Elang di Langit Muria, Macan Tutul di Batas Hutan

kompas.id
2 hari lalu
Cover Berita

Elang hitam terbang tinggi, berputar di atas hamparan tegakan pohon di lereng Gunung Muria. Kehadirannya menjadi penanda bahwa sebagian ekosistem hutan di kawasan ini masih bertahan meski tekanan terhadap alam terus meningkat. Siang itu, Selasa (16/12/2025), cuaca cerah setelah beberapa hari hujan mengguyur lereng Muria.

Di bawah kanopi hutan, sekelompok warga menyusuri jalan setapak, menyibak rimbunnya vegetasi. Mereka berjalan bukan sekadar menembus hutan, melainkan menjaga rumah bagi beragam satwa liar yang hidup di dalamnya.

Langkah mereka sesekali terhenti. Di tanah tampak jelas jejak kaki macan tutul jawa (Panthera pardus melas), predator puncak yang menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan. Triyono, pegiat Pegiat Konservasi Muria (Pekamuria) yang memimpin perjalanan, memastikan jejak tersebut milik macan tutul. Salah satu anggota kelompok mendokumentasikannya menggunakan telepon seluler.

Dalam satu dekade terakhir, Pegiat Konservasi Muria yang beranggotakan lintas profesi, mulai dari petani, guru, pengojek, hingga anak muda, berupaya menjaga sisa-sisa bentang alam Gunung Muria. Fokus utama mereka adalah perlindungan hutan dan satwa endemik, terutama macan tutul jawa yang kini hanya bertahan di kantong-kantong hutan tersisa.

Berdasarkan data pemantauan Pekamuria sejak 2013 hingga 2025, tercatat sedikitnya 14 individu macan tutul jawa hidup di kawasan Muria. Jumlah itu dinilai rentan, terlebih dengan semakin menyempitnya tutupan hutan akibat alih fungsi lahan. Padahal, sebagai predator puncak, keberadaan macan tutul berperan penting menjaga keseimbangan populasi satwa mangsa dan stabilitas ekosistem.

Untuk membaca pergerakan satwa sekaligus memetakan tekanan terhadap habitat, Pekamuria memasang kamera jebak di sejumlah jalur jelajah macan tutul. Salah satunya berada di sisi selatan lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025).

Dari rekaman foto dan video, mereka memperoleh data terbaru tentang individu, wilayah jelajah, serta waktu aktif satwa. Teknologi kalung pelacak juga pernah dipasang meski kemudian dilepas kembali. Seluruh data tersebut menjadi dasar penelitian, mitigasi konflik satwa-manusia, serta bahan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat alami.

Upaya konservasi tidak berhenti pada pemantauan satwa. Anggota Pekamuria juga melakukan rehabilitasi hutan dengan menanam bibit ficus di lahan terbuka, sekitar sumber air, dan bekas pohon tumbang. Langkah ini dilakukan secara berkelanjutan di tengah maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan di beberapa titik lereng Muria.

Pemilihan ficus, menurut Triyono, memiliki nilai ekologis strategis. Pohon ini berbuah sepanjang tahun dan menjadi sumber pakan utama bagi burung dan primata. ”Kalau sumber makanan untuk satwa kecil tersedia, rantai makanan akan terjaga. Itu penting agar predator seperti macan tutul tetap bertahan di hutan,” ujarnya.

Namun, menyempitnya habitat dan berkurangnya satwa mangsa dalam beberapa tahun terakhir mendorong macan tutul keluar hutan dan memasuki wilayah permukiman. Konflik pun tak terhindarkan. Ternak warga, seperti ayam dan kambing, kerap menjadi sasaran. Untuk mengurangi risiko, warga mulai memodifikasi kandang agar lebih kokoh dan aman dari serangan satwa liar.

Baca JugaKamera Jebak untuk Merekam Satwa Liar
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Sang penjaga terakhir hutan Muria
Konservasi dan ekonomi

Bagi Pekamuria, pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ketua Pekamuria, Teguh Budi Wiyono, mengatakan bahwa menjaga hutan Muria memerlukan pendekatan yang realistis karena kawasan tersebut juga menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan warga.

”Sosialisasi konservasi tidak mudah karena bersinggungan langsung dengan ekonomi. Kalau ke orang tua, cara pandangnya sudah terbentuk. Itu sebabnya kami banyak menggandeng anak muda,” kata Teguh.

Selain edukasi lingkungan, penguatan ekonomi berbasis komoditas ramah lingkungan menjadi jalan tengah. Kopi dan parijoto dipilih karena dapat dibudidayakan tanpa membuka hutan secara masif.

Teguh, yang juga petani kopi, menambahkan bahwa Gunung Muria memiliki nilai ekologis yang menyatu dengan budaya dan religi. Jejak Sunan Muria melekat kuat di kawasan ini, termasuk tanaman parijoto yang diyakini sebagai warisan spiritual dan kini menjadi komoditas unggulan warga.

Kopi dan parijoto menopang perekonomian masyarakat di lereng Muria yang tersebar di Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Dengan pola tanam yang lebih ramah lingkungan, tekanan terhadap hutan dapat ditekan.

Gerakan pelestarian yang dirintis secara swadaya ini mendapat dukungan dari Djarum Foundation Bakti Lingkungan. Dalam beberapa tahun ke depan, lembaga tersebut akan mendanai penelitian dan pendataan macan tutul jawa serta elang jawa. Dukungan ini diharapkan memperkuat upaya perlindungan keanekaragaman hayati Gunung Muria, sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan bagi generasi mendatang.

Baca JugaWarisan Hidup Riza Marlon
Baca JugaYuk, Abadikan Satwa Liar di Sekitar Rumahmu

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Istana: 6 Proyek Hilirisasi akan Groundbreaking Januari, Ada DME Batu Bara
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bapenda Panen Pajak Daerah Bulukumba 2025, Capai Rp80,5 Miliar Selama 2025
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Ogah Tergantung Negara Lain, Prabowo: Kita Lepas dari Kemiskinan
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Nadiem Makarim Didakwa Perkaya Diri Rp 809 Miliar, Kuasa Hukum: Nggak Ada Buktinya!
• 23 jam laludisway.id
thumb
Bertemu PELBAJINDO, Bamsoet Tegaskan Pelatihan Berkualitas jadi Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.