Dalam konferensi pers pada 3 Januar 2026, militer Amerika Serikat memaparkan secara rinci operasi penyerbuan mendadak ke Venezuela pada dini hari hari itu, yang berujung pada penangkapan diktator negara tersebut, Nicolás Maduro.
EtIndonesia. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS, Jenderal Dan Razin Caine, menjelaskan berbagai detail operasi militer yang mengejutkan dunia ini. Ia menyatakan bahwa lebih dari 150 pesawat militer terlibat dalam operasi yang diberi nama sandi “Operation Absolute Resolve.” Pasukan militer tiba di kediaman Maduro pada pukul 02.01 waktu setempat, dan seluruh operasi hanya berlangsung sekitar dua setengah jam.
Jenderal Caine mengatakan, ini adalah operasi berskala besar yang melibatkan kerja sama semua matra militer dan lembaga intelijen, yang telah direncanakan dengan sangat matang dan memerlukan persiapan selama berbulan-bulan. Persiapan tersebut mencakup penguntitan terhadap Maduro untuk “memahami pola pergerakannya, tempat tinggal, tujuan perjalanan, kebiasaan makan, serta cara berpakaian.”
Sebelumnya, media melaporkan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah menempatkan sebuah tim kecil di wilayah Venezuela sejak musim panas, guna memantau aktivitas Maduro secara ketat.
Menurut penjelasan Jenderal Caine, Presiden Trump pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS 2 Januari 2026 memberikan perintah final untuk memulai operasi Venezuela. Pada malam itu, lebih dari 150 pesawat lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan laut di belahan bumi barat. Pesawat-pesawat tersebut termasuk helikopter yang membawa pasukan penangkap, yang terbang memasuki wilayah Venezuela pada ketinggian hanya sekitar 100 kaki di atas permukaan laut.
Donald Trump mengunggah sebuah foto di platform media sosial Truth Social yang memperlihatkan Maduro ditangkap di atas kapal induk USS Iwo Jima. (Akun Verified Truth Social Donald Trump)Dengan perlindungan dari serangkaian serangan udara AS di kawasan tersebut, helikopter-helikopter itu tiba di kediaman Maduro pada pukul 01.01 waktu Pantai Timur AS 3 Januari, atau pukul 02.01 dini hari waktu setempat Caracas. Setelah itu, pasukan penangkap mendarat di kompleks kediaman Maduro dan bergerak maju menuju target dengan cepat, presisi, dan terkoordinasi.
Helikopter-helikopter terbang melintas di tengah kepulan asap yang membubung dari ledakan-ledakan di Caracas, Venezuela, 3 Januari 2026, dalam cuplikan layar yang diperoleh dari rekaman video milik Reuters.Video diperoleh dari Reuters/via REUTERS
Caine merinci bahwa selain helikopter yang membawa pasukan penyerbu untuk menangkap Maduro, jet tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, jet tempur F-18 Super Hornet, serta pesawat pengebom B-1B Lancer juga dilibatkan dalam operasi tersebut.
Pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler turut membantu dalam penekanan dan pelumpuhan sistem pertahanan udara Venezuela.
Caine mengatakan bahwa pesawat pendukung lainnya, termasuk banyak drone yang dikendalikan dari jarak jauh, juga ikut membantu misi ini.
“Ketika pasukan mulai mendekati Caracas, komponen udara gabungan mulai membongkar dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela, dengan menggunakan persenjataan untuk memastikan jalur aman bagi helikopter agar dapat masuk ke wilayah target,” ujar Caine.
Di tengah kekacauan yang mengguyur sistem pertahanan udara Venezuela, Caine mengatakan bahwa para perencana misi menilai pasukan penyerbu yang diangkut dengan helikopter berhasil tetap nyaris tidak terdeteksi, sehingga mereka dapat melanjutkan pergerakan menuju sasaran.
Caine juga menyebutkan bahwa ketika pasukan penyerbu semakin mendekati target, sebuah tim intelijen darat terus memberikan pembaruan situasi secara real time mengenai kondisi di lokasi Maduro.
Ia menambahkan bahwa Maduro dan istrinya kemudian menyerah dan ditahan. Meskipun sempat terjadi baku tembak, tidak ada korban di pihak militer AS.
Setelah target berhasil diamankan, helikopter dipanggil untuk mengevakuasi mereka, sementara pesawat tempur memberikan perlindungan udara dan tembakan penekan.
Jenderal Caine menyatakan bahwa pada pukul 03.29 waktu Pantai Timur AS—kurang dari dua setengah jam setelah memasuki kediaman Maduro—Maduro dan istrinya telah dibawa ke kapal induk Amerika Serikat USS Iwo Jima. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju New York untuk menghadapi proses pengadilan. (Hui)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5464723/original/094768200_1767702371-IMG-20260106-WA0039.jpg)

