membela kebijakan Washington terhadap Venezuela di tengah kritik yang mengemuka.

Ia menilai Venezuela memiliki peran signifikan dalam perdagangan narkoba global serta telah lama diuntungkan dari aset minyak milik perusahaan AS yang diambil alih pemerintah Caracas.

Vance menanggapi klaim yang menyebut Venezuela tidak terkait dengan perdagangan narkoba karena sebagian besar fentanil berasal dari wilayah lain. Menurut dia, pandangan tersebut mengabaikan sejumlah fakta penting.

Ia menyatakan bahwa fentanil bukan satu-satunya jenis narkoba yang beredar di dunia dan menegaskan bahwa pasokan fentanil juga pernah berasal dari Venezuela, kata Vance dalam pernyataannya di platform media sosial X.

Selain fentanil, Vance menyoroti peredaran kokain yang disebutnya sebagai narkoba utama yang diperdagangkan keluar dari Venezuela. Ia mengatakan kokain masih menjadi sumber pendapatan besar bagi kartel narkoba di Amerika Latin.

Menurut Vance, upaya memutus atau mengurangi aliran dana dari perdagangan kokain akan secara signifikan melemahkan kekuatan kartel. Ia menegaskan bahwa kokain juga merupakan ancaman serius yang tidak boleh diabaikan.

Vance menambahkan bahwa Meksiko tetap menjadi fokus utama kebijakan pemberantasan narkoba AS karena keterkaitannya dengan perdagangan fentanil.

Ia juga merujuk pada keputusan Presiden Donald Trump yang menutup perbatasan pada hari pertama masa jabatannya sebagai bagian dari langkah tersebut.

Menanggapi kritik terkait kebijakan minyak dan energi, Vance menyatakan Venezuela telah mengambil alih aset minyak milik perusahaan AS sekitar dua dekade lalu.

Ia menilai, hingga beberapa waktu lalu, sumber daya tersebut digunakan untuk memperkaya negara dan mendanai aktivitas yang ia sebut sebagai kegiatan narkoterorisme.

Vance mengakui adanya kekhawatiran terkait penggunaan kekuatan militer, namun mempertanyakan sikap pasif terhadap tindakan yang ia gambarkan sebagai pencurian aset oleh pemerintahan komunis di kawasan Belahan Barat.

Pernyataan Vance disampaikan sehari setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa aksi militer AS pada Sabtu (3/1) lalu berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump menyatakan AS akan mengambil alih kendali atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan pengerahan pasukan jika diperlukan.

Trump menuduh Maduro mengawasi pengiriman narkoba ke AS serta mempertahankan kekuasaan secara tidak sah melalui kecurangan pemilu.

Maduro, yang saat ini ditahan di fasilitas penahanan di New York sambil menunggu proses hukum terkait tuduhan narkoba, membantah tuduhan tersebut. Sejumlah pejabat di Caracas juga menyerukan pembebasannya.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Trump tak tutup opsi gelombang kedua serangan ke Venezuela

Baca juga: Operasi AS terhadap Venezuela direncanakan berbulan-bulan


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nusron: Transparansi Waktu Jadi Kunci Pelayanan Pertanahan
• 4 jam lalueranasional.com
thumb
61 Ribu Penumpang Berangkat dari Stasiun Tegal pada Nataru 2025/2026
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Insanul Fahmi Buka Suara soal Tekanan Mental Usai Kasus yang menyeret nama Wardatina Mawa dan Inara Rusli
• 25 menit lalugrid.id
thumb
10 Ucapan Selamat Imlek 2026 dalam Bahasa Indonesia, Cocok Dikirim kepada Keluarga, Sahabat dan Rekan Kerja!
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Prediksi Skor Lecce vs AS Roma: Head to Head, Susunan Pemain
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.