Caracas, VIVA – Malam itu, langit Venezuela tidak pernah benar-benar gelap dan sepi seperti biasanya. Jumat tengah malam, 2 Januari 2026, menjelang Sabtu dini hari, sebuah rangkaian peristiwa singkat mengubah ibu kota Caracas menjadi pusat perhatian dunia.
Pukul 23.46 waktu setempat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan perintah yang telah dinantikan selama berbulan-bulan oleh Pentagon dan komunitas intelijen AS: Operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dimulai!
Sebanyak 150 pesawat militer AS lepas landas dari 20 pangkalan udara di berbagai wilayah Belahan Bumi Barat. Armada tempur bergerak senyap dengan pasukan khusus tempur yang sangat terlatih untuk melancarkan operasi penculikan Maduro.
- Ist
Dalam serangan singkat yang mengejutkan dunia, pasukan AS berhasil membombardir ibu kota Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores pada Sabtu dini hari.
Dalam konferensi pers pada hari Sabtu di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, Presiden AS Donald Trump memuji operasi untuk menangkap Maduro sebagai salah satu "pertunjukan kekuatan dan kompetensi militer Amerika yang paling menakjubkan, efektif, dan kuat dalam sejarah Amerika" dilansir Al Jazeera, Senin, 5 Januari 2026.
Ini adalah operasi militer paling berisiko dan paling terkenal yang disetujui oleh Washington sejak tim SEAL Angkatan Laut AS membunuh pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden di sebuah rumah persembunyian di Abbottabad, Pakistan pada tahun 2011.
Berita tentang penculikan Maduro yang berusia 63 tahun, mendominasi headline berita global.
Serangan ini terjadi setelah berbulan-bulan terjadi peningkatan ketegangan dan ancaman terkait dugaan keterlibatan Maduro dalam pengiriman narkoba ke AS, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan pada Caracas dengan pengerahan militer di Karibia dan serangkaian serangan rudal mematikan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba.
Legalitas serangan tersebut, yang menewaskan lebih dari 100 orang, telah dipertanyakan secara serius oleh PBB dan para ahli hukum.
AS bergeming. Mereka malah menawarkan hadiah $50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Namun, sementara militer melakukan operasi di Karibia, intelijen AS telah mengumpulkan informasi tentang Maduro. Sementara itu, pasukan khusus secara diam-diam melatih rencana untuk secara paksa menggulingkannya dari kekuasaan.




