REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL -- Warga Kabupaten Gunungkidul digegerkan usai beredarnya sebuah video di media sosial yang menampilkan jejak kaki misterius berukuran besar. Video itu salah satunya diunggah oleh akun Instagram @gunungkidul.update dan memperlihatkan bekas jejak kaki hewan besar di lokasi pembangunan pondok pesantren (ponpes) di wilayah Panggul Kulon, Kapanewon Semanu.
Tak hanya satu, beberapa tapak berukuran besar didapati di lokasi seperti berjalan tidak beraturan di sekitar penampungan air bersih menuju arah barat. Dalam narasi yang beredar, jejak tersebut diduga menyerupai tapak kaki harimau.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});"Seorang pekerja proyek pembangunan Ponpes di wilayah Kapanewon Semanu merekam penemuan jejak yang mirip dengan kaki harimau," tulis keterangan unggahan tersebut, dilihat Republika Ahad (4/1/2026).
Unggahan tersebut langsung memicu beragam spekulasi dan perbincangan warganet. "macan sih itu palingan, bukan harimau," komentar seorang warganet.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}"Harimau malaya sepertinya min," tulis lainnya.
"Waduh berbahaya kui kudu di jelajahi," tulis warganet lain.
Terkait penemuan ini, salah seorang pekerja proyek pembangunan ponpes, Heru Purwanto (56 tahun), membenarkan adanya temuan jejak kaki tersebut. Ia menyampaikan bahwa jejak itu ditemukan sekitar tiga hari sebelum video tersebut viral.
"Pagi-pagi saya datang ke lokasi mau kerja di sini, lihat jejak-jejak (kaki) harimau. Harimaunya cukup besar," kata Heru kepada wartawan.
Heru meyakini jejak tersebut merupakan tapak kaki harimau. Ia beralasan, selain ukuran yang besar seperti telapak sapi, salah satu operator alat berat di proyek tersebut mengaku pernah melihat langsung sosok hewan mirip harimau di sekitar lokasi.
"(Jejaknya) se-telapak sapi," katanya
"Operator backhoe pernah melihat, warnanya kuning hitam, ukurannya lebih besar dari kambing," ujarnya menambahkan.
Namun demikian, jejak tersebut kini sudah tidak terlihat. Heru menyebut hujan deras yang mengguyur wilayah Gunungkidul pada Kamis (1/1/2026) menyebabkan jejak itu hilang.
"Kemarin hujan deras sekali, jadi jejaknya ikut hilang," ucapnya.
Kesaksian serupa juga disampaikan oleh pekerja lainnya, Jono (60). Ia mengaku beberapa kali melihat hewan tersebut, terutama saat musim kemarau. Meski demikian, menurutnya hewan itu tidak pernah mengganggu aktivitas warga maupun pekerja.
"Sering lihat waktu kemarau. Tapi tidak mengganggu, asal jangan diganggu saja," kata Jono.
Hingga berita ini dibuat, Republika masih menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY melalui Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penemuan jejak kaki yang diduga mirip tapak kaki harimau tersebut.




