Tokyo: Dolar Amerika Serikat (AS) memulai pekan perdagangan penuh pertama 2026 dengan langkah yang mantap. Mata uang Negeri Paman Sam itu naik ke level tertinggi dalam 3,5 pekan terhadap euro dan menguat terhadap poundsterling.
Pergerakan mata uang sejauh ini relatif tenang pada perdagangan Senin, 5 Januari 2025, meskipun serangan berani AS ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba di New York menjadi risiko bagi sentimen pasar.
Indikator makroekonomi AS minggu ini bisa menjadi sangat penting dalam mengarahkan kebijakan Federal Reserve, dimulai dengan ISM pada Senin dan berpuncak pada angka penggajian non-pertanian bulanan pada Jumat.
Mengutip Investing.com, Senin, 5 Januari 2026, dolar AS menguat 0,1 persen menjadi USD1,1705 per euro, dan sebelumnya sempat menguat hingga mencapai USD1,170025 untuk pertama kalinya sejak 11 Desember.
Mata uang AS tersebut juga menguat 0,1 persen menjadi USD1,34495 per poundsterling Inggris, dan menguat 0,1 persen menjadi 156,90 yen.
Baca juga: Dolar AS Rebound Meski Sedikit
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Suku bunga Fed bakal dipangkas dua kali
Para pedagang memperkirakan dua kali penurunan suku bunga AS tahun ini, dibandingkan dengan satu kali penurunan yang diproyeksikan oleh dewan Fed yang saat ini terpecah.
Investor juga mengamati siapa yang akan dipilih Presiden AS Donald Trump untuk menjadi ketua Fed berikutnya, karena masa jabatan kepala saat ini Jerome Powell, berakhir pada Mei mendatang.
Trump mengatakan dia akan memilih ketua Fed bulan ini, dan mengatakan pengganti Powell akan menjadi seseorang yang percaya pada suku bunga yang lebih rendah, secara signifikan.


