Imogiri, Bantul – Di lereng hijau Gunung Mojo, tersembunyi sebuah bengkel kecil yang bernama Besalen Gunung Mojo di Banyusurup, Pajimatan Payaman Utara, Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Tempat ini bukan sekadar sanggar besi, melainkan penjaga api tradisi penempaan keris hias yang kian langka di era modern. Selama dua tahun terakhir, dua tukang besi handal, Pak Darsono dan Pak Daryanto, telah menghidupkan kembali seni ini dengan tangan mereka yang kokoh, memukul nikel menjadi bilah keris berhias indah yang diminati hingga ke pelosok Indonesia.
Pak Darsono, seorang penempa keris senior yang berasal dari Imogiri, berkembang dari pekerjaan sederhananya sebagai tukang tempa besi biasa menjadi seorang penempa keris profesional. Saat ia bercerita, wajahnya yang dekil oleh asap tungku tidak menyembunyikan senyum ramah. Sambil menyeka keringat di dahinya, dia berkata, "Keris bukan hanya senjata, tapi jiwa leluhur yang harus dilestarikan". Di sisinya, ada pak Daryanto yang bergabung dua tahun lalu saat bengkel ini resmi berdiri. Dua orang ini adalah duo yang dinamis Darsono mahir membentuk bilah, dan Daryanto mahir membuat ukiran hiasan yang rumit. Mereka menempa keris bersama, bukan untuk digunakan dalam perang, tetapi sebagai pusaka hias, aksesori adat, atau koleksi seni.
Besalen Gunung Mojo mulai beroperasi pada 2024, tepat dua tahun lalu, di Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri. Berlokasi di Banyusurup, Pajimatan Payaman Utara, hanya 20 menit dari pusat Imogiri yang terkenal dengan kompleks makam raja-raja Mataram. Bengkel sederhana itu berdiri di pekarangan rumah Pak Darsono, dikelilingi lereng-lereng bukit yang hijau. Udara pagi sering dipenuhi dentang palu dan deru bara api, menciptakan simfoni yang menyatu dengan angin lereng gunung. "Kami membuka tempat penempaan keris di sini karena dekat dengan rumah saya dan Darsono" jelas Pak Daryanto sambil menambahkan arang ke tungku yang sedang membara.
Di tengah gempuran industri modern, tradisi penempaan keris hampir punah. Banyak generasi muda lebih memilih pekerjaan kantoran daripada basah kuyup oleh keringat di depan api. Pak Darsono dan Pak Daryanto melihat peluang melestarikan budaya Jawa di Imogiri, tanah suci yang sarat sejarah keraton. "Kami ingin keris hias ini jadi jembatan masa lalu dan sekarang. Bukan lagi tabu, tapi seni yang bisa dipamerkan," ujar Pak Darsono. Pandemi dua tahun silam justru memicu ide ini; pesanan online melonjak saat orang mencari pusaka untuk ritual adat.
Semua dimulai dari nikel berkualitas tinggi, bahan utama yang mereka impor dari distributor lokal di Yogyakarta. Nikel dipilih karena tahan karat, lentur saat ditempa, dan menghasilkan pola wilur (serat) yang eksotis setelah proses penempaan. "Nikel lebih mudah dibentuk daripada besi biasa, tapi butuh ketelitian agar tidak retak," tambah Pak Daryanto. Proses lengkap memakan waktu tiga hari: hari pertama pemanasan dan pemukulan kasar hingga bilah memanjang 40-50 cm; hari kedua pengukiran motif hias seperti naga, burung garuda, atau flora Jawa; hari ketiga penyepuhan, pengasahan, dan pemasangan pegangan atau biasa disebut hulur . Setiap keris hias dijual satuan hingga belasan juta, tergantung ukuran dan kerumitan. Mereka hanya produksi 5-10 bilah per bulan untuk menjaga kualitas.
Klien datang dari berbagai kalangan mulai dari kolektor seni, pengantin adat Jawa, hingga pejabat. Yang paling jauh berasal dari Padang, Sumatera Barat yang memesan keris hias motif larasati untuk koleksi pribadi. "Dia kirim desain via WA, kami kirim via ekspedisi" tutur Pak Darsono bangga. Selain itu, pesanan rutin dari Solo, Jakarta, dan Bali. Bahkan, wisatawan mancanegara sesekali mampir untuk melihat proses pembuatan keris.



