IHSG naik setelah ada kekhawatiran serangan AS ke Venezuela akan berdampak ke pasar modal dalam negeri.
Baca juga: Perdagangan Perdana 2026, IHSG Menguat
IHSG dibuka nak ke level 8776 atau naik 0,35 persen pada pembukaan perdagangan Senin, 5 Januari 2026.
Kenaikan IHSG diikuti dengan laju indeks saham unggulan seperti LQ45 dan JII. LQ45 menjadi 852 atau setara dengan minus 0,03 persen.
Sementara itu JII naik ke level 590 atau setara dengan 0,81 persen. Saham yang menopang indeks pada pembukaan perdagangan hari ini adalah ANTM, MEDC, EXCL, INCO dan KLBF.
IHSG sempat mencatatkan penguatan kuat pada perdagangan awal 2026. IHSG ditutup naik 1,17% atau 101 poin ke level 8.748,13.
Kinerja positif juga tercermin pada indeks unggulan LQ45 yang naik 0,64% serta IDX30 yang menguat 0,37%.
Penguatan IHSG didorong reli sejumlah indeks sektoral, terutama IDX Transportation yang melesat 6,56%, IDX Technology naik 4,47%, IDX Cyclical menguat 3,47%, serta
IDX Energy yang melonjak 3,33%.
Di sisi lain, sektor keuangan dan perbankan justru melemah masing-masing sekitar 0,87%, mencerminkan rotasi sektor di awal tahun. Saham AS Menguat Tipis Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan perdana 2026 dengan pergerakan bervariasi.
Indeks S&P 500 berhasil ditutup menguat tipis pada Jumat, 5 Januari 2026, didorong kenaikan saham-saham semikonduktor yang membantu menjaga pergerakan pasar tetap positif di tengah sentimen global yang masih hati-hati.
S&P 500 naik 0,19% ke level 6.858, sementara Dow Jones Industrial Average menguat lebih solid sebesar 0,66% atau 319 poin ke 48.382.
Adapun Nasdaq Composite justru terkoreksi tipis 0,03% ke level 23.236, tertekan aksi ambil untung pada saham teknologi besar.
Di kawasan Eropa, mayoritas bursa saham juga ditutup di zona hijau. FTSE 100 Inggris naik 0,20%, DAX Jerman menguat 0,20%, dan CAC 40 Prancis mencatatkan kenaikan lebih kuat sebesar 0,56%, seiring optimisme awal tahun dan stabilnya volatilitas pasar global.
Sementara di Asia, pergerakan bursa relatif bervariasi. Hang Seng Index Hong Kong melonjak signifikan 2,76%, mencerminkan minat beli investor pada saham-saham China. Sebaliknya, Nikkei Jepang dan Shanghai Composite tidak melakukan perdagangan dan ditutup stagnan. Pasar Obligasi dan Mata Uang Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun tipis ke 6,16%, menandakan minat investor terhadap aset pendapatan tetap domestik masih terjaga.
Sebaliknya, imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor 2 hingga 30 tahun kompak naik, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Nilai tukar rupiah melemah terbatas di level Rp16.788 per dolar AS, sejalan dengan penguatan indeks dolar AS. Volatilitas pasar global terpantau mereda, tercermin dari VIX Index yang turun hampir 3% ke level 14,51.
Harga minyak mentah dunia bergerak terbatas, dengan WTI turun ke USD57,32 per barel dan Brent melemah ke USD60,75 per barel.
Harga emas bergerak fluktuatif, dengan emas berjangka Comex terkoreksi, sementara harga emas spot masih mencatatkan penguatan tipis.
Di sisi lain, harga nikel dan perak menguat, menopang sentimen positif bagi saham-saham berbasis komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





