Sebulan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Bertahan di Tengah Listrik Tak Stabil dan Ketergantungan Bantuan

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, KUALA SIMPANG, Aceh — Kondisi masyarakat korban bencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang dalam sepekan terakhir masih jauh dari pulih, meski aktivitas warga di beberapa titik mulai kembali berjalan walau terbatas.

Berdasarkan laporan warga di lapangan, masyarakat sudah kembali berjualan di sekitar pasar dengan peralatan seadanya. Namun, pemulihan belum merata. Di Desa Paya Bedi, aliran listrik sudah menyala, sementara di Desa Babo hingga kini masih padam. Bahkan di pusat kota Kuala Simpang sendiri, listrik belum stabil dan kerap hidup-mati, sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Kondisi sekarang memang sudah mulai bergerak, tapi belum normal. Listrik masih sering mati, dan warga masih sangat bergantung pada bantuan dan donasi,” kata Murni Zhura, anggota PMI Kota Langsa yang juga menjadi korban banjir di Aceh Tamiang, saat diwawancarai oleh Bisnis (29/12/2025).

Dari sisi infrastruktur, akses utama Medan–Langsa terpantau aman dan tidak mengalami kerusakan jembatan. Jalan lintas tersebut juga sudah dibersihkan menggunakan alat berat, sehingga arus lalu lintas dan distribusi logistik ke Aceh Tamiang relatif lancar. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah pedalaman. Desa Sekumur misalnya yang hingga kini masih terisolasi akibat jembatan penghubung desa tersebut putus. Akibatnya menyulitkan penyaluran bantuan secara langsung ke sana.

Pemerintah dan relawan dari berbagai organisasi saat ini sedang bahu membahu melakukan pemulihan di Aceh Tamiang. Bantuan logistik dan layanan kesehatan darurat terus disalurkan, seiring kondisi warga yang masih rentan terhadap penyakit dan luka pascabanjir.

Baca Juga

  • BNPB Catat Korban Meninggal Dunia Bencana Sumatra Bertambah jadi 1.177 Jiwa
  • Himbara Kerahkan Pembiayaan dan Logistik untuk Pembangunan Huntara di Aceh

Rumah Sakit Kuala Simpang saat ini sudah kembali digunakan untuk menangani warga dengan luka ringan dan penyakit umum. Namun, operasionalnya belum sepenuhnya normal dan masih difungsikan sebagai pos pelayanan darurat. Sementara itu, aktivitas pendidikan belum berjalan karena sekolah-sekolah masih dalam tahap pembersihan pascabanjir.

Dari sisi ekonomi, harga bahan pokok di Kuala Simpang dan sekitarnya belum stabil dan tidak diketahui pasti. Kelangkaan sembako membuat warga tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan masih sepenuhnya bergantung pada bantuan donasi yang masuk dari berbagai pihak. Kondisi ini membuat pemulihan ekonomi masyarakat berjalan lambat dan penuh ketidakpastian.

Masyarakat saat ini sangat berharap kepada bantuan pemerintah agar terus menyalurkan bantuan secara lebih merata ke daerah-daerah pedalaman. Berdasarkan laporan yang diterima oleh Bisnis, masih banyak daerah di pedalaman Aceh Tamiang yang sampai sekarang belum terjangkau dan membutuhkan pertolongan. (Arief Budi Mulia)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BPS Catat Inflasi Desember 2025 Sebesar 2,92%
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Trump Bilang Venezuela Tak Adakan Pemilu dalam 30 Hari ke Depan: Kita Harus Perbaiki Negara Itu Terlebih Dahulu
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
RS Jiwa Grhasia Sleman Tangani 6.776 Pasien pada 2025, Pria Capai 3.952 Orang
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Mens Rea Pandji Pragiwaksono Jadi Tayangan Nomor 1 TV Shows Netflix Indonesia
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Militer AS Menewaskan Sebagian Besar Pengawal Maduro, 32 Orang Berasal dari Kuba
• 51 menit laluerabaru.net
Berhasil disimpan.